Peluh masih mengucur basah. Jantung juga berdetak kencang. Demi mengejar sang waktu, Naila harus berjalan dengan cepat bahkan sedikit berlari untuk menghindari yang namanya ‘telat’.
Hari ini adalah hari kamis. Ada dua mata kuliah yang harus dijalani, yaitu mata kuliah Kalkulus dan mata kuliah praktikum Fisika Dasar I. Setelah mengikuti mata kuliah kalkulus maka dilanjutkan dengan mata kuliah praktikum Fisika Dasar I tanpa jedah. Hal inilah yang terkadang membuat para mahasiswa rela berlari-larian dan berdesak-desakkan menuju ruang laboratorium fisika.
“Alhamdulillah gak telat, masih ada sisa waktu 2 menit lagi,” ucap Naila sambil meletakkan tasnya di loker.
“Iya Nai, padahal aku tadi udah yakin kali kalau kita bakalan telat,” tambah Rina dengan nafas yang tersengal-sengal seraya mengunci loker.
Merekapun beranjak memasuki ruangan dan mengambil posisi duduk di depan meja praktikum yang sudah disediakan di laboratorium.
“Baiklah, semua sudah masuk?” tanya Wahyu yang saat itu menjabat sebagai asisten laboratorium fisika dasar.
“Sudah, Kak” jawab mahasiswa serentak.
“Terima kasih karena hari ini tidak ada yang telat. Seperti biasa, sebelum kita mulai praktikum silahkan cek dulu peralatan yang ada di atas meja masing-masing.” Saran Kak Wahyu sambil menuliskan judul di white board tentang apa yang akan dipraktikumkan.
Semua mahasiswa mulai sibuk memeriksa peralatannya masing-masing. Ada yang memegang alat-alat yang ada di atas meja, ada yang menghitung jumlah peralatan di mejanya, dan ada juga yang sekedar memperhatikan teman disebelahnya mengecek peralatan.
“Kalau sudah diperiksa peralatannya, silahkan mulai dilakukan praktikumnya!” Perintah Kak Wahyu tegas.
Dalam sekejap suasana ruangan ini pun berubah. Masing-masing kelompok sibuk melakukan prakteknya. Suara-suara gemuruh bak lebah pun mulai menyerang di telinga. Dalam tiap-tiap kelompok ada yang membacakan prosedurnya. Dan ada juga yang kurang paham sehingga harus menanyakan kejelasan prosedurnya ke teman satu kelompoknya.
Naila yang saat itu tengah dilanda kebosanan yang menggila tidak mau perduli dengan aktivitas praktikum yang dilakukan oleh teman-temannya. Dan tanpa disengaja ia melihat Kak Wahyu yang sedang menatap layar handphone. Mungkin sedang membaca sebuah SMS yang masuk ke inbox-nya. Muncullah sebuah ide jahil di otaknya.
Naila mencolek pinggang teman yang duduk disebelahnya, “Rin, kita kerjain Kak Wahyu yuk,” bisik Naila di telinganya.
“Kerjaen apa?” tanyanya tak mengerti.
“Kita missedcall nomor Kak Wahyu. Dia kan lagi pegang handphone, pasti seru,” lanjutnya dengan ekspresi sangat antusias.
Sambil tersenyum, Rina pun mengangguk, “Boleh juga tuh, pengen lihat ekspresi kagetnya gimana. Siapa duluan nih yang missedcall?” tanya rina lagi.
“Aku aja ya…” pinta Naila.
“Aku aja lah…” pinta Rina sambil mengambil handphone di sakunya.
“Aku aja dulu, setelah itu baru kamu…” Naila sudah mulai membuka buku telponnya.
“Ya udahlah…” ucap Rina agak sedikit kecewa.
Naila sudah mendapatkan nomor handphone Kak Wahyu. Dengan segera dia meng-oke-kan handphone-nya. Dan panggilan pun sudah mulai diproses.
Dengan agak sedikit kaget Kak Wahyu menatap layar handphone-nya yang sedang berdering. Sambil agak menyudut di ruangan depan, Kak Wahyu me-reject panggilan itu. Ia membalikkan badannya dan melangkah menuju meja kedua dari barisan depan. Tentu saja itu adalah meja kelompok Naila.
Naila dan Rina kelabakan. Mereka menyembunyikan handphone-nya di saku jas laboratorium yang mereka kenakan. Dengan wajah-wajah merasa tak berdosa, mereka sok sibuk ikut melakukan praktek.
Kini Kak Wahyu sudah ada berdiri tepat di depan meja mereka yang hanya berjarak 700 cm saja.
“Mana yang namanya Naila Syifa?” tanya Kak Wahyu ketus.
Naila dan Rina terdiam dan saling melihat dengan wajah yang memerah. Sedangkan teman-teman satu kelompok mereka masih terpaku tak mengerti dengan pertanyaan Kak Wahyu itu.
“Saya ulangi, siapa yang merasa namanya Naila Syifa?” tanyanya kembali. Kali ini dengan nada yang lebih keras.
Mereka semua masih terdiam tanpa ada satupun yang membuka mulutnya untuk bersuara.
Karena tak juga mendapatkan jawaban, Kak Wahyu meninggalkan meja tersebut dan melangkah kedepan kelas sambil meraih sebuah buku kecil di mejanya. Ups… ternyata itu adalah sebuah absen.
Naila semakin jantungan. Wajahnya memerah seperti buah delima. Kakinya mulai menggeletar seperti kedinginan. Keringat jagung juga mulai mengucur di sekujur tubuhnya. Ya Allah… mengapa dia bisa tau kalu itu nomor handphone-ku? Gumamnya dalam hati.
“Agung Laksmana,” ternyata absen sudah mulai dibacakan.
“Hadir, Kak” jawab Agung.
“Cici Puspita Sari,” urutan absen sudah mulai merambah ke huruf C.
“Saya, Kak” Jawab Cici sambil mengacungkan tangannya.
Satu per satu nama mahasiswa pun disebut oleh Kak Wahyu. Naila semakin menggeletar hebat. Iya hanya menunduk sambil meremas-remas jemarinya kuat-kuat.
“Gawat Nai, Kak Wahyu benar-benar penasaran,” bisik Rina di telinganya.
Naila masih terdiam menunggu detik-detik namanya disebut. Teman-teman satu kelompoknya juga masih bertanya-tanya tentang apa yang tengah terjadi.
“Naila Syifa,” panggil Kak Wahyu dengan keras.
Tak ada pilihan lain. Mau tak mau Naila harus mengacungkan tangannya. Dari pada aku dibuat absen, lebih baik aku ketangkap basah aja dech…. Pikirnya dalam hati.
Dengan mengumpulkan sejuta keberanian dan dengan membunuh rasa malu yang menghujam. Naila nekat mengacungkan tangannya walau dengan perasaan yang sangat kacau balau.
“Ha…ha…ha…hadir, Kak” ucapnya terbata-bata.
Kak Wahyu menatapnya tajam. Dan sesaat kemudian, ia melanjutkan basennya.
*********
Selesai praktikum, dalam perjalanan pulang.
“Apa yang terjadi dengan kalian tadi di ruangan?” tanya Tari, teman satu kelompok parktikum Naila.
Tanpa diminta, Rina sudah nyerocos panjang lebar menerangkan peristiwa yang baru terjadi sambil diiringi gelak tawa yang menghebohkan.
“Udah aku bilang tadi, Tar…biar aku aja duluan yang missedcall, eh dianya gak mau. Ya azablah..hehehe….” Cetus Rina yang dari tadi belum berhenti ketawa.
“Tar…kok Kak Wahyu bisa tau kalau itu nomor aku ya? Padahal aku gak pernah ngasih tau nomor ke dia.” Tanya Naila penasaran.
Tari tersenyum melebar.
“Ya ampun… kalian lupa ya? Kak Wahyu itu ketua LDK Al-Harokah. Pastilah semua nomor kalian disimpan di handphone-nya supaya bisa terkoordinir semua anggota LDK Al-Harokah.”
Serta-merta Naila menghentikan langkahnya. Dengan sangat terkejut iya membesarkan kedua bola matanya.
“Astagfirullahal’adzhim, aku kan baru kemarin tercatat sebagai anggota LDK?” tanya Naila masih tak percaya.
“Iya, tapi sudah menjadi keharusan ketua untuk menyimpan semua nomor handphone anggotanya. Untuk mempermudah komunikasi jika ada hal-hal yang akan disampaikan.” Jelas Tari sambil tersenyum.
Ya Allah… inilah akibat kejahilanku. Harusnya aku bisa menrubah diriku lebih baik. Lagian tujuan awal aku bergabung di LDK ini adalah untuk membuat diriku lebih baik lagi. Tapi mengapa aku malah berani menjahili ketua LDK-ku sendiri ya? Astagfirullahaladzhim..ampuni khilaf hamba-Mu ini ya Rabb….
Langit berwarna biru. Dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih yang begitu menawan. Angin masih setia menhembuskan kesejukannya. Setidaknya mampu sedikit memadamkan panasnya gelora rasa malu dan bersalahku atas peristiwa yang baru aku alami. Torehan Laboratorium di Hari Kamis….
*Senin malam, 21 Februari 2011
Ketika jenuh dengan seabrek tugas kuliah.
Mohon kritikan dan sarannya ya sahabat…supaya kedepannya bisa lebih baik. Terimakasih ^_^
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
PEJUANG GARIS 2: Operasi Kista Endometriosis
Setelah 4 dokter Obgyn memvonis ada kista endometriosis di sebelah kanan dan kiri, maka berbagai usaha dan upaya saya lakukan. Beberapa bula...
-
1. PENDAHULUAN Pembelajaran di Indonesia selama ini masih banyak menggunakan metode konvensional, yaitu metode pembelajaran yang b...
-
Jika anda mengalami kesulitan mempelajari fisika, ada kemungkinan itu tidak mutlak merupakan “kesalahan” anda. Sistem pengajaran fisika kita...
Follow Back y Ukhti..
BalasHapusjangan lupa follow balek...
BalasHapus