Rabu, 19 Desember 2012

Contoh Literatur Rivew: MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA DENGAN METODE EKSPERIMEN





1.   PENDAHULUAN
Pembelajaran di Indonesia selama ini masih banyak menggunakan metode konvensional, yaitu metode pembelajaran yang berupa ceramah (teacher centered),  dimana pendidik berperan aktif sedangkan peserta didik cenderung pasif (Nugroho, 2010). Begitu juga dalam pembelajaran fisika, kebanyakan guru menyampaikan materi dominan bersifat kuantitatif serta tanpa melibatkan siswa untuk aktif selama proses pembelajaran. Akibatnya, siswa menjadi bosan karena menganggap fisika hanya kumpulan rumus yang aplikasinya tidak jelas.

Laboratorium  sekolah juga jarang digunakan. Padahal, peralatannya mulai merata  hampir ke seluruh pelosok daerah. Karena guru sudah merasa nyaman dengan metode  konvensionalnya, menyebabkan banyaknya peralatan yang tidak dimanfaatkan sehingga siswa kurang mengenal alat-alat praktikum fisika.

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu di beberapa sekolah (Yogyakarta, Surakarta, Riau dan Lampung), pembelajaran fisika juga belum bersumber pada upaya melibatkan siswa dengan gejala alam yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari, sehingga siswa tidak memahami konsep karena tidak ada bukti yang konkret dan berakibat pada rendahnya nilai rata-rata fisika.
Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang kian maju, pembelajaran sains sangat berperan dalam menunjang perkembangannya. Karena ilmu sains merupakan pondasi dasar untuk menciptakan inovasi baru dalam dunia teknologi. Konsep yang baik dan benar adalah salah satu cara untuk merangsang  kreativitas siswa. Hal ini hanya akan tercapai jika pembelajaran fisika di sekolah berjalan secara ideal.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu dikembangkan suatu tindakan yang mampu meningkatkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan metode eksperimen. Dengan metode ini, interaksi siswa dan guru akan semakin aktif karena siswa dilibatkan dalam praktikum tentang materi yang tengah diajarkan. Lewat eksperimen yang dilakukan, siswa akan lebih mengenal fakta serta pemahaman yang lebih utuh sehingga dapat merangsang peningkatan ketrampilan, kreativitas dan semangat dalam belajar.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar fisika siswa dengan menggunakan metode eksperimen.



2.   METODE
2.1 Metode Eksperimen dalam Pembelajaran
Makna empiris dari konsep menjadi perhatian yang sangat penting. Beberapa konsep dan hukum dalam fisika hendaknya dibuktikan untuk lebih meyakinkan kebenarannya. Eksperimen merupakan wadah dalam pembuktian fenomena fisika dari teori dan konsep yang sudah ada (Hanson, 1958).
Dalam ranah pendidikan, metode eksperimen merupakan suatu metode mengajar dimana siswa melakukan percobaan tentang suatu hal yaitu dengan merancang suatu eksperimen, melakukan eksperimen serta menuliskan hasil pengamatannya. Dari hasil pengamatan yang dilakukan, siswa akan memperoleh data serta temuan baru yang harus dianalisa dan disusun dalam bentuk laporan (Anggraini, 2010).
Dalam penerapannya, guru berperan sebagai fasilitator yang menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS) serta mendampingi siswa pada saat proses kegiatan eksperimen. Guru memantau dan meluruskan jika ada kesalahan atau penyimpangan prosedur pada saat praktikum. Dengan demikian, proses pembelajaran ini akan sangat terorganisir dan komunikatif.
Tujuan metode eksperimen dalam pembelajaran antara lain : (1) membandingkan teori dan kenyataan, (2) menguji kebenaran hukum fisika, (3) visualisasi fenomena fisika, (4) membangun common sense fisika, (5) mendapatkan rasa fisika, (6) mereplikasi ketetapan-ketetapan fisika (Slameto, 1995).
2.2 Sikap Ilmiah
Beberapa sikap ilmiah yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah dan ditemukan pada proses pembelajaran yang menggunakan metode eksperimen, antara lain:
1)    Sikap ingin tahu : apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya,maka ia beruasaha mengetahuinya, senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiwa, kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah, memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
2)    Sikap kritis : Tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti – bukti pada waktu menarik kesimpulan, tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh orang lain dan bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan buktibukti yang kuat.
3)    Sikap obyektif : Melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri. Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek.
4)    Sikap ingin menemukan : Selalu memberikan saransaran untuk eksprimen baru, kebiasaan menggunakan eksprimeneksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif, serta memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya.
5)    Sikap menghargai karya orang lain: Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya serta menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
6)    Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan, tidak akan berhenti melakukan kegiatankegiatan apabila belum selesai, dan terhadap halhal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
7)    Sikap terbuka: Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang diketahuinya serta terbuka menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapatnya (Brotowidjoyo, 1985).

2.3   Cara Pengambilan Data dari Beberapa Penelitian
Ada beberapa data yang akan dikemukakan dalam paper ini. Data ini diambil dari tiga peneliti terdahulu yang langsung menerapkan metode pembelajaran eksperimen di sekolah. Adapun cara pengambilan data dari masing-masing peneliti adalah sebagai berikut:
2.3.1      Penelitian I
Data penelitian pertama yang  ditulis pada paper ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmadi Ruslan Hani. Penelitian ini dilakukan di SMA Pembangunan III Ponjong Gunung Kidul Yogyakarta pada Tahun Ajaran 2009/2010. Materi fisika yang diajarkan pada saat penerapan metode eksperimen adalah tentang gerak, gaya dan energi pada kelas X.
Dalam proses pengambilan datanya, peneliti mengambil dua kelas yang berbeda untuk dibandingkan. Pemilihan kelas ini dilakukan secara acak. Kelas A diberi perlakuan pembelajaran fisika berbasis eksperimen, sedangkan kelas B diberi perlakuan pembelajaran dengan metode konvensional. Pada kelas A anggotanya dibagi menjadi kelompok-kelompok (terdiri tiga sampai empat siswa). Masing-masing kelompok menempuh delapan judul eksperimen yang terdiri dari materi gerak, gaya, dan energi. Sedangkan pada kelas B diberi perlakuan pembelajaran dengan metode konvensional dengan materi yang sama. Setelah semua kegiatan belajar mengajar selesai dilakukan, selanjutnya dilakukan tes dengan soal yang sama. Tes ini dimaksudkan untuk memperoleh data pemahaman konsep siswa.
Penelitian ini ada tiga variabel, yaitu : (1) variabel terikat : pemahaman konsep, (2) variable bebas : metode pembelajaran, (3) variabel penguat : (a) kemampuan berhitung, dan (b) kemampuan mekanik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes penalaran tentang konsep-konsep gerak, gaya dan energi, yang terdiri dari 25 soal. Tipe soal pilihan ganda dengan empat alternatif jawaban yang disertai dengan soal isian alasan terhadap jawaban yang dipilih.
2.3.2  Penelitian II
Data kedua yang  ditulis pada paper ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Nuril Maulida Fauziah. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010 di MAN Tlogo Blitar. Penelitian ini dilaksanakan selama selama 6 bulan yaitu dari bulan Januari 2010 hingga bulan Juni 2010. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas Xb dan Xg yang berjumlah 80 orang. Teknik dan instrument pengumpulan data ini diambil dengan menggunakan kuesioner dan wawancara kepada siswa mengenai kegiatan pembelajaran fisika dengan metode eksperimen yang telah dilakukan. Analisis data yang dilakukan bersifat deskriptif dan kuantatif.
2.3.3  Penelitian III
Data penelitian terakhir yang  digunakan dalam paper ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Damriani di kelas XII IPA-5 SMA Negeri 3, Bandar Lampung pada bahasan pokok Listrik-magent. Penelitian ini berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 3 siklus. Pengambilan data ini dilakukan pada setiap akhir dari masing-masing siklus. Adapun rincian data yang diambil pada setiap siklus adalah: (1) Data refleksi, diambil dengan menggunakan catatan observasi pada saat pembelajaran dengan ketrampilan proses. (2) Data aktivitas siswa, diambil pada saat siswa melakukan kegiatan praktikum berdasarkan LKS. Data aktivitas dimunculkan dengan on task (kegiatan siswa yang sesuai dengan pembelajaran) dan off task (kegiatan siswa yang tidak sesuai dengan pembelajaran). (3) Data hasil belajar siswa, dilakukan dengan uji blok sebanyak 3 kali sesuai dengan jumlah siklus yang dilaksanakan.



2.4 Data dan Hasil Penelitian
Di bawah ini adalah tabel data dan hasil penelitian yang diperoleh dari beberapa peneliti di atas.  Masing-masing peneliti memiliki fokus dan tujuan yang berbeda-beda dalam menerapkan metode pembelajaran eksperimen sehingga memiliki hasil akhir yang berlainan. Adapun data dan hasil penelitiannya adalah sebagai berikut:
2.4.1 Penelitian I
Tabel 1. Rekapitulasi data hasil uji deskriptif
No
Metode Pembelajaran yang Digunakan
Nilai Rata-rata Kelas
Berhitung
Mekanik
Konsep
1
Metode Konvensional
53,66
57,69
15,48
2
Metode Eksperimen
54,86
53,28
28,48
 Sumber: Hani, 2011
Table 1. di atas menunjukkan bahwa perbedaan skor kemampuan berhitung dan kemampuan mekanik antara kelas A (metode eksperimen) dengan kelas B (metode konvensional) tidak terlalu tinggi, namun pada skor rata-rata pemahaman konsep kelas A  jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas B. Dari hasil tersebut dapat diperoleh informasi bahwa peningkatan pemahaman konsep fisika yang dicapai siswa dapat diprediksikan akibat perlakuan yang diberikan, yaitu karena penerapan metode pembelajaran eksperimen.
2.4.2 Penelitian II
Table 2. Data Perilaku Berkarakter Siswa
No
Karakter bersifat ilmiah
Jumlah persentase jawaban
1
Bersikap kritis
69%
2
Bersikap tabah dan ulet
73,2%
3
Sangat menghargai waktu
60%
4
Sikap sadar lingkungan
77, 5%
 Sumber: Fauziah, 2010
Table 2. di atas menunjukkan beberapa karakter yang muncul setelah diterapkannya metode pembelajaran eksperimen. Mengacu dari teori sebelumnya mengenai sikap ilmiah,  maka pada hasil penelitian ini terdapat beberapa indicator sikap ilmiah yaitu sikap sadar lingkungan, sikap tabah dan ulet, sikap kritis, dan sikap sangat menghargai waktu. Indikator tersebut merupakan sikap ilmiah yang muncul pada siswa ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran fisika dengan metode eksperimen.


2.4.3 Penelitian III
Table 3. Data Rata-rata Nilai dan Aktivitas Siswa
Siklus dalam penelitian
Persentase Aktivitas Siswa
Rata-rata nilai siswa
Off task
On task
Siklus 1
61%
43,3%
56,82
Siklus 2
3,7%
55,8%
68,77
Siklus 3
1,2%
68,3%
74,40
   Sumber: Damriani, 2008
Pada Table 3. di atas menunjukkan bahwa ada peningkatan pada aktivitas on task dan nilai rata-rata siswa pada setiap siklus, sedangkan untuk aktivitas off task selalu mengalami penurunan. Hal ini memberikan informasi bahwa penerapan metode pembelajaran eksperimen dapat memicu semangat dan motivasi siswa sehingga terjadi peningkatan aktivitas dan nilai rata-rata fisika siswa.

3.   PEMBAHASAN
Dari seluruh data hasil penelitian yang telah dipaparkan, terlihat bahwa ada peningkatan dalam segala aspek belajar ketika menerapkan metode pembelajaran eksperimen. Pada table 1, pemahaman konsep pada kelas A (menggunakan metode eksperimen) lebih baik dari kelas B (menggunakan metode konvensional), yaitu 28,48. Dengan melihat konsep dari hukum dan definisi fisika yang kemudian dibuktikan lewat praktikum, siswa dapat mencari hubungan serta factor-faktor yang mempengaruhi dari materi fisika yang sedang dipraktikumkan. Oleh karena itu, pemahaman konsep siswa semakin baik dan pembelajaran menjadi hal yang sangat menyenangkan.
Pada table 2 terlihat munculnya beberapa sikap ilmiah rata-rata di atas 60%. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter sikap ilmiah dapat dilakukan dengan menerapkan metode eksperimen dalam proses pembelajaran.
Pada table 3 terjadi kenaikan aktivitas on task di setiap siklusnya. Di sini interaksi antara guru dan siswa semakin komunikatif. Guru berperan sebagai fasilitator dan mediator sehingga siswa lebih leluasa bertanya ketika ada ketidakpahaman dalam prosedur dan mekanisme praktikum. Siswa menjadi lebih mandiri dalam menggali segala pengetahuan serta kreativitasnya, sebab mereka diberikan kebebasan dalam mengapresiasikan kemampuan dan daya pikirnya dalam mengembangkan pengetahuan terkait materi fisika yang tengah dipraktikumkan. Maka dari itu  nilai ketuntasan (KKM) fisika dapat tercapai dengan nilai rata-rata akhir di atas 70.
 Dalam penerapannya, metode pembelajaran eksperimen ini dilaksanakan di dalam laboratorium sehingga siswa menjadi terbiasa menggunakan dan mengoperasikan peralatan yang ada. Oleh karena itu pemanfaatan laboratorium sudah dapat dimaksimalkan.
Berdasarkan pemaparan di atas, diketahui bahwa metode eksperimen memang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Oleh karenanya, metode pembelajaran eksperimen perlu dikembangkan.
4.   KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan metode eksperimen dalam pembelajaran fisika dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa serta pemanfaatan laboratorium sehingga siswa dapat menggunakan peralatan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEJUANG GARIS 2: Operasi Kista Endometriosis

Setelah 4 dokter Obgyn memvonis ada kista endometriosis di sebelah kanan dan kiri, maka berbagai usaha dan upaya saya lakukan. Beberapa bula...