1. PENDAHULUAN
Pembelajaran di Indonesia selama ini masih banyak
menggunakan metode konvensional, yaitu metode pembelajaran yang berupa ceramah (teacher
centered), dimana pendidik berperan
aktif sedangkan peserta didik cenderung pasif (Nugroho, 2010). Begitu juga
dalam pembelajaran fisika, kebanyakan guru
menyampaikan materi dominan bersifat kuantitatif serta tanpa melibatkan siswa
untuk aktif selama proses pembelajaran. Akibatnya, siswa menjadi bosan karena
menganggap fisika hanya kumpulan rumus yang aplikasinya tidak jelas.
Laboratorium sekolah juga jarang digunakan. Padahal, peralatannya
mulai merata hampir ke seluruh pelosok
daerah. Karena guru sudah merasa nyaman dengan metode konvensionalnya, menyebabkan banyaknya peralatan
yang tidak dimanfaatkan sehingga siswa kurang mengenal alat-alat praktikum
fisika.
Berdasarkan
observasi yang dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu di beberapa sekolah
(Yogyakarta, Surakarta, Riau dan Lampung), pembelajaran fisika juga belum
bersumber pada upaya melibatkan siswa dengan gejala alam yang berkaitan dengan
materi yang sedang dipelajari, sehingga siswa tidak memahami konsep karena
tidak ada bukti yang konkret dan berakibat pada rendahnya nilai rata-rata fisika.
Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK) yang kian maju, pembelajaran sains sangat berperan dalam menunjang
perkembangannya. Karena ilmu sains merupakan pondasi dasar untuk menciptakan
inovasi baru dalam dunia teknologi. Konsep yang baik dan benar adalah salah
satu cara untuk merangsang kreativitas
siswa. Hal ini hanya akan tercapai jika pembelajaran fisika di sekolah berjalan
secara ideal.
Berdasarkan
permasalahan di atas, maka perlu dikembangkan suatu tindakan yang mampu
meningkatkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan
dengan menerapkan metode eksperimen. Dengan metode ini, interaksi siswa dan
guru akan semakin aktif karena siswa dilibatkan dalam praktikum tentang materi
yang tengah diajarkan. Lewat eksperimen yang dilakukan, siswa akan lebih
mengenal fakta serta pemahaman yang lebih utuh sehingga dapat merangsang
peningkatan ketrampilan, kreativitas dan semangat dalam belajar.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk
mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar fisika siswa dengan
menggunakan metode eksperimen.
2. METODE
2.1
Metode Eksperimen dalam Pembelajaran
Makna
empiris dari konsep menjadi perhatian yang sangat penting. Beberapa konsep dan
hukum dalam fisika hendaknya dibuktikan untuk lebih meyakinkan kebenarannya.
Eksperimen merupakan wadah dalam pembuktian
fenomena fisika dari teori dan konsep yang sudah ada (Hanson, 1958).
Dalam
ranah pendidikan, metode eksperimen merupakan suatu metode mengajar dimana
siswa melakukan percobaan tentang suatu hal yaitu dengan merancang suatu
eksperimen, melakukan eksperimen serta menuliskan hasil pengamatannya. Dari hasil
pengamatan yang dilakukan, siswa akan memperoleh data serta temuan baru yang
harus dianalisa dan disusun dalam bentuk laporan (Anggraini, 2010).
Dalam
penerapannya, guru berperan sebagai fasilitator yang menyusun Lembar Kerja
Siswa (LKS) serta mendampingi siswa pada saat proses kegiatan eksperimen. Guru
memantau dan meluruskan jika ada kesalahan atau penyimpangan prosedur pada saat
praktikum. Dengan demikian, proses pembelajaran ini akan sangat terorganisir
dan komunikatif.
Tujuan metode eksperimen dalam pembelajaran antara lain :
(1) membandingkan teori dan kenyataan, (2) menguji kebenaran hukum fisika, (3)
visualisasi fenomena fisika, (4) membangun common sense fisika, (5)
mendapatkan rasa fisika, (6) mereplikasi ketetapan-ketetapan fisika (Slameto,
1995).
2.2 Sikap Ilmiah
Beberapa sikap ilmiah yang biasa
dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah dan
ditemukan pada proses pembelajaran yang menggunakan metode eksperimen, antara
lain:
1) Sikap ingin tahu : apabila menghadapi
suatu masalah yang baru dikenalnya,maka ia beruasaha mengetahuinya, senang
mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiwa, kebiasaan menggunakan alat
indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah, memperlihatkan gairah
dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
2) Sikap kritis : Tidak langsung begitu
saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti
– bukti pada waktu menarik kesimpulan, tidak merasa paling benar yang harus diikuti
oleh orang lain dan bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan bukti‐bukti yang kuat.
3) Sikap obyektif : Melihat sesuatu
sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh
pikirannya sendiri. Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan
menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek.
4) Sikap ingin menemukan : Selalu
memberikan saran‐saran
untuk eksprimen baru, kebiasaan menggunakan eksprimen‐eksprimen dengan cara yang baik dan
konstruktif, serta memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang
dilakukannya.
5) Sikap menghargai karya orang lain:
Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya serta
menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
6) Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan
penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan, tidak akan
berhenti melakukan kegiatan‐kegiatan
apabila belum selesai, dan terhadap hal‐hal
yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
7)
Sikap
terbuka: Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa
yang diketahuinya serta terbuka menerima kritikan dan respon negatif terhadap
pendapatnya (Brotowidjoyo, 1985).
2.3 Cara
Pengambilan Data dari Beberapa Penelitian
Ada beberapa data yang akan dikemukakan dalam paper ini.
Data ini diambil dari tiga peneliti terdahulu yang langsung menerapkan metode
pembelajaran eksperimen di sekolah. Adapun cara pengambilan data dari
masing-masing peneliti adalah sebagai berikut:
2.3.1
Penelitian I
Data penelitian
pertama yang ditulis pada paper ini
adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmadi Ruslan Hani. Penelitian ini
dilakukan di SMA Pembangunan III Ponjong Gunung Kidul Yogyakarta pada Tahun
Ajaran 2009/2010. Materi fisika yang diajarkan pada saat penerapan metode
eksperimen adalah tentang gerak, gaya dan energi pada kelas X.
Dalam
proses pengambilan datanya, peneliti mengambil dua kelas yang berbeda untuk
dibandingkan. Pemilihan kelas ini dilakukan secara acak. Kelas A diberi
perlakuan pembelajaran fisika berbasis eksperimen, sedangkan kelas B diberi
perlakuan pembelajaran dengan metode konvensional. Pada kelas A anggotanya
dibagi menjadi kelompok-kelompok (terdiri tiga sampai empat siswa).
Masing-masing kelompok menempuh delapan judul eksperimen yang terdiri dari
materi gerak, gaya, dan energi. Sedangkan pada kelas B diberi perlakuan
pembelajaran dengan metode konvensional dengan materi yang sama. Setelah semua
kegiatan belajar mengajar selesai dilakukan, selanjutnya dilakukan tes dengan
soal yang sama. Tes ini dimaksudkan untuk memperoleh data pemahaman konsep
siswa.
Penelitian ini ada tiga variabel, yaitu : (1) variabel
terikat : pemahaman konsep, (2) variable bebas : metode pembelajaran, (3)
variabel penguat : (a) kemampuan berhitung, dan (b) kemampuan mekanik.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes penalaran tentang
konsep-konsep gerak, gaya dan energi, yang terdiri dari 25 soal. Tipe soal
pilihan ganda dengan empat alternatif jawaban yang disertai dengan soal isian
alasan terhadap jawaban yang dipilih.
2.3.2 Penelitian
II
Data kedua yang
ditulis pada paper ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Nuril
Maulida Fauziah. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun pelajaran
2009/2010 di MAN Tlogo Blitar. Penelitian ini dilaksanakan selama selama 6
bulan yaitu dari bulan Januari 2010 hingga bulan Juni 2010. Subjek penelitian
ini adalah siswa kelas Xb dan Xg yang berjumlah 80 orang.
Teknik dan instrument pengumpulan data ini diambil dengan menggunakan kuesioner
dan wawancara kepada siswa mengenai kegiatan pembelajaran fisika dengan metode
eksperimen yang telah dilakukan. Analisis data yang dilakukan bersifat
deskriptif dan kuantatif.
2.3.3 Penelitian
III
Data penelitian terakhir yang digunakan dalam paper ini adalah hasil penelitian
yang dilakukan oleh Damriani di kelas XII IPA-5 SMA Negeri 3, Bandar Lampung
pada bahasan pokok Listrik-magent. Penelitian ini berupa Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) dengan 3 siklus. Pengambilan data ini dilakukan pada setiap akhir
dari masing-masing siklus. Adapun rincian data yang diambil pada setiap siklus
adalah: (1) Data refleksi, diambil dengan menggunakan catatan observasi pada
saat pembelajaran dengan ketrampilan proses. (2) Data aktivitas siswa, diambil
pada saat siswa melakukan kegiatan praktikum berdasarkan LKS. Data aktivitas
dimunculkan dengan on task (kegiatan
siswa yang sesuai dengan pembelajaran) dan off
task (kegiatan siswa yang tidak sesuai dengan pembelajaran). (3) Data hasil
belajar siswa, dilakukan dengan uji blok sebanyak 3 kali sesuai dengan jumlah
siklus yang dilaksanakan.
2.4
Data dan Hasil Penelitian
Di
bawah ini adalah tabel data dan hasil penelitian yang diperoleh dari beberapa
peneliti di atas. Masing-masing peneliti
memiliki fokus dan tujuan yang berbeda-beda dalam menerapkan metode
pembelajaran eksperimen sehingga memiliki hasil akhir yang berlainan. Adapun
data dan hasil penelitiannya adalah sebagai berikut:
2.4.1 Penelitian I
Tabel
1. Rekapitulasi data
hasil uji deskriptif
|
No
|
Metode Pembelajaran yang
Digunakan
|
Nilai Rata-rata Kelas
|
||
|
Berhitung
|
Mekanik
|
Konsep
|
||
|
1
|
Metode Konvensional
|
53,66
|
57,69
|
15,48
|
|
2
|
Metode Eksperimen
|
54,86
|
53,28
|
28,48
|
Sumber: Hani, 2011
Table 1. di atas menunjukkan bahwa perbedaan skor
kemampuan berhitung dan kemampuan mekanik antara kelas A (metode eksperimen)
dengan kelas B (metode konvensional) tidak terlalu tinggi, namun pada skor
rata-rata pemahaman konsep kelas A jauh
lebih tinggi dibandingkan dengan kelas B. Dari hasil tersebut dapat diperoleh
informasi bahwa peningkatan pemahaman konsep fisika yang dicapai siswa dapat
diprediksikan akibat perlakuan yang diberikan, yaitu karena penerapan metode
pembelajaran eksperimen.
2.4.2 Penelitian II
Table 2. Data Perilaku Berkarakter Siswa
|
No
|
Karakter bersifat ilmiah
|
Jumlah persentase
jawaban
|
|
1
|
Bersikap kritis
|
69%
|
|
2
|
Bersikap tabah dan ulet
|
73,2%
|
|
3
|
Sangat menghargai waktu
|
60%
|
|
4
|
Sikap sadar lingkungan
|
77, 5%
|
Sumber: Fauziah,
2010
Table 2. di atas menunjukkan beberapa karakter yang
muncul setelah diterapkannya metode pembelajaran eksperimen. Mengacu dari teori
sebelumnya mengenai sikap ilmiah, maka
pada hasil penelitian ini terdapat beberapa indicator sikap ilmiah yaitu sikap
sadar lingkungan, sikap tabah dan ulet, sikap kritis, dan sikap sangat
menghargai waktu. Indikator tersebut merupakan sikap ilmiah yang muncul pada
siswa ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran fisika dengan metode
eksperimen.
2.4.3 Penelitian III
Table
3. Data Rata-rata
Nilai dan Aktivitas Siswa
|
Siklus dalam penelitian
|
Persentase Aktivitas
Siswa
|
Rata-rata nilai siswa
|
|
|
Off
task
|
On
task
|
||
|
Siklus 1
|
61%
|
43,3%
|
56,82
|
|
Siklus 2
|
3,7%
|
55,8%
|
68,77
|
|
Siklus 3
|
1,2%
|
68,3%
|
74,40
|
Sumber:
Damriani, 2008
Pada Table 3. di atas menunjukkan
bahwa ada peningkatan pada aktivitas on
task dan nilai rata-rata siswa pada setiap siklus, sedangkan untuk aktivitas
off task selalu mengalami penurunan.
Hal ini memberikan informasi bahwa penerapan metode pembelajaran eksperimen
dapat memicu semangat dan motivasi siswa sehingga terjadi peningkatan aktivitas
dan nilai rata-rata fisika siswa.
3. PEMBAHASAN
Dari
seluruh data hasil penelitian yang telah dipaparkan, terlihat bahwa ada
peningkatan dalam segala aspek belajar ketika menerapkan metode pembelajaran
eksperimen. Pada table 1, pemahaman konsep pada kelas A (menggunakan metode
eksperimen) lebih baik dari kelas B (menggunakan metode konvensional), yaitu 28,48.
Dengan melihat konsep dari hukum dan definisi fisika yang kemudian dibuktikan
lewat praktikum, siswa dapat mencari hubungan serta factor-faktor yang
mempengaruhi dari materi fisika yang sedang dipraktikumkan. Oleh karena itu,
pemahaman konsep siswa semakin baik dan pembelajaran menjadi hal yang sangat
menyenangkan.
Pada
table 2 terlihat munculnya beberapa sikap ilmiah rata-rata di atas 60%. Hal ini
menunjukkan bahwa pembentukan karakter sikap ilmiah dapat dilakukan dengan
menerapkan metode eksperimen dalam proses pembelajaran.
Pada
table 3 terjadi kenaikan aktivitas on
task di setiap siklusnya. Di sini interaksi antara guru dan siswa semakin
komunikatif. Guru berperan sebagai fasilitator dan mediator sehingga siswa
lebih leluasa bertanya ketika ada ketidakpahaman dalam prosedur dan mekanisme
praktikum. Siswa menjadi lebih mandiri dalam menggali segala pengetahuan serta
kreativitasnya, sebab mereka diberikan kebebasan dalam mengapresiasikan
kemampuan dan daya pikirnya dalam mengembangkan pengetahuan terkait materi
fisika yang tengah dipraktikumkan. Maka dari itu nilai ketuntasan (KKM) fisika dapat tercapai
dengan nilai rata-rata akhir di atas 70.
Dalam penerapannya, metode pembelajaran eksperimen
ini dilaksanakan di dalam laboratorium sehingga siswa menjadi terbiasa
menggunakan dan mengoperasikan peralatan yang ada. Oleh karena itu pemanfaatan laboratorium
sudah dapat dimaksimalkan.
Berdasarkan pemaparan di atas, diketahui bahwa metode
eksperimen memang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Oleh
karenanya, metode pembelajaran eksperimen perlu dikembangkan.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah
diuraikan, dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan metode eksperimen dalam
pembelajaran fisika dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa serta
pemanfaatan laboratorium sehingga siswa dapat menggunakan peralatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar