Peluh masih mengucur basah. Jantung juga berdetak kencang. Demi mengejar sang waktu, Naila harus berjalan dengan cepat bahkan sedikit berlari untuk menghindari yang namanya ‘telat’.
Hari ini adalah hari kamis. Ada dua mata kuliah yang harus dijalani, yaitu mata kuliah Kalkulus dan mata kuliah praktikum Fisika Dasar I. Setelah mengikuti mata kuliah kalkulus maka dilanjutkan dengan mata kuliah praktikum Fisika Dasar I tanpa jedah. Hal inilah yang terkadang membuat para mahasiswa rela berlari-larian dan berdesak-desakkan menuju ruang laboratorium fisika.
“Alhamdulillah gak telat, masih ada sisa waktu 2 menit lagi,” ucap Naila sambil meletakkan tasnya di loker.
“Iya Nai, padahal aku tadi udah yakin kali kalau kita bakalan telat,” tambah Rina dengan nafas yang tersengal-sengal seraya mengunci loker.
Merekapun beranjak memasuki ruangan dan mengambil posisi duduk di depan meja praktikum yang sudah disediakan di laboratorium.
“Baiklah, semua sudah masuk?” tanya Wahyu yang saat itu menjabat sebagai asisten laboratorium fisika dasar.
“Sudah, Kak” jawab mahasiswa serentak.
“Terima kasih karena hari ini tidak ada yang telat. Seperti biasa, sebelum kita mulai praktikum silahkan cek dulu peralatan yang ada di atas meja masing-masing.” Saran Kak Wahyu sambil menuliskan judul di white board tentang apa yang akan dipraktikumkan.
Semua mahasiswa mulai sibuk memeriksa peralatannya masing-masing. Ada yang memegang alat-alat yang ada di atas meja, ada yang menghitung jumlah peralatan di mejanya, dan ada juga yang sekedar memperhatikan teman disebelahnya mengecek peralatan.
“Kalau sudah diperiksa peralatannya, silahkan mulai dilakukan praktikumnya!” Perintah Kak Wahyu tegas.
Dalam sekejap suasana ruangan ini pun berubah. Masing-masing kelompok sibuk melakukan prakteknya. Suara-suara gemuruh bak lebah pun mulai menyerang di telinga. Dalam tiap-tiap kelompok ada yang membacakan prosedurnya. Dan ada juga yang kurang paham sehingga harus menanyakan kejelasan prosedurnya ke teman satu kelompoknya.
Naila yang saat itu tengah dilanda kebosanan yang menggila tidak mau perduli dengan aktivitas praktikum yang dilakukan oleh teman-temannya. Dan tanpa disengaja ia melihat Kak Wahyu yang sedang menatap layar handphone. Mungkin sedang membaca sebuah SMS yang masuk ke inbox-nya. Muncullah sebuah ide jahil di otaknya.
Naila mencolek pinggang teman yang duduk disebelahnya, “Rin, kita kerjain Kak Wahyu yuk,” bisik Naila di telinganya.
“Kerjaen apa?” tanyanya tak mengerti.
“Kita missedcall nomor Kak Wahyu. Dia kan lagi pegang handphone, pasti seru,” lanjutnya dengan ekspresi sangat antusias.
Sambil tersenyum, Rina pun mengangguk, “Boleh juga tuh, pengen lihat ekspresi kagetnya gimana. Siapa duluan nih yang missedcall?” tanya rina lagi.
“Aku aja ya…” pinta Naila.
“Aku aja lah…” pinta Rina sambil mengambil handphone di sakunya.
“Aku aja dulu, setelah itu baru kamu…” Naila sudah mulai membuka buku telponnya.
“Ya udahlah…” ucap Rina agak sedikit kecewa.
Naila sudah mendapatkan nomor handphone Kak Wahyu. Dengan segera dia meng-oke-kan handphone-nya. Dan panggilan pun sudah mulai diproses.
Dengan agak sedikit kaget Kak Wahyu menatap layar handphone-nya yang sedang berdering. Sambil agak menyudut di ruangan depan, Kak Wahyu me-reject panggilan itu. Ia membalikkan badannya dan melangkah menuju meja kedua dari barisan depan. Tentu saja itu adalah meja kelompok Naila.
Naila dan Rina kelabakan. Mereka menyembunyikan handphone-nya di saku jas laboratorium yang mereka kenakan. Dengan wajah-wajah merasa tak berdosa, mereka sok sibuk ikut melakukan praktek.
Kini Kak Wahyu sudah ada berdiri tepat di depan meja mereka yang hanya berjarak 700 cm saja.
“Mana yang namanya Naila Syifa?” tanya Kak Wahyu ketus.
Naila dan Rina terdiam dan saling melihat dengan wajah yang memerah. Sedangkan teman-teman satu kelompok mereka masih terpaku tak mengerti dengan pertanyaan Kak Wahyu itu.
“Saya ulangi, siapa yang merasa namanya Naila Syifa?” tanyanya kembali. Kali ini dengan nada yang lebih keras.
Mereka semua masih terdiam tanpa ada satupun yang membuka mulutnya untuk bersuara.
Karena tak juga mendapatkan jawaban, Kak Wahyu meninggalkan meja tersebut dan melangkah kedepan kelas sambil meraih sebuah buku kecil di mejanya. Ups… ternyata itu adalah sebuah absen.
Naila semakin jantungan. Wajahnya memerah seperti buah delima. Kakinya mulai menggeletar seperti kedinginan. Keringat jagung juga mulai mengucur di sekujur tubuhnya. Ya Allah… mengapa dia bisa tau kalu itu nomor handphone-ku? Gumamnya dalam hati.
“Agung Laksmana,” ternyata absen sudah mulai dibacakan.
“Hadir, Kak” jawab Agung.
“Cici Puspita Sari,” urutan absen sudah mulai merambah ke huruf C.
“Saya, Kak” Jawab Cici sambil mengacungkan tangannya.
Satu per satu nama mahasiswa pun disebut oleh Kak Wahyu. Naila semakin menggeletar hebat. Iya hanya menunduk sambil meremas-remas jemarinya kuat-kuat.
“Gawat Nai, Kak Wahyu benar-benar penasaran,” bisik Rina di telinganya.
Naila masih terdiam menunggu detik-detik namanya disebut. Teman-teman satu kelompoknya juga masih bertanya-tanya tentang apa yang tengah terjadi.
“Naila Syifa,” panggil Kak Wahyu dengan keras.
Tak ada pilihan lain. Mau tak mau Naila harus mengacungkan tangannya. Dari pada aku dibuat absen, lebih baik aku ketangkap basah aja dech…. Pikirnya dalam hati.
Dengan mengumpulkan sejuta keberanian dan dengan membunuh rasa malu yang menghujam. Naila nekat mengacungkan tangannya walau dengan perasaan yang sangat kacau balau.
“Ha…ha…ha…hadir, Kak” ucapnya terbata-bata.
Kak Wahyu menatapnya tajam. Dan sesaat kemudian, ia melanjutkan basennya.
*********
Selesai praktikum, dalam perjalanan pulang.
“Apa yang terjadi dengan kalian tadi di ruangan?” tanya Tari, teman satu kelompok parktikum Naila.
Tanpa diminta, Rina sudah nyerocos panjang lebar menerangkan peristiwa yang baru terjadi sambil diiringi gelak tawa yang menghebohkan.
“Udah aku bilang tadi, Tar…biar aku aja duluan yang missedcall, eh dianya gak mau. Ya azablah..hehehe….” Cetus Rina yang dari tadi belum berhenti ketawa.
“Tar…kok Kak Wahyu bisa tau kalau itu nomor aku ya? Padahal aku gak pernah ngasih tau nomor ke dia.” Tanya Naila penasaran.
Tari tersenyum melebar.
“Ya ampun… kalian lupa ya? Kak Wahyu itu ketua LDK Al-Harokah. Pastilah semua nomor kalian disimpan di handphone-nya supaya bisa terkoordinir semua anggota LDK Al-Harokah.”
Serta-merta Naila menghentikan langkahnya. Dengan sangat terkejut iya membesarkan kedua bola matanya.
“Astagfirullahal’adzhim, aku kan baru kemarin tercatat sebagai anggota LDK?” tanya Naila masih tak percaya.
“Iya, tapi sudah menjadi keharusan ketua untuk menyimpan semua nomor handphone anggotanya. Untuk mempermudah komunikasi jika ada hal-hal yang akan disampaikan.” Jelas Tari sambil tersenyum.
Ya Allah… inilah akibat kejahilanku. Harusnya aku bisa menrubah diriku lebih baik. Lagian tujuan awal aku bergabung di LDK ini adalah untuk membuat diriku lebih baik lagi. Tapi mengapa aku malah berani menjahili ketua LDK-ku sendiri ya? Astagfirullahaladzhim..ampuni khilaf hamba-Mu ini ya Rabb….
Langit berwarna biru. Dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih yang begitu menawan. Angin masih setia menhembuskan kesejukannya. Setidaknya mampu sedikit memadamkan panasnya gelora rasa malu dan bersalahku atas peristiwa yang baru aku alami. Torehan Laboratorium di Hari Kamis….
*Senin malam, 21 Februari 2011
Ketika jenuh dengan seabrek tugas kuliah.
Mohon kritikan dan sarannya ya sahabat…supaya kedepannya bisa lebih baik. Terimakasih ^_^
Selasa, 22 Februari 2011
Sabtu, 19 Februari 2011
AKIBAT MENUNDA MEMBAYAR HUTANG
Oleh: Niswah Adz-Dzikriyah
Udara pagi ini masih begitu dingin, bahkan titisan embun juga belum beranjak dari lembutnya dedaunan yang menghijau dan matahari mulai mengintip memecahkan gelap yang masih berselimut kabut. Masih dalam kantuk yang begitu berat, kulangkahkan kakiku yang terasa agak kaku menuju kamar mandi sambil sesekali badanku oyong karena belum kuat menopang kestabilan tubuh yang baru terbangun dari tidur nyenyakku. Kuraih sehelai handuk berwarna hijau dari hanger merah di dinding kamarku dan bersiap bertarung dengan dinginnya air yang sebentar lagi akan mengguyur badanku yang masih hangat.
Ah…sudah rapi nih, bisikku dalam hati sambil mengatur jilbabku yang lumayan susah di rapikan karena terbuat dari bahan yang licin. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.35 WIB, ternyata butuh waktu 50 menit untuk mempersiapkan segala sesuatunya ketika akan berangkat kuliah. Kini tiba saatnya aku berangkat kuliah karena hari ini adalah mata kuliah Fisika Kuantum yang sama sekali tidak boleh telat masuk. Tiba-tiba ponselku berdering, ada sebuah pesan singkat yang masuk ke nomorku, perlahan kubuka dan kubaca isi SMS itu “Assalamualaikum, sebelumnya maaf ya din, aku mau minta uangku yang dina pinjam minggu kemarin soalnya aku lagi butuh nih, ada kan?” Huhhh…aku menarik nafas panjang, ternyata SMS dari fitri yang menagih hutang. Kubuka isi dompetku hanya ada dua lembar uang lima puluh ribuan disana, “kalau uang lima puluh ribu ini aku bayarkan, terus nanti malam aku gak bisa beli bakso dong, padahal kan udah janji sama ima mau beli bakso Mas Retno nanti malam” gumamku dalam hati. Kuacuhkan saja SMS itu dan aku melanjutkan langkahku menuju kampus tercinta.
“Din…aku butuh sekali uangnya, aku lagi gak ada uang nih! Banyak keperluan yang harus aku bayar. Tolong ya din nanti di antar” SMS dari fitri terus masuk dalam inbox-ku, bahkan beberapa panggilan muncul di layar handphone ku, untung saja tadi hp-nya aku silent sehingga tidak mengganggu aktivitasku. “Din, handphonenya bergetar tuh, coba angkat mungkin ada hal penting yang mau disampaikan” bisik salah satu teman yang duduk di sebelahku, “Inikan lagi kuliah, gak boleh angkat telpon” jawabku sekenanya. “Alah..Pak Tompul masih menyiapkan bahan, gak akan ketahuan” timpal sahabatku yang duduk di sebelah kananku, “Gak ah…” ketusku sambil menggelengkan kepala. Kuliahpun berlanjut hingga 3 SKS.
Aku dan teman-temanku duduk di sebuah kantin kampus untuk makan siang bersama sebelum waktu dhuhur tiba. Sambil menunggu menu yang dipesan datang, kusempatkan untuk membuka layar hp-ku dan ternyata ada 10 panggilan tak terjawab dan 5 SMS disana dan semua SMS itu dikirim oleh fitri. “Din…balas dong din, aku lagi butuh banget nih, uang kiriman dari orang tuaku belum datang”, SMS pertama telah kubuka dan selanjutnya ku buka SMS yang kedua, “Din…kemarin kan dirimu janji kalo hari ini dina mau bayar hutang, aku lagi butuh din untuk biaya penelitianku”, aku mulai merasa tidak enak hati, lalu kulanjutkan untuk membuka SMS berikutnya, “Dina…kenpa gak dibalas?”, SMS ketiga cukup singkat, “Din angkat telponya?” ternyata SMS keempat dan kelima isinya sama. Aku masih cuek dengan SMS itu dan tidak ada satupun yang aku balas karena aku berpikiran itu hanya taktiknya saja untuk menagih hutang karena aku paham betul siapa Fitri itu, yaitu anak konglomerat yang tidak mungkin kekurangan uang.
Dua minggu yang lalu aku meminjam uang Fitri sebesar lima puluh ribu rupiah. Uang itu aku pinjam karena kebutuhanku yang begitu mendesak karena pada saat itu uang yang ada ditanganku hanya sepuluh ribu rupiah padahal aku harus membayar diktat. Aku berjanji padanya akan segera membayarnya setelah seminggu peminjaman karena aku juga masih menunggu kiriman dari orang tuaku. Tanpa berlama-lama meminta, Fitri langsung meminjamkan uangnya padaku dengan menyetujui janji-janji yang aku ucapkan padanya. Dengan sangat gembira kukatakan terima kasih padanya.
Langit mulai memerah. Matahari sedikit demi sedikit bersembunyi di ufuk barat. Suara-suara mulai berdengung di masjid-masjid menyerukan ayat suci-Nya. Muadzinpun terus menyusul dengan mengumandangkan adzan dengan penuh kebesaran-Nya. Memanggil manusia untuk segera menghadap dan bersujud kepada penciptanya. Hening penuh kedamaian dan semua telah bertasbih memuji Tuhannya. Alampun memancarkan sina-sinar keteduhan bagi mahluk didalamnya.
“Din…udah selesai? Jadikan beli baksonya?” suara ima menggelegar dikamarku, “Astagfirullah…kiraen ada apa tadi, kenceng banget ngomongnya. Jadi dong, nih aku lagi siap-siap”, jawabku sambil mengenakan jilbab biru yang dipadukan dengan kaos oblong dan rok hitam yang menjulur hingga di mata kakiku. “Bawa dompet din? Kayak ibu-ibu mau ke pasar aja”, ledek Ima yang masih merapikan jilbabnya di cermin kamarku, “Kan emang calon ibu-ibu” ucapku dengan nada yang sedikit cuek. Kami pun keluar dari kamar dan melakukan perjalanan menuju warung bakso yang sudah aku idam-idamkan dari kemarin.
Wussssshhhh….. dua orang pria yang bersepeda motor menjambret dompetku dengan laju yang sangat kencang. Aku terdiam penuh kaget dan darahku seolah-olah berhenti mengalir. Aku dan Ima hanya berpandangan tak sanggup berkata-kata. Berselang 1 menit lidahku baru mampu mngutarakan kata-kata, “Ma dompet aku..” ucapku lirih, “Iya din, aku juga sangat terkejut” tambahnya dengan nada resah. Ya Allah…ludes sudah uangku. Tidak ada yang tersisa lagi padaku, sejenak aku teringat Fitri. Mungkin ini adalah cara Allah untuk memberi peringatan kepadaku bahwa seharusnya aku menepati janjiku pada Fitri untuk membayar hutangku. Oh…sungguh miris nasibku. Maafkan aku Fit, karena aku terlalu egois, lebih mementingkan diriku tanpa memikirkan hak orang lain atasku. Perlahan air mataku meleleh….. seandainya bisa kuulang waktu tentu akan segera kubayar hutangku padamu Fit..
Udara pagi ini masih begitu dingin, bahkan titisan embun juga belum beranjak dari lembutnya dedaunan yang menghijau dan matahari mulai mengintip memecahkan gelap yang masih berselimut kabut. Masih dalam kantuk yang begitu berat, kulangkahkan kakiku yang terasa agak kaku menuju kamar mandi sambil sesekali badanku oyong karena belum kuat menopang kestabilan tubuh yang baru terbangun dari tidur nyenyakku. Kuraih sehelai handuk berwarna hijau dari hanger merah di dinding kamarku dan bersiap bertarung dengan dinginnya air yang sebentar lagi akan mengguyur badanku yang masih hangat.
Ah…sudah rapi nih, bisikku dalam hati sambil mengatur jilbabku yang lumayan susah di rapikan karena terbuat dari bahan yang licin. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.35 WIB, ternyata butuh waktu 50 menit untuk mempersiapkan segala sesuatunya ketika akan berangkat kuliah. Kini tiba saatnya aku berangkat kuliah karena hari ini adalah mata kuliah Fisika Kuantum yang sama sekali tidak boleh telat masuk. Tiba-tiba ponselku berdering, ada sebuah pesan singkat yang masuk ke nomorku, perlahan kubuka dan kubaca isi SMS itu “Assalamualaikum, sebelumnya maaf ya din, aku mau minta uangku yang dina pinjam minggu kemarin soalnya aku lagi butuh nih, ada kan?” Huhhh…aku menarik nafas panjang, ternyata SMS dari fitri yang menagih hutang. Kubuka isi dompetku hanya ada dua lembar uang lima puluh ribuan disana, “kalau uang lima puluh ribu ini aku bayarkan, terus nanti malam aku gak bisa beli bakso dong, padahal kan udah janji sama ima mau beli bakso Mas Retno nanti malam” gumamku dalam hati. Kuacuhkan saja SMS itu dan aku melanjutkan langkahku menuju kampus tercinta.
“Din…aku butuh sekali uangnya, aku lagi gak ada uang nih! Banyak keperluan yang harus aku bayar. Tolong ya din nanti di antar” SMS dari fitri terus masuk dalam inbox-ku, bahkan beberapa panggilan muncul di layar handphone ku, untung saja tadi hp-nya aku silent sehingga tidak mengganggu aktivitasku. “Din, handphonenya bergetar tuh, coba angkat mungkin ada hal penting yang mau disampaikan” bisik salah satu teman yang duduk di sebelahku, “Inikan lagi kuliah, gak boleh angkat telpon” jawabku sekenanya. “Alah..Pak Tompul masih menyiapkan bahan, gak akan ketahuan” timpal sahabatku yang duduk di sebelah kananku, “Gak ah…” ketusku sambil menggelengkan kepala. Kuliahpun berlanjut hingga 3 SKS.
Aku dan teman-temanku duduk di sebuah kantin kampus untuk makan siang bersama sebelum waktu dhuhur tiba. Sambil menunggu menu yang dipesan datang, kusempatkan untuk membuka layar hp-ku dan ternyata ada 10 panggilan tak terjawab dan 5 SMS disana dan semua SMS itu dikirim oleh fitri. “Din…balas dong din, aku lagi butuh banget nih, uang kiriman dari orang tuaku belum datang”, SMS pertama telah kubuka dan selanjutnya ku buka SMS yang kedua, “Din…kemarin kan dirimu janji kalo hari ini dina mau bayar hutang, aku lagi butuh din untuk biaya penelitianku”, aku mulai merasa tidak enak hati, lalu kulanjutkan untuk membuka SMS berikutnya, “Dina…kenpa gak dibalas?”, SMS ketiga cukup singkat, “Din angkat telponya?” ternyata SMS keempat dan kelima isinya sama. Aku masih cuek dengan SMS itu dan tidak ada satupun yang aku balas karena aku berpikiran itu hanya taktiknya saja untuk menagih hutang karena aku paham betul siapa Fitri itu, yaitu anak konglomerat yang tidak mungkin kekurangan uang.
Dua minggu yang lalu aku meminjam uang Fitri sebesar lima puluh ribu rupiah. Uang itu aku pinjam karena kebutuhanku yang begitu mendesak karena pada saat itu uang yang ada ditanganku hanya sepuluh ribu rupiah padahal aku harus membayar diktat. Aku berjanji padanya akan segera membayarnya setelah seminggu peminjaman karena aku juga masih menunggu kiriman dari orang tuaku. Tanpa berlama-lama meminta, Fitri langsung meminjamkan uangnya padaku dengan menyetujui janji-janji yang aku ucapkan padanya. Dengan sangat gembira kukatakan terima kasih padanya.
Langit mulai memerah. Matahari sedikit demi sedikit bersembunyi di ufuk barat. Suara-suara mulai berdengung di masjid-masjid menyerukan ayat suci-Nya. Muadzinpun terus menyusul dengan mengumandangkan adzan dengan penuh kebesaran-Nya. Memanggil manusia untuk segera menghadap dan bersujud kepada penciptanya. Hening penuh kedamaian dan semua telah bertasbih memuji Tuhannya. Alampun memancarkan sina-sinar keteduhan bagi mahluk didalamnya.
“Din…udah selesai? Jadikan beli baksonya?” suara ima menggelegar dikamarku, “Astagfirullah…kiraen ada apa tadi, kenceng banget ngomongnya. Jadi dong, nih aku lagi siap-siap”, jawabku sambil mengenakan jilbab biru yang dipadukan dengan kaos oblong dan rok hitam yang menjulur hingga di mata kakiku. “Bawa dompet din? Kayak ibu-ibu mau ke pasar aja”, ledek Ima yang masih merapikan jilbabnya di cermin kamarku, “Kan emang calon ibu-ibu” ucapku dengan nada yang sedikit cuek. Kami pun keluar dari kamar dan melakukan perjalanan menuju warung bakso yang sudah aku idam-idamkan dari kemarin.
Wussssshhhh….. dua orang pria yang bersepeda motor menjambret dompetku dengan laju yang sangat kencang. Aku terdiam penuh kaget dan darahku seolah-olah berhenti mengalir. Aku dan Ima hanya berpandangan tak sanggup berkata-kata. Berselang 1 menit lidahku baru mampu mngutarakan kata-kata, “Ma dompet aku..” ucapku lirih, “Iya din, aku juga sangat terkejut” tambahnya dengan nada resah. Ya Allah…ludes sudah uangku. Tidak ada yang tersisa lagi padaku, sejenak aku teringat Fitri. Mungkin ini adalah cara Allah untuk memberi peringatan kepadaku bahwa seharusnya aku menepati janjiku pada Fitri untuk membayar hutangku. Oh…sungguh miris nasibku. Maafkan aku Fit, karena aku terlalu egois, lebih mementingkan diriku tanpa memikirkan hak orang lain atasku. Perlahan air mataku meleleh….. seandainya bisa kuulang waktu tentu akan segera kubayar hutangku padamu Fit..
Kamis, 10 Februari 2011
CERPEN PERDANA
“Pulang jam berapa nis, kelihatannya banyak sekali bawa buku?” tanya tia yang masih santai di atas kasur sambil membaca buku fiksi yang sangat digemarinya itu. “Iya tia, kemungkinan sampai jam 5 sore, soalnya hari ini ada 3 mata kuliah dan masing-masing 3 SKS, ane berangkat dulu ya udah telat nih” niswah meraih ransel abu-abunya dan bergegas melangkah meninggalkan kamar tapi sebelum menutup pintu kamar, ia menghadapkan kembali wajahnya ke arah tia, “Oya, kalau ada perlu nanti sms aja ya gak usah ditelpon soalnya dosennya killer nih” tia mengangguk diiringi dengan senyum simetrisnya.
Niswah dan Tia adalah mahasiswi semester 6 jurusan Fisika di salah satu universitas negeri di kota Medan. Mereka bertemu pada saat pendaftaran ulang sebagai mahasiswa Fisika di fakultas tersebut. Karena sama-sama belum menemukan kos-kosan, akhirnya mereka memutuskan untuk kos bersama dan hal itu berlanjut hingga sekarang. Bermacam kegiatan juga mereka ikuti, mulai dari organisasi kemahasiswaan, kepenulisan, tim penelitian, dan juga aktif di dalam salah satu Lembaga Dakwah Kampus (LDK).
Gubrakkkkk…..suara keras itu terdengar sangat dahsyat di panasnya terik matahari yang menggelegar. Jalan raya pun dilanda macet seketika, orang-orang berlarian ingin segera menyaksikan peristiwa apa yang tengah terjadi, suasan menjadi riuh gemuruh, sebagian wanita ada yang menjerit histeris dan sebagian yang lain hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat karena takut, “Ayo kita bawa ke rumah sakit terdekat” teriak salah satu lelaki separuh baya yang berusaha membopong tubuh mungil gadis yang sudah berlumuran darah itu, ada juga yang membawakan tas ransel gadis itu yang sempat terpelanting jauh dari pemiliknya. Sepeda motor supra pun siap menghantarkan gadis itu ke rumah sakit. Sementara itu, supir truk yang menabraknya segera diamankan, walau ada juga luka-luka di sekujur tubuhnya tapi masih beruntung karena kondisinya masih dalam keadaan sadar.
“Namanya Tia Pak, saya tau namanya dari KTP ini” ucap salah satu lelaki yang menyelamatkan tas gadis itu, “segera hubungi keluarganya” sambung pak jamal, lelaki yang membawa tia ke rumah sakit. Tiba-tiba seorang dokter keluar dari kamar UGD, “Maaf, apakah bapak saudaranya?” tanya dokter itu pada pak jamal, “Iya pak” aku pak jamal karena tidak mau memberikan penjelasan yang panjang, “Gadis itu sangat kekurangan darah pak, sedangkan stok darah di rumah sakit ini habis. Maaf, apakah golongan darah bapak ada yang A?” mata mereka saling bertatapan, dengan penuh sesal mereka serentak menggelengkan kepala. “Kalau begitu, coba hubungi segera kerabat yang golongan darahnya A, karena ini menyangkut keselamatannya. Dia hanya akan bisa bertahan selama 4 jam jika tidak ada darah yang disalurkan” ucap pak dokter dengan penuh rasa khawatir, “Baik pak akan kami usahakan” jawab lelaki itu sambil mengotak-atik handphone gadis itu.
Di tengah perkuliahan tiba-tiba ponsel niswah berdering. Dengan penuh kepanikan karna takut sang dosen melihat aksinya, niswah melihat layar ponsel nokianya. Ah…dasar Tia, kan udah dibilang tadi sms ja…gumam niswah dalam hati, dengan sigap niswah men-silent-kan ponselnya. Tapi terus-terusan panggilang itu bordering hingga membuat niswah merasa sangat tidak nyaman. Akhirnya dia mengirimkan sebuah pesan ke nomor hp ti, “Kan tadi udah dibilang SMS aja kalo ada perlu, ane lagi kuliah” satu pesan pun dikirim, karena niswah merasa terganggu dengan serta merta ia non-aktifkan ponselnya itu.
Jam sudah menunjukkan angka 5 perkuliahan pun segera berakhir, sambil berdesakkkan keluar dari kelas niswah mengaktifkan kembali ponsel yang tadi sempat dimatikannya. Belum ada 3 menit, beberapa sms masuk bertubi-tubi dan semuanya dari Tia. Ada apa dengan Tia? Dengan penuh penasaran ia membuka pesan-pesan yang masuk ke kotak masuknya itu. “Assalamualaikum, kok gak diangkat mbak? Benarkah ini temannya Tia? Tia sekarang di Rumah Sakit Haji, dia kecelakaan, kondisinya sangat kritis” bagaikan disambar petir niswah membaca SMS – SMS itu, jantungnya berdegup sangat kencang, kemudian niswah membuka kembali sms yang kedua, “kok malah di nonaktifkan mbak? Tia sangat butuh darah, stok di RS.Haji habis…golongan darahnya A, apakah golongan darah mbak juga A? mohon segera dating kesini demi keselamatannya” suasana semakin mencekam, tak peduli lagi ada berapa sms di bawahnya, niswah terus berlari ingin segera menuju RS. Haji, jalanan seolah hanya miliknya, orang-orang yang berlalu-lalang terus ditabraknya, tak perduli siapapun itu, yang ada dipikirannya hanya Tia, ia ingin segera menyelamatkan temannya itu karena golongan darah mereka ketepatan sama.
Gubrakkk…niswah membuka pintu kamar dengan kerasnya, nafasnya masih tersengal-sengal karena memburu waktu, sejenak ia terdiam karena melihat sudah banyak para kerabat dan temannya disana. Sorotan matanya tak berkedip melihat tubuh mungil yang sudah terbujur kaku di atas bilik kamar itu. Matanya berkaca-kaca, darahnya mengalir dan berdesir meluruh, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas tak berdaya dan perlahan hilang keseimbangan untuk tetap bisa berdiri dengan kokoh di ruangan itu. Air matapun mulai menetes di pipinya yang putih, tak percaya dengan peristiwa yang ada dihadapannya…niswah merasa sangat bersalah, merasa sangat berdosa, karena tidak bisa menolong sahabatnya itu. Seandainya saja dia tidak me-reject telponnya, seandainya saja dia tidak mematikan hpnya…berbagai wacana yang menyudutkannya terlintas dikepalanya.... tubuhnyapun ambruk di atas lantai kilat yang putih tak tahan melihat sahabatnya yang begitu cepat meninggalkannya…
Niswah dan Tia adalah mahasiswi semester 6 jurusan Fisika di salah satu universitas negeri di kota Medan. Mereka bertemu pada saat pendaftaran ulang sebagai mahasiswa Fisika di fakultas tersebut. Karena sama-sama belum menemukan kos-kosan, akhirnya mereka memutuskan untuk kos bersama dan hal itu berlanjut hingga sekarang. Bermacam kegiatan juga mereka ikuti, mulai dari organisasi kemahasiswaan, kepenulisan, tim penelitian, dan juga aktif di dalam salah satu Lembaga Dakwah Kampus (LDK).
Gubrakkkkk…..suara keras itu terdengar sangat dahsyat di panasnya terik matahari yang menggelegar. Jalan raya pun dilanda macet seketika, orang-orang berlarian ingin segera menyaksikan peristiwa apa yang tengah terjadi, suasan menjadi riuh gemuruh, sebagian wanita ada yang menjerit histeris dan sebagian yang lain hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat karena takut, “Ayo kita bawa ke rumah sakit terdekat” teriak salah satu lelaki separuh baya yang berusaha membopong tubuh mungil gadis yang sudah berlumuran darah itu, ada juga yang membawakan tas ransel gadis itu yang sempat terpelanting jauh dari pemiliknya. Sepeda motor supra pun siap menghantarkan gadis itu ke rumah sakit. Sementara itu, supir truk yang menabraknya segera diamankan, walau ada juga luka-luka di sekujur tubuhnya tapi masih beruntung karena kondisinya masih dalam keadaan sadar.
“Namanya Tia Pak, saya tau namanya dari KTP ini” ucap salah satu lelaki yang menyelamatkan tas gadis itu, “segera hubungi keluarganya” sambung pak jamal, lelaki yang membawa tia ke rumah sakit. Tiba-tiba seorang dokter keluar dari kamar UGD, “Maaf, apakah bapak saudaranya?” tanya dokter itu pada pak jamal, “Iya pak” aku pak jamal karena tidak mau memberikan penjelasan yang panjang, “Gadis itu sangat kekurangan darah pak, sedangkan stok darah di rumah sakit ini habis. Maaf, apakah golongan darah bapak ada yang A?” mata mereka saling bertatapan, dengan penuh sesal mereka serentak menggelengkan kepala. “Kalau begitu, coba hubungi segera kerabat yang golongan darahnya A, karena ini menyangkut keselamatannya. Dia hanya akan bisa bertahan selama 4 jam jika tidak ada darah yang disalurkan” ucap pak dokter dengan penuh rasa khawatir, “Baik pak akan kami usahakan” jawab lelaki itu sambil mengotak-atik handphone gadis itu.
Di tengah perkuliahan tiba-tiba ponsel niswah berdering. Dengan penuh kepanikan karna takut sang dosen melihat aksinya, niswah melihat layar ponsel nokianya. Ah…dasar Tia, kan udah dibilang tadi sms ja…gumam niswah dalam hati, dengan sigap niswah men-silent-kan ponselnya. Tapi terus-terusan panggilang itu bordering hingga membuat niswah merasa sangat tidak nyaman. Akhirnya dia mengirimkan sebuah pesan ke nomor hp ti, “Kan tadi udah dibilang SMS aja kalo ada perlu, ane lagi kuliah” satu pesan pun dikirim, karena niswah merasa terganggu dengan serta merta ia non-aktifkan ponselnya itu.
Jam sudah menunjukkan angka 5 perkuliahan pun segera berakhir, sambil berdesakkkan keluar dari kelas niswah mengaktifkan kembali ponsel yang tadi sempat dimatikannya. Belum ada 3 menit, beberapa sms masuk bertubi-tubi dan semuanya dari Tia. Ada apa dengan Tia? Dengan penuh penasaran ia membuka pesan-pesan yang masuk ke kotak masuknya itu. “Assalamualaikum, kok gak diangkat mbak? Benarkah ini temannya Tia? Tia sekarang di Rumah Sakit Haji, dia kecelakaan, kondisinya sangat kritis” bagaikan disambar petir niswah membaca SMS – SMS itu, jantungnya berdegup sangat kencang, kemudian niswah membuka kembali sms yang kedua, “kok malah di nonaktifkan mbak? Tia sangat butuh darah, stok di RS.Haji habis…golongan darahnya A, apakah golongan darah mbak juga A? mohon segera dating kesini demi keselamatannya” suasana semakin mencekam, tak peduli lagi ada berapa sms di bawahnya, niswah terus berlari ingin segera menuju RS. Haji, jalanan seolah hanya miliknya, orang-orang yang berlalu-lalang terus ditabraknya, tak perduli siapapun itu, yang ada dipikirannya hanya Tia, ia ingin segera menyelamatkan temannya itu karena golongan darah mereka ketepatan sama.
Gubrakkk…niswah membuka pintu kamar dengan kerasnya, nafasnya masih tersengal-sengal karena memburu waktu, sejenak ia terdiam karena melihat sudah banyak para kerabat dan temannya disana. Sorotan matanya tak berkedip melihat tubuh mungil yang sudah terbujur kaku di atas bilik kamar itu. Matanya berkaca-kaca, darahnya mengalir dan berdesir meluruh, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas tak berdaya dan perlahan hilang keseimbangan untuk tetap bisa berdiri dengan kokoh di ruangan itu. Air matapun mulai menetes di pipinya yang putih, tak percaya dengan peristiwa yang ada dihadapannya…niswah merasa sangat bersalah, merasa sangat berdosa, karena tidak bisa menolong sahabatnya itu. Seandainya saja dia tidak me-reject telponnya, seandainya saja dia tidak mematikan hpnya…berbagai wacana yang menyudutkannya terlintas dikepalanya.... tubuhnyapun ambruk di atas lantai kilat yang putih tak tahan melihat sahabatnya yang begitu cepat meninggalkannya…
Rabu, 02 Februari 2011
KEEP SPIRIT
TETAP SEMANGAT YA SAHABATKU…!!!!
By: Islamiani Safitri
Kehidupan yang kita jalani saat ini tidak selamanya mulus seperti apa yang kita harapkan. Bahkan setiap detiknya, menitnya, jamnya, dan hari-harinya dibumbui dengan berbagai hal yang sebenarnya tidak pernah kita harapkan, itulah sunnatullah dalam kehidupan kita. Untuk mendapatkan apa yang kita harapkan butuh sebuah pengorbanan, butuh segudang kesabaran, butuh seabrek ketegaran dan keistiqomahan untuk tetap focus dari apa yang diinginkan.
Sahabat… kita hidup di dunia ini tidak sendirian, ada banyak orang disekeliling kita yang senantiasa mewarnai hari-hari kita bisa hitam, putih, atau malah abu-abu. Ada yang pro dengan tujuan dan target-target hidup kita dan ada juga yang kontra dengan tujuan dan target hidup kita. Yang pro akan senantiasa menyemangati dan mendukung kita sedangkan yang kontra akan merendahkan, menjatuhkan bahkan memfitnah demi tidak tercapainya tujuan dan target kita. Nah, dari itu disini kita perlu mengubah persepsi kita dalam melihat seseorang. Jika kita langsung sakit hati dan bermental tempe ketika dijatuhkan maka yang terjadi adalah GAGAL dan KETERPURUKAN. Setelah kita gagal dan terpuruk maka orang yang menjatuhkan kita akan bersorak senang dan bahagia bahkan akan mencampakkan kita begitu saja, kayak sampah dong... Lalu bagaiamanakah mengatasi hal ini?
Yang perlu kita lakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan MERUBAH PERSEPSI. Ya… mulai saat ini kita rubah persepsi kita kepada orang-orang disekitar kita. Di dunia ini hanya ada dua manusia disekeliling kita yaitu manusia yang MENDORONG kita dan MENYEMANGATKAN kita. Yang mendorong kita adalah orang-orang yang kontra kemudian menjatuhkan kita tapi kita tidak serta merta ikut terjatuh, malah kita semakin terdorong untuk membuktikan padanya bahwa kita BISA, sedangkan yang menyemangatkan kita adalah orang-orang yang pro dengan kita dan senantiasa member dukungan atas apa yang kita lakukan demi tercapainya target-target hidup kita. Jadi sahabatku…. Jika kita sudah merubah persepsi kita ini, maka tidak ada satu orang pun yang mampu menghalangi kita dalam mencapai target-target hidup kita. Selanjutnya, tetaplah kita beroda dan menyerahkan semuanya pada Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Mengabulkan karena hanya Allahlah yang berhak menentukan jalan hidup kita. TETAP SEMANGAT YA SAHABATKU…!!!!!
Rabu, 2 februari 2011 pkl. 07:00 WIB
Saat membutuhkan penyemangat dari orang-orang hebat
By: Islamiani Safitri
Kehidupan yang kita jalani saat ini tidak selamanya mulus seperti apa yang kita harapkan. Bahkan setiap detiknya, menitnya, jamnya, dan hari-harinya dibumbui dengan berbagai hal yang sebenarnya tidak pernah kita harapkan, itulah sunnatullah dalam kehidupan kita. Untuk mendapatkan apa yang kita harapkan butuh sebuah pengorbanan, butuh segudang kesabaran, butuh seabrek ketegaran dan keistiqomahan untuk tetap focus dari apa yang diinginkan.
Sahabat… kita hidup di dunia ini tidak sendirian, ada banyak orang disekeliling kita yang senantiasa mewarnai hari-hari kita bisa hitam, putih, atau malah abu-abu. Ada yang pro dengan tujuan dan target-target hidup kita dan ada juga yang kontra dengan tujuan dan target hidup kita. Yang pro akan senantiasa menyemangati dan mendukung kita sedangkan yang kontra akan merendahkan, menjatuhkan bahkan memfitnah demi tidak tercapainya tujuan dan target kita. Nah, dari itu disini kita perlu mengubah persepsi kita dalam melihat seseorang. Jika kita langsung sakit hati dan bermental tempe ketika dijatuhkan maka yang terjadi adalah GAGAL dan KETERPURUKAN. Setelah kita gagal dan terpuruk maka orang yang menjatuhkan kita akan bersorak senang dan bahagia bahkan akan mencampakkan kita begitu saja, kayak sampah dong... Lalu bagaiamanakah mengatasi hal ini?
Yang perlu kita lakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan MERUBAH PERSEPSI. Ya… mulai saat ini kita rubah persepsi kita kepada orang-orang disekitar kita. Di dunia ini hanya ada dua manusia disekeliling kita yaitu manusia yang MENDORONG kita dan MENYEMANGATKAN kita. Yang mendorong kita adalah orang-orang yang kontra kemudian menjatuhkan kita tapi kita tidak serta merta ikut terjatuh, malah kita semakin terdorong untuk membuktikan padanya bahwa kita BISA, sedangkan yang menyemangatkan kita adalah orang-orang yang pro dengan kita dan senantiasa member dukungan atas apa yang kita lakukan demi tercapainya target-target hidup kita. Jadi sahabatku…. Jika kita sudah merubah persepsi kita ini, maka tidak ada satu orang pun yang mampu menghalangi kita dalam mencapai target-target hidup kita. Selanjutnya, tetaplah kita beroda dan menyerahkan semuanya pada Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Mengabulkan karena hanya Allahlah yang berhak menentukan jalan hidup kita. TETAP SEMANGAT YA SAHABATKU…!!!!!
Rabu, 2 februari 2011 pkl. 07:00 WIB
Saat membutuhkan penyemangat dari orang-orang hebat
DAHSYATNYA SEDEKAH
Hari itu adalah seminggu menjelang akan diadakannya acara pesantren kilat (Sanlat) di SMA Al-Munawwarah. Acara ini memang kerap kali diadakan setiap tahunnya yakni disetiap minggu pertama di bulan ramadhan. Sebagai pesertanya adalah siswa kelas 2 yang terdiri dari lima kelas, sedangkan sebagai panitia pelaksananya adalah siswa kelas tiga yang aktif di Rohis.
Demi terlaksananya acara, panitia menggalang dana dari siswa dan guru-guru di sekolah dan uang yang berhasil dikumpulkan ternyata masih kurang untuk membeli segala perlengkapan yang dibutuhkan. Panitia mulai berpikir bagaimana cara mendapatkan dana lagi untuk menutupi kekurangan yang ada. Tiba-tiba rama, bendahara acara sanlat dipanggil oleh Ibu Salwah, salah satu guru di sekolah tersebut. “Ibu memanggil saya ya, ada apa bu?” tanya rama yang agak gugup, “Bagaimana keuangan untuk acara sanlatnya, apa sudah mencukupi?” tanya Bu Salwah pada rama, “Belum bu” jawab rama singkat. “Nih ibu tambahin, tapi jangan dikasih tahu ke orang lain ya, ini rahasia.” Sambil mengeluarkan uang yang berwarna biru dari tas hitam Bu salwah. Dengan senyum merekah dan hati yang gembira rama mencium tangan Bu Salwah, “Terimakasih bu…” Ramapun pergi meninggalkan Bu Salwah.
“Salwah, cepat keluar sekarang paman udah di depan rumah nih” paman segera menutup telponnya dan tak lama Salwah keluar dengan penuh terheran-heran, “Ada apa paman kok tiba-tiba datang?” Salwah berusaha tenang dan semoga tidak ada berita buruk yang akan didengar. Paman mengulurkan sebuah amplop putih ke tangan Salwah “Ini paman lagi ada rezeki, ya lumayanlah buat nambah-nambah kebutuhan kamu. Hmm…paman harus kembali ke kantor, paman pamit dulu ya” paman berlalu dengan mobilnya. Salwah membuka amplop tersebut dan ternyata berisi uang lima ratus ribu rupiah. Subhanallah…Alhamdulillah ya rabb…kau telah buktikan kebesaran-Mu…Kau memang tahu bahwa aku begitu membutuhkannya, aku butuh membayar uang kontrakan, aku butuh membayar makan, terimakasih ya rabb…kemarin aku hanya bersedekah lima puluh ribu dan sekarang Kau kembalikan uang itu sepuluh kali lipat padaku…ternyata janji-Mu adalah benar. Salwah terus bersyukur dan mulai saat itu ia jadikan sedekah sebagai metode dalam kehidupannya.
Sahabatku…. Allah memrintahkan kita untuk bersedekah dan sedekah tidak menjadikan kita miskin malah menjadikan kita kaya karna Allah akan melipatgandakan apa yang kita sedekahkan. Bersedekahlah…maka hati akan jauh lebih tenang dan rasakan keajaiban-keajaiban yang akan terjadi setelah bersedekah…!!! Sedekah yukkk!!!
*refreshing ketika mengerjakan revisi.
Demi terlaksananya acara, panitia menggalang dana dari siswa dan guru-guru di sekolah dan uang yang berhasil dikumpulkan ternyata masih kurang untuk membeli segala perlengkapan yang dibutuhkan. Panitia mulai berpikir bagaimana cara mendapatkan dana lagi untuk menutupi kekurangan yang ada. Tiba-tiba rama, bendahara acara sanlat dipanggil oleh Ibu Salwah, salah satu guru di sekolah tersebut. “Ibu memanggil saya ya, ada apa bu?” tanya rama yang agak gugup, “Bagaimana keuangan untuk acara sanlatnya, apa sudah mencukupi?” tanya Bu Salwah pada rama, “Belum bu” jawab rama singkat. “Nih ibu tambahin, tapi jangan dikasih tahu ke orang lain ya, ini rahasia.” Sambil mengeluarkan uang yang berwarna biru dari tas hitam Bu salwah. Dengan senyum merekah dan hati yang gembira rama mencium tangan Bu Salwah, “Terimakasih bu…” Ramapun pergi meninggalkan Bu Salwah.
“Salwah, cepat keluar sekarang paman udah di depan rumah nih” paman segera menutup telponnya dan tak lama Salwah keluar dengan penuh terheran-heran, “Ada apa paman kok tiba-tiba datang?” Salwah berusaha tenang dan semoga tidak ada berita buruk yang akan didengar. Paman mengulurkan sebuah amplop putih ke tangan Salwah “Ini paman lagi ada rezeki, ya lumayanlah buat nambah-nambah kebutuhan kamu. Hmm…paman harus kembali ke kantor, paman pamit dulu ya” paman berlalu dengan mobilnya. Salwah membuka amplop tersebut dan ternyata berisi uang lima ratus ribu rupiah. Subhanallah…Alhamdulillah ya rabb…kau telah buktikan kebesaran-Mu…Kau memang tahu bahwa aku begitu membutuhkannya, aku butuh membayar uang kontrakan, aku butuh membayar makan, terimakasih ya rabb…kemarin aku hanya bersedekah lima puluh ribu dan sekarang Kau kembalikan uang itu sepuluh kali lipat padaku…ternyata janji-Mu adalah benar. Salwah terus bersyukur dan mulai saat itu ia jadikan sedekah sebagai metode dalam kehidupannya.
Sahabatku…. Allah memrintahkan kita untuk bersedekah dan sedekah tidak menjadikan kita miskin malah menjadikan kita kaya karna Allah akan melipatgandakan apa yang kita sedekahkan. Bersedekahlah…maka hati akan jauh lebih tenang dan rasakan keajaiban-keajaiban yang akan terjadi setelah bersedekah…!!! Sedekah yukkk!!!
*refreshing ketika mengerjakan revisi.
Langganan:
Postingan (Atom)
PEJUANG GARIS 2: Operasi Kista Endometriosis
Setelah 4 dokter Obgyn memvonis ada kista endometriosis di sebelah kanan dan kiri, maka berbagai usaha dan upaya saya lakukan. Beberapa bula...
-
1. PENDAHULUAN Pembelajaran di Indonesia selama ini masih banyak menggunakan metode konvensional, yaitu metode pembelajaran yang b...
-
Jika anda mengalami kesulitan mempelajari fisika, ada kemungkinan itu tidak mutlak merupakan “kesalahan” anda. Sistem pengajaran fisika kita...