entah apa awalnya, pembicaraan kami mengalir begitu syahdu penuh ukhuwah. Ya... percakapan di sore hari ketika diperjalanan sepulang kuliah.
"Setelah hampir 3 minggu tidak ada komunikasi, akhirnya tadi dia SMS juga," ucapnya membuka obrolan.
"Siapa ukh, Akhi Syam ya?" tebakku sekenanya.
"Iya, dia meminta maaf ke ana dan berjanji akan melupakan Mimi, walaupun Mimi ingin kembali merajut kasih dengannya." Jelasnya.
Aku terbelalak.
"Lo, jadi selama ini Mimi dan Akhi Syam pacaran?" tanyaku penuh kaget.
"Gak taulah..." ucapnya parau.
Beberapa saat kami terdiam sambil terus menyusuri jalan mulus di sekitar kampus. Benarkah Akhi Syam pacaran? sungguh miris aku mendengarnya. Bukankah dia ikhwan yang hanif, yang sangat menjaga jarak dengan seorang wanita yang bukan muhrimnya.
"Dia sadar akan kekhilafannya ketika ia dimintai untuk memberikan taujih tentang maksiat dan istighfar. Dia benar-benar merasa terpukul disitu." Jelas sahabatku lagi.
Aku masih terdiam.
Disini aku tak hendak menceritakan perjalanan hidup Akhi Syam, bukan juga tentang cerita cinta Mimi. Tapi, cerita ini sangat mirip dengan ceritaku yang sekarang tengah aku jalani.
Kembali merujuk ceritaku bersama Abdullah El-Khais. Padanya kutemukan jati diriku. Lewat dirinya kutemukan hidayah Allah. Aku yang dulu futur kini bisa kembali menemukan jiwa muslimah yang sempat hilang menjauhiku.
Obrolan sore itu membangunkan jiwa sadarku. Aku yang selama ini terjalin dengan SMS-SMS mesra Abdullah El-Khais, Aku yang terlalu berambisi untuk mendapatkan Abdullah El-Khais, aku yang selalu mengganggunya dengan kata-kata bujuk rayu bak siluet iblis yang tajam. Sungguh hina dan munafiknya aku. Seiring semakin panjangnya jilbab yang kuhulurkan, tetapi mengapa semakin mirip aku membawanya pada jalan futur. Ampuni hamba-Mu ini ya Rabb...
jantung ini berdegup kencang. bulir-bulir air mata mulai menggenang di lingkaran bola mataku. Ya Allah... apakah hamba telah menyesatkannya?? Demi Engkau ya Allah, akan kugadaikan cinta pada mahluk-Mu dengan cinta hakiki-Mu. Jodoh adalah rahasia-Mu. Apapun yang kau pilihkan untukku adalah yang terbaik untuk hidupku. Ampuni hamba ya Rabb...
Kamis, 31 Maret 2011
MERAJUT IMPIAN DI PERTEMUAN KE-5 LRS
MERAJUT IMPIAN DI PERTEMUAN KE-5 LRS
Alhamdulillah, minggu yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba setelah tiga minggu aku menantinya. Pertemuan LRS yang berlokasi di Taman Budaya Kota Medan. Pertemuan kali ini membuat mataku terbelalak lebar. Bagaimana tidak, sahabat LRS yang hadir pada waktu itu berkisar 19 orang (kalau gak salah hitung ya…) dan diantara mereka ada penulis-penulis hebat asal Medan dari berbagai komunitas. Wajah-wajah pencerah kebanggaan Kota Medan.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Aku dan kak Setia Wati masih betah duduk di halte yang terletak di depan pagar Taman Budaya sambil menunggu kedatangan coordinator LRS. Lelah juga mata ini melihat hilir mudik kendaraan yang laju di sepanjang jalan itu, tapi tak apalah, sekali-sekali cuci mata. Sebenarnya ingin sekali langsung masuk ke lokasi tapi karena banyak ikhwah yang berada disana, maka kami memutuskan untuk tetap menuggu kehadiran Kak Evi, coordinator LRS.
Tak lama Kak Evi dan Kak Yanti tiba di tempat. Aku dan Kak Tia segera ikut menerobos pagar dan memasuki Taman Budaya. Upss… wajah-wajah baru yang terlihat, ternyata dari tadi yang masuk satu persatu ke lokasi adalah sahabat LRS juga, maaf ya teman-teman… aku belum mengenalmu saat itu. Kami pun saling berjabat tangan sebagai pertanda bahwa mulai detik ini ukhwah kami akan terjalin untuk selamanya.
Kebingungan mulai melanda sahabat LRS satu persatu, bukan karena adanya hutang yang belum dibayar atau tagihan rekening listrik yang menunggak, tapi ini lebih pada tempat ‘curhat-curhatan’ LRS. Kebingungan itu hilang setelah kami memutuskan untuk duduk dilesehan panggung Taman Budaya tersebut.
‘The Miracle of Writing’ itulah buku yang kami bedah. Sungguh terkagum-kagum saat mengulas isi dari tulisan M. Iqbal Dawami ini. Ternyata menulis memiliki beberapa keampuhan terapi, hal yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Ada tiga belas keampuhan yang dipaparkan dalam buku ini yaitu dapat menurunkan symptom asma, membebaskan dari deraan batin, mengurangi aktivitas amygdale, mengubah cara berpikir, menjadi tempat curahan hati, menyembuhkan penyakit kanker, pengobatan naratif, mengatasi kebiasaan buruk, mengatasi trauma, sebagai alat transformasi diri, membantu kinerja memori, membantu kesadaran personal, dan sebagai terapi. Luar biasa, bukan? Keajaiban menulis yang tidak pernah terpikirkan olehku sama sekali.
Cakap-cakap ini juga tidak hanya berhenti pada review book, sahabat LRS mulai menyulam mimpi untuk bisa membagi karya tulisannya kepada segenap ruh yang doyan membaca. Mulailah ide-ide kreatif muncul dari jiwa-jiwa yang cemerlang, yaitu ingin segera menulis buku antologi. Subhanallah… darahku berdesir menggelora, ternyata salah satu mimpiku ini juga menjadi impian semua sahabat LRS. Kalimat tahmid terus kulantunkan lewat bisikan hati… semoga segera terealisasi.
Setelah agak lama berdiskusi, akhirnya tema untuk buku antologi kami (macem udah terbit aja…) adalah mengenai Sumatera Utara, bisa budayanya, wisatanya, masyarakatnya atau pendidikannya. Semua itu dituangkan dalam tulisan yang berbentuk flash fiction. Oke dech… insyallah dalam dua minggu ini akan aku selesaikan. LRS, aku bangga bisa merajut impian bersamamu….
Alhamdulillah, minggu yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba setelah tiga minggu aku menantinya. Pertemuan LRS yang berlokasi di Taman Budaya Kota Medan. Pertemuan kali ini membuat mataku terbelalak lebar. Bagaimana tidak, sahabat LRS yang hadir pada waktu itu berkisar 19 orang (kalau gak salah hitung ya…) dan diantara mereka ada penulis-penulis hebat asal Medan dari berbagai komunitas. Wajah-wajah pencerah kebanggaan Kota Medan.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Aku dan kak Setia Wati masih betah duduk di halte yang terletak di depan pagar Taman Budaya sambil menunggu kedatangan coordinator LRS. Lelah juga mata ini melihat hilir mudik kendaraan yang laju di sepanjang jalan itu, tapi tak apalah, sekali-sekali cuci mata. Sebenarnya ingin sekali langsung masuk ke lokasi tapi karena banyak ikhwah yang berada disana, maka kami memutuskan untuk tetap menuggu kehadiran Kak Evi, coordinator LRS.
Tak lama Kak Evi dan Kak Yanti tiba di tempat. Aku dan Kak Tia segera ikut menerobos pagar dan memasuki Taman Budaya. Upss… wajah-wajah baru yang terlihat, ternyata dari tadi yang masuk satu persatu ke lokasi adalah sahabat LRS juga, maaf ya teman-teman… aku belum mengenalmu saat itu. Kami pun saling berjabat tangan sebagai pertanda bahwa mulai detik ini ukhwah kami akan terjalin untuk selamanya.
Kebingungan mulai melanda sahabat LRS satu persatu, bukan karena adanya hutang yang belum dibayar atau tagihan rekening listrik yang menunggak, tapi ini lebih pada tempat ‘curhat-curhatan’ LRS. Kebingungan itu hilang setelah kami memutuskan untuk duduk dilesehan panggung Taman Budaya tersebut.
‘The Miracle of Writing’ itulah buku yang kami bedah. Sungguh terkagum-kagum saat mengulas isi dari tulisan M. Iqbal Dawami ini. Ternyata menulis memiliki beberapa keampuhan terapi, hal yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Ada tiga belas keampuhan yang dipaparkan dalam buku ini yaitu dapat menurunkan symptom asma, membebaskan dari deraan batin, mengurangi aktivitas amygdale, mengubah cara berpikir, menjadi tempat curahan hati, menyembuhkan penyakit kanker, pengobatan naratif, mengatasi kebiasaan buruk, mengatasi trauma, sebagai alat transformasi diri, membantu kinerja memori, membantu kesadaran personal, dan sebagai terapi. Luar biasa, bukan? Keajaiban menulis yang tidak pernah terpikirkan olehku sama sekali.
Cakap-cakap ini juga tidak hanya berhenti pada review book, sahabat LRS mulai menyulam mimpi untuk bisa membagi karya tulisannya kepada segenap ruh yang doyan membaca. Mulailah ide-ide kreatif muncul dari jiwa-jiwa yang cemerlang, yaitu ingin segera menulis buku antologi. Subhanallah… darahku berdesir menggelora, ternyata salah satu mimpiku ini juga menjadi impian semua sahabat LRS. Kalimat tahmid terus kulantunkan lewat bisikan hati… semoga segera terealisasi.
Setelah agak lama berdiskusi, akhirnya tema untuk buku antologi kami (macem udah terbit aja…) adalah mengenai Sumatera Utara, bisa budayanya, wisatanya, masyarakatnya atau pendidikannya. Semua itu dituangkan dalam tulisan yang berbentuk flash fiction. Oke dech… insyallah dalam dua minggu ini akan aku selesaikan. LRS, aku bangga bisa merajut impian bersamamu….
Senin, 21 Maret 2011
MISI, UNTUK SEBUAH VISI
Oleh: Islamiani El-Khais
“Kalau canda seorang teman sudah tidak lagi dapat menentramkan jiwa, kalau mata sudah tidak lagi dapat ditundukkan pandangannya, kalau hati sudah senantiasa merasa gelisah…. Barangkali inilah saatnya untuk menikah bagi anda.” Inilah tulisan yang dipaparkan oleh ust. Muhammad Fauzil Adhim lewat cover bukunya yang berjudul ‘Saatnya Untuk Menikah’. Buku yang menjawab semua apa yang kurasakan dan memperjelas apa yang kuragukan… subhanallah… betapa baru sekarang aku menyadarinya.
Bulan ini telah kuhabiskan dua buku yang kubaca, dan keduanya bertemakan tentang pernikahan. Bukan karena aku terlalu ingin menikah sekarang, tapi lebih tepatnya karena aku ingin mencari kemantapan tentang apa yang sering aku rasakan. Tentang pikiranku yang tidak bisa lepas dari bayang-bayangnya. Singkat kata, dirinya terlalu mengusikku.
Disini aku menemukan beberapa jawaban dan mendapatkan solusi untuk keluar dari zona ini. Yaitu dengan menawarkan diri, seperti kisahnya Khadijah dengan Rasulullah. Tapi, apakah mungkin ini mampu aku katakan? Walaupun dari pendapat beberapa ulama ini tidaklah menjatuhkan derajat dan martabat seorang wanita—bahkan malah memuliakan kedudukan wanita itu sendiri selama lelaki yang menjadi objeknya adalah lelaki yang sholeh—tapi tetap saja di mata mayoritas masyarakat masih terasa janggal, inilah yang menjadi ketakutannku.
Biarlah… kali ini aku akan belajar mengumpulkan sebuah keberanian untuk menjalankan misi demi sebuah visi. Visi hidup bahagia bersamanya. Bismillah…..
*Dalam gerimis Senin sore, 21 Maret 2011
Menunggu detik-detik berbuka puasa
“Kalau canda seorang teman sudah tidak lagi dapat menentramkan jiwa, kalau mata sudah tidak lagi dapat ditundukkan pandangannya, kalau hati sudah senantiasa merasa gelisah…. Barangkali inilah saatnya untuk menikah bagi anda.” Inilah tulisan yang dipaparkan oleh ust. Muhammad Fauzil Adhim lewat cover bukunya yang berjudul ‘Saatnya Untuk Menikah’. Buku yang menjawab semua apa yang kurasakan dan memperjelas apa yang kuragukan… subhanallah… betapa baru sekarang aku menyadarinya.
Bulan ini telah kuhabiskan dua buku yang kubaca, dan keduanya bertemakan tentang pernikahan. Bukan karena aku terlalu ingin menikah sekarang, tapi lebih tepatnya karena aku ingin mencari kemantapan tentang apa yang sering aku rasakan. Tentang pikiranku yang tidak bisa lepas dari bayang-bayangnya. Singkat kata, dirinya terlalu mengusikku.
Disini aku menemukan beberapa jawaban dan mendapatkan solusi untuk keluar dari zona ini. Yaitu dengan menawarkan diri, seperti kisahnya Khadijah dengan Rasulullah. Tapi, apakah mungkin ini mampu aku katakan? Walaupun dari pendapat beberapa ulama ini tidaklah menjatuhkan derajat dan martabat seorang wanita—bahkan malah memuliakan kedudukan wanita itu sendiri selama lelaki yang menjadi objeknya adalah lelaki yang sholeh—tapi tetap saja di mata mayoritas masyarakat masih terasa janggal, inilah yang menjadi ketakutannku.
Biarlah… kali ini aku akan belajar mengumpulkan sebuah keberanian untuk menjalankan misi demi sebuah visi. Visi hidup bahagia bersamanya. Bismillah…..
*Dalam gerimis Senin sore, 21 Maret 2011
Menunggu detik-detik berbuka puasa
Minggu, 20 Maret 2011
STORY OF MY HEART
Akhir Juli 2010
Bulan ini adalah bulan kepenatanku. Bagaiaman tidak, banyak hal yang harus aku hadapi dan aku jalani, semuanya menuntut pikiran yang extra untuk bisa diselesaikan kedua-duanya. Dalam bidang akademisku aku harus menjalani Program Pengajaran Lapangan (PPL) selama 4 bulan yang berketepatan ditempatkan di kampong kelahiranku yaitu Sei Rampah. Disisi lain, hubungan asmaraku mulai tak jelas dengan seorang lelaki yang usianya 5 tahun di atasku. Hubungan kami akhir-akhir ini mulai tak jelas, mungkin karena aku yang terlalu banyak menuntut kepadanya…ya sudahlah, mungkin memang belum jodoh dan Allah ingin menunjukkan rahasianya di balik semua ini. Aku yakin itu.
Dalam keadaan yang membuatku cukup tertekan, tetes air mata yang sering meleleh di pipi membuat agak sedikit mengganggu aktivitas PPL-ku. Entah kenapa hari-hari yang kualami merasa begitu sepi walaupun aku berada disekeliling keramaian. Senyum yang ku tebar juga merupakan senyum palsu yang ingin menyembunyikan remuk redam di dadaku. Mungkin karena ini adalah hal pertama yang pernah aku alami dalam gagalnya hubungan asmaraku sehingga aku merasa benar-benar tak berdaya dan mungkin juga karena selama ini aku sangat menyayanginya sehingga belum sanggup jika harus kehilangan dia. Entahlah…tapi aku akan terus berusaha semampuku untuk menghapus kesedihanku ini.
“Masa sih aku jadi lemah hanya karena masalah cinta, ihh…gak banget!” kalimat inilah yang menjadi motivasi untuk aku bisa bangkit kembali.
Awal Mula Perkenalan
Masih dalam suasana kegundahanku, kucoba membuka akun facebookku sebelum menjelang tidur malam. Perlahan ku baca status-status yang ada didalam akun facebook tersebut, tiba-tiba terngiang dibenakku sosok bang Anwar Utama—tentor kimia waktu aku Aliyah dulu.
Kubuka profilnya dan kubaca info dalam akunnya, Alhamdulillah…beliau telah menikah dengan seorang akhwat yang cantik nan anggun. Senyum tipis pun mengembang di bibirku teringat akan masa-masa les dulu. Kubuka juga friends list yang ada di akun facebook-nya, dan aku iseng untuk meng-add beberapa teman yang ada di-facebook-nya, bukan bermaksud apa-apa, aku hanya ingin menambah relasi, tidak labih. Dan salah satu nama facebooker yang aku add adalah Abdullah El-Khais yang aku sendiri tidak tahu siapa dia sebenarnya.
Beberapa hari setelahnya aku membuka kembali akun fb-ku dan terlihat beberapa notification disana, salah satunya adalah berita konfirmasi dari Abdullah El-Khais. Aku kirim pesan ke facebook-nya dan kuucapkan terimakasih atas kesediannya untuk mengkonfirmasi diriku menjadi temannya. Tak lama dia membalas pesanku dan mengucapkan salam kenal kepadaku, aku juga kembali membalas salam kenal untuknya.
Hari berganti hari, sejak saat itu kami sering berbalas pesan melalui akun facebook. Kami bertanya banyak hal tentang identitas diri kami masing-masing dari mulai kuliah, aktivitas, sampai daerah asal orang tua kami. Entah mengapa, sejak kehadirannya itu aku merasa sedikit terhibur dan aku jadi bisa melupakan mantan kekasihku secara perlahan.
Seiring berkirim dan berbalas pesan di facebook, aku malah ingin mengenalnya lebih dekat. Tapi aku tak tahu dengan cara apa aku bisa mengetahui banyak hal tentangnya. Aku begitu segan untuk meminta nomor ponselnya. Pikiran ini mengacak-acak otakku, hingga sampai akhirnya aku menemukan ide untuk meninggalkan saja nomor ponselku di pesan facebook-nya, mau dihubungi atau tidak itu urusan belakangan yang penting aku sudah berusaha.
“Assalamualaikum, Bu guru…” upzz…satu pesan masuk di ponsel Nokia yang bernomor As. Nomor pengirimnya tak dikenal tapi kartu yang digunakannya adalah Xl.
Aku membalasnya dari ponselku yang satu lagi dengan nomor Xl juga.
“Wa’alaikumsalam, ini siapa ya? By: islamiani.s.”
Tak lama hp ku berdering kembali.
Kubuka pesan yang kuterima, “coba tebak dong…”
Sepontan otakku berpikir ini pasti Abdullah El-Khais, teman facebook-ku.
Lalu aku balas SMS-nya.
“Ini Abdullah El-Khais ya?” tanyaku padanya.
Dia pun membalas kembali sms dariku.
“iya….” Jawabnya singkat.
Aku sangat senang mendengarnya. Sejak saat itu pula kami sering SMS-an dan aku mulai menemukan kembali semangat hidupku.
Bulan Ramadhan
Hampir setiap hari SMS terus berlanjut. Ada rona senyum ketika menerima SMS darinya. Dan tanpa kusadari diam-diam aku selalu menantikan SMS darinya.
Tiba-tiba guru SD-ku dulu menelponku. Beliau menanyakan keseriusanku dengan tawaran temannya yang katanya ada hati denganku. Namanya Mario—seorang guru PNS di SD—yang tinggal disebelah kampungku. Dari awal kenal, dia sudah ada hati denganku. Bahkan mau menungguku sampai aku selesai kuliah. Tapi yang namanya hati tetaplah tak bisa dipaksakan, sedikitpun aku tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapanya. Dan akupun tak hendak memberi harapan apapun padanya.
Diwaktu yang bersamaan, Dicky—anak medan—juga mendesakku untuk mau menemukannya dengan orang tuaku. Dia mengajakku untuk menikah. Owh…sempat pusing juga aku saat itu. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi aku takut kalau nanti ku tolak jodohku akan menjauh.
Entahlah… akhirnya aku tuliskan saja keluh kesahku itu di status facebook-ku. Pada saat itu pula Abdullah El-Khais mengomentari statusku.
Malam harinya dia mengirim SMS untukku dan menanyakan tentang tulisan di akun facebook-ku tadi pagi. Awalnya aku tak mau cerita, tapi dia terus memaksa dan akhirnya aku bocorkan juga isi statusku itu. Dia pun bertanya mengapa aku menolaknya? Aku hanya menjawab karena kedua lelaki itu bukan criteria lelaki yang aku inginkan. Abdullah El-Khais terus bertanya siapa sebenarnya yang sedang aku inginkan untuk datang dan seperti apa kriterianya? aku hanya menjawab “Ada deh….”
Pertanyaannya itu sempat membuat aku hampir hilang control. Bagaimana tidak, yang aku inginkan saat ini adalah dia dan criteria lelaki yang kuinginkan adalah seperti dia. Ya Allah…ternyata diluar kesadaranku aku sudah jatuh cinta padanya, pada seorang lelaki yang belum pernah kulihat wajahnya. Bahkan mendengar suaranya juga belum pernah.
Ingin sekali aku mendengar suaranya. Kucoba menelponnya namun tetap saja dia tidak mau mengangkat panggilan telp dariku. Dia hanya mengirimkan pesan singkat.
“Ada apa miscalled?” tanyanya disuatu siang.
“Mengapa tidak diangkat?” balik aku bertanya.
dia malah menjawab bahwa dia tidak mau ditelpon. Aneh sekali pikirku. Mengapa dia tidak mau ditelp? Aku semakin penasaran atas sikapnya yang seperti itu.
Kupelajari kembali tentang dia melalui akun facebook-nya. Oh… ternyata dia adalah seorang ikhwan yang sangat menjunjung tinggi agama. Subhanallah…lelaki seperti ini yang selama ini kucari.
Jantungku berdetak hebat. Bulu-bulu kudukku spontan berdiri. Dalam hati aku hanya bisa berbisik pelan, “ya Allah…jika memang ia adalah jodoh yang kau kirimkan untukku, maka dekatkanlah.”
September Bahagia
Teman akrabku yang kuliah di bandung pulang kerumah. Kami berencana untuk mengadakan reuni dengan teman-teman SD satu genk. Dan akhirnya rencana itu pun terlaksana.
Kami mengadakan reuni di rumah teman kami Eli. Tentu saja dalam suasana seperti ini aku sibuk dengan mereka. Berbagi cerita, pengalaman, dan sharing tentang banyak hal yang membuat aku melalaikan sebentar ponselku.
Tanpa kusadari ada pesan multimedia yang masuk ke ponselku. Ternyata satu pesan dari Abdullah El-Khais. Dia mengirimkan foto dengan memakai kemeja kuning yang dipadukan pada senyumnya yang sangat tipis itu. Dag dig dug…jantungku berdetak hebat. Perasaan apa ini? sampai-sampai hatiku bergetar seperti ini.
Foto itu kupindahkan di laptopku. Kujaga baik-baik disana dengan harapan aku bisa melihatnya ketika aku begitu merindukannya. Aneh memang…belum pernah berjumpa tapi perasaan ini terus membuncah bak riak ombak yang tiada pernah berhenti.
Malam itu dimana masih dalam suasana lebaran, aku dan Abdullah El-Khais masih SMS-an. Dia memintaku untuk mengiirim foto lagi. Dan saat itu juga aku kirim dengan minta bantuan ibuku untuk mengambilkan fotonya.
Setelah selesai kukirim ada satu sms yang isinya begitu sangat membuatku terkejut.
“Fitri, bolehkah aku memanggil fitri dengan panggilan ‘Umi’?”
Mataku terbelalak membacanya. Apa maksud dari SMS-nya itu?
Kemudian aku membalas SMS-nya, “apa maksud dari panggilan itu?”
Tak lama diapun membalas sms dariku.
“Maaf…udah lupakan aja SMS tadi ya?” pintanya.
Aku semakin bingung dengan tingkah lakunya pada malam itu.
Aku mengirim SMS lagi kepadanya tapi dia tidak membalas lagi SMS yang aku kirim.
Kulihat jam ditanganku. Jarum jam sudah menunjukkan angka 10. Mungkin dia sudah tidur. Ya sudahlah….
Oktober Penuh Do’a
Hubungan kami terus berlanjut. Walau hanya lewat SMS itu sudah cukup membuatku merasa nyaman. Bahkan jika dalam 2 hari saja tidak ada SMS darinya aku merasa sangat kehilangan. Aku tidak tahu apakah ini yang namanya ‘cinta’?
Doa-doa tulus dan suci selalu mengiringi di akhir shalatku. Terkadang tanpa kusadari air mata juga menetes dipipi. Dada bergetar. Panas dingin menyelimuti sekujur tubuhku. Entah mengapa semua ini terjadi begitu saja disaat aku memanjatkan doa khusus itu. Konsentrasipun menguat tanpa di suruh. Membawaku pada imajinasi yang kurasakan sangat mirip dengan kenyataan. Semuanya tergambar begitu jelas. Dengan penuh pengharapan aku terus memohon, meminta, dan memelas pada yang kuasa tentang jawaban dari perasaan ini. Tapi bagaimanapun aku harus tetap pasrah dengan apapun hasil yang akan Allah berikan untukku dan aku yakin itu semua yang terbaik itu hidupku.
“ya Allah, hamba sangat mencintainya. Hamba merasa dialah yang pantas untuk hamba. Namun hanya Engkaulah yang Maha Tahu. Hanya Engkaulah yang paham atas hamba-Mu. Wahai Sang Pemilik hati… jika memang dia adalah terbaik untukku maka dekatkanlah hati kami. Satukanlah jiwa kami dalam ikatan yang penuh cinta. Ikatan tali pernikahan yang suci nan abadi. Ya Allah… jika memang dia adalah pendamping yang akan kau kirim untukku, maka tumbuhkanlah rasa cinta dan kasih sayang dihati kami. Peliharalah perasaan ini hingga sampai pada waktunya tiba. Kerahkanlah seluruh keberaniannya untuk mngungkapkannya padaku. Ya Allah... ya Rabbi… jadikanlah aku yang halal untuknya. Jadikanlah aku ibu dari anak-anaknya. Jadikanlah aku pendamping hidupnya dikala suka maupun dukanya. Di dunia dan di akhirat. Ya Allah… hamba menyadari banyaknya kekurangan dalam diri hamba. Hamba tak memiliki kekuatan apapun untuk bisa memikatnya. Namun aku tahu Engkau adalah segala-galanya. Hanya dengan izin-Mu kami dapat bertemu. Hanya dengan Keridhoan-Mu kami dapat bersatu. Amin ya robbal’alamin.”
Doa inilah yang selalu kupanjatkan dissetiap shalatku. Maafkan aku yang begitu ingin memilikimu.
Malam itu aku dan temanku pergi ke rental untuk menge-print RPP yang harus diserahkan ke guru pamong pada esok hari.
Dalam perjalanan itu pula aku ber-SMS ria dengan Abdullah El-Khais. Aku bertanya padanya tentang beasiswa S2. Dia pun menjelaskannya hingga detail. Ternyata kami mempunyai keinginan yang sama untuk melanjutkan studi kami di Jawa. Tapi aku ingin melanjutkan ke ITB sedangkan dia ingin melanjutkan ke UNAIR Surabaya. Kami sama-sama mendukung dengan keinginan kami ini. Dan tiba-tiba saja dia meminta izin untuk memanggilku ‘sayang’. Upss… sempat jantungan juga aku mendengarnya. Dan langsung aku setujui panggilan itu, karena aku juga begitu sangat menyayanginya.
November di Medan
Tak habis-habisnya rasa sayang ini padanya. Hanya kerinduan dan kerinduan yang bisa aku rasakan. Ini adalah hari terakhirku di Sei Rampah dan akan kembali ke Medan karena masa PPL telah selesai. Harapanku saat ini adalah bisa menemuimu di Medan nanti. Tapi semua terserah kehendak yang Maha Kuasa.
Hari-hariku disini pun begitu bersemangat. Banyak perubahan yang terjadi dikota ini. Mungkin karena sudah 4 bulan aku meninggalkan kota ini. Terutama jalan simpang Unimed. Ternyata sudah ada lampu merahnya disitu. Berarti gak perlu saling berebut lagi dong….
Hari berganti hari. Waktu berganti waktu. Walau SMS kami terus berjalan namun semua ini hanya sebatas tulisan saja. Aku belum bisa mempercayai 100% isi dari SMS-SMS itu. Tapi aku yakin kalau itu semua adalah ketikan yang tertuang dari hasil pemikirannya.
Entah kenapa aku ingin sekali bertemu dengannya tapi aku tak punya keberanian yang extra untuk mengutarakan keinginanku ini padanya. Mungkin karena aku pernah berkata demikian padanya tapi hanya ditanggapi dengan begitu dingin. Atau karena dulu aku pernah mencoba ingin menelponnya tapi dia tidak mau menerimanya. Akhirnya aku beranggapan begini, “bicara lewat telfon aja gak mau apalagi ketemu?”
Semua ini aku nikmati saja. Sampai Allah sendiri yang akan mempertemukannya dengan jalan rahasianya. Enjoy aja dech…
Desember Berjuta Harapan
Tinggal beberapa hari saja usiaku akan genap menjadi 22 tahun. Sudah cukup umur nich untuk melangkah ke jenjang pernikahan hehehe….tapi calonnya mana?
Di bulan ini aku menginginkan banyak harapan yang bisa aku capai. Dan semua itu sudah aku rencanakan dengan jelas di buku harianku. Rencana-rencana itu tidak begitu muluk-muluk tapi sangat berpengaruh dalam kehidupanku. Mulai dari mentraining adik kelas, seminar proposal, dan menemuinya di RS. Adam Malik. Tapi dari ketiga target ini tidak ada satu target pun yang bisa kucapai pada bulan ini.
Mentraining adik kelas gagal karena tiba-tiba aku disuruh menyelesaikan proposal skripsiku dalam minggu ini oleh dosen pembimbingku. Padahal waktu dan tempat untuk mentraining sudah ditentukan oleh guru di sekolah itu.
Seminar proposal gagal karena banyaknya minggu libur pada bulan desember ini. Selain itu juga peserta yang akan seminar sudah penuh dan melebihi kapasitas sehingga seminarku terpaksa diundur hingga bulan Januari mendatang.
Nah untuk yang satu ini aku belum punya nyali untuk menemuinya disana karena ada banyak hal yang aku pertimbangkan sebelum aku nekat untuk menemuinya. Aku takut dia tidak mengenaliku, aku takut dia tidak mau menemuiku, dan aku takut bila kelakuanku ini malah membuatnya malu. Ya begitulah….
“Assalamualaikum dek, Barakillahu laka fi miladik, semoga diberi umur, ilmu dan harta yang berkah amin,” sebuah pesan dari Abdullah El-Khais di hari ulang tahunku akhirnya datang juga.
Bahagia ini tak bisa terlukiskan lagi. Ucapan darinyalah yang dari tadi sangat aku tunggu-tunggu. Terimakasih ya Rabb… kau telah kabulkan keinginanku. Tapi ucapannya itu sempat membuat aku bingung juga. Darimana dia tahu hari kelahiranku. Bukankah facebook-nya sudah lama di deactiv-kannya? Hal ini masih menjadi misteri bagiku dan aku harus mengungkapnya dalam beberapa hari ini.
Masih di hari Rabu. Tepatnya tanggal 8 desember 2010 yaitu hari ulang tahunku. Usai magrib aku mencoba mengirimkan SMS untuknya. Dan beruntung sekali SMS-ku dibalasnya. Memang sudah aku rencanakan sehari sebelumnya bahwa dihari ulang tahunku ini aku ingin mengisinya dengan sesuatu yang membuatku bahagia. Dan saat ini yang membuatku bahagia adalah dengan ber-SMS ria bersama Abdullah El-Khais.
Banyak hal yang kami ceritakan disini terutama tentang ceritaku yang menganggapnya sebagai inspirasiku. Aku juga tak habis pikir mengapa aku menganggapnya demikian. Tapi memang inilah yang kurasakan pada diriku setelah kurang lebih selama 4 bulan aku mengenalnya. Dia bisa membuatku kembali bersemangat dalam belajar dan ibadah bahkan aku sendiri mulai merasa banyak perubahan yang dulunya aku masih doyan memakai celana panjang keluar rumah, kini aku nerusaha untuk selalu memakai rok kemana-kemana. Jilbabku pun sedikit demi sedikit mulai kupanjangkan walaupun belum seperti para akhwat. Mungkin aku masih takut untuk berubah total seperti itu karena belum ada pendukung dan penguatku.
Kami bercerita lagi tentang pernikahan. Ketika dia bertanya kepadaku kapan siap menikah, aku menjawab masih menunggu pangeran yang dikirim Allah untukku. Aku kembali menanyakan hal yang sama padanya. Jawabannya, ternyata dia masih ingin mengejar cita-cita sampai ia sukses terlebih dahulu. Jawaban itu bagaikan petir ditelingaku. Ya Allah… masih begitu jauhkah pemikirannya tentang pernikahan atau jangan-jangan dia telah memiliki calon pasangan yang pastinya bukan diriku? Mendadak tanganku lemas tak berdaya. Air mataku pun terasa ingin jatuh saja. Namun aku mencoba untuk rileks dalam menghadapi ini semua. Aku hanya mengirimkan SMS terakhirku untuknya malam itu.
“Dahulukan yang sunnah.” Ucapku.
Esok harinya aku barubah pikiran. Aku tak bergairah lagi untuk menikah dalam dua tahu ini. Sepertinya target yang sudah aku pajang dikamarku mesti aku ralat lagi. Yaitu dengan memindahkan waktu menikah ditahun berikutnya.
Aku menggantikan rencana dalam dua tahun ini dengan rencana melanjutkan S2 ke UI atau ke ITB. Mungkin ini adalah satu-satunya cara untuk bisa aku bertahan menunggunya sampai sukses dahulu. Sebenarnya ini adalah sebuah tindakan yang sangat menyiksa bagiku. Tapi bukankah ini pula yang terbaik yang dapat aku lakukan? Aku sadar bahwa apa yang aku pikirkan belum tentu ia pikirkan juga. Dan apa yang aku rasakan belum tentu dia dapat rasakan juga. Aku mengharap dialah pendamping hidupku. Tapi belum tentu juga dia memiliki harapan yang sama seperti aku.
Inilah cintaku. Aku ingin menunggunya sampai kapanpun. Kalaupun kami tidak berjodoh, aku hanya ingin menikah setelah dia menikah dengan orang lain. Aku ingin tunjukkan pada dunia dan seisi alam bahwa aku sanggup menjaga rasa ini.
Hari ini aku menemani sahabatku nge-print di rental. Sambil menunggunya hingga selesai, aku sempatkan sebentar untuk online.
Ku buka facebook-ku. Kubaca kembali ucapan-ucapan ultah di dinding akunku.
Met milady a dek, barakillah. Ucapan ini tak asing lagi. Dan ucapan ini sama persis dengan ucapan Abdullah El-Khais yang dikirimnya melalui SMS tadi. Mengapa aku bisa menduga seperti itu? Karena kesalahan penulisannya sama. Seharusnya ‘barakallahu fiki’ bukan ‘barakillah fika’. Ini yang aku tahu selama aku belajar bahasa arab di pesantren.
Dengan penuh penasaran ku buka inbox FB-ku. Kubaca kembali pesan yang masuk dari Abdullah El-Khais dulu. Dan ternyata benar, akunnya telah berganti nama menjadi La Tahzan. Masyaallah… aku menjadi malu dengan diriku sendiri. Aku malu jika selama ini ia membaca status-statusku yang 25%-nya adalah mengenai dirinya. oh my god mimpi apa aku kemarin.
Mulai saat itu aku sangat berhati-hati dengan statusku. Aku tak lagi berkoak seenaknya di facebook. Aku merasa malu dan sangat malu sekali.
Setelah kejadian itu entah kenapa dia begitu sangat breubah kepadaku. Tak ada lagi kata-kata mesra yang ia kirmkan kepadaku. Bahkan panggilan ‘sayang’ atau ‘Humairoh’ tak pernah ku dengar lagi. Perlahan aku menerka-nerka. Mungkinkah dia mulai tak memiliki rasa sayang itu lagi? Setelah banyak aku renungkan kembali, jiwaku tersentak oleh pikiran sadarku. Sambil tersenyum sendiri aku bergumam “Aku yang terlalu banyak mengharap dan bermimpi.”
Awal Tahun yang Tertunda, 2011
Harusnya awal tahun ini aku sudah bisa menatapnya dengan kedua bola mataku. Karena dia akan berdiri didepanku, di acara seminar ini.
Seminggu yang lalu kutawarkan sebuah seminar Parade Cinta dan Bedah Buku bersama Salim A Fillah. Ia merespon begitu hangat untuk mengikuti acara itu. Sepontan bahagiaku melanda. Karena aku akan bisa bertemu dengannya. Dan mungkin akan bisa mendengar suaranya. Tapi Allah berkehendak lain saat ini, karena tiba-tiba saja acara tersebut diundurkan hingga bulan februari mendatang. Tentu saja rencanaku kali ini batal. Sedih juga rasanya. Karena kesempatan itu hilang secara tiba-tiba.
Akhirnya aku mengikuti acara motivatour bersama pak Qodrisyah. Ya Allah… begitu payahnyakah untuk bisa bertemu dengannya?? Tapi aku tak ingin putus asa. Suatu saat nanti aku pasti bisa bertemu denganya. Dengan orang yang begitu mempengaruhi hidupku.
Kerinduan ini semakin membuncah. Sayang ini juga semakin bertambah-tambah. Walaupun komunikasi itu sudah jarang terjalin.
Masih ku ingat peristiwa siang itu. Dikala aku iseng untuk menelponnya. Tujuannya adalah hanya ingin mendengar suaranya. Ku setting-an pada ponselku. Agar panggilan yang diterimanya nanti terlihat privat number dilayar hpnya. Pertama tidak diangkat. Tapi untuk yang kedua kalinya diangkat.
“halo…” ucapnya dari kejauhan sana.
Aku tidak menjawab apa-apa. Aku hanya mendengarkan suaranya yang lembut.
Kututup telpon itu. Aku tidak ingin dia curiga dengan hal ini. Langsung saja dadaku bergemuruh. Nafasku tidak beraturan. Jantungku berdetak sangat hebat. Subhanallah… belum pernah aku merasakan sesuatu yang begitu dahsyat seperti ini. Dengan hanya mendengar suaranya saja sudah membuat aku terhipnosis.
Tanpa terasa sudah hamper 6 bulan aku mengenalnya. Selama ini pula aku belum pernah berjumpa dengannya. Padahal kami masih tinggal 1 kota. Aku mulai menyusun rencanaku dan aku berjanji dalam diriku sendiri bahwa dalam dua bulan ini aku akan memberikan hadiah yang istimewa untuk hatiku. Yaitu dengan menemuinya. Sabar ya sang hati… karena aku akan menyusun rencana untukmu. Untuk kebahagiaanmu dan untuk kisah cintamu yang selanjutnya. Jangan pernah lelah mencintainya karena mencintainya adalah hal yang terindah…..
Januari, Dalam Revisi
Masing-masing merasa kuat dengan argumennya masing-masing. Saling bertentangan dan tanpa kesepakatan. Dua penguji dengan pendapat yang sangat bertolak belakang. Yang satu memberikan pengarahan seperti ini dan yang lain memberi pengarahan yang berbeda. Yakni, antara perubahan judul dan pertahan judul. Akhirnya satu kalimat yang cocok diucapkan yaitu gak nemu.
Semua ini berdampak pada diriku yang sampai saat ini belum juga kelar melakukan revisi proposal penelitianku. Padahal dalam bulan ini aku harus penelitian ke lapangan. Ini adalah hal yang sulit bagiku untuk mengambil sebuah keputusan.
“Malam ini Bapak beri kamu waktu untuk merenungkan mana yang akan kamu ikuti.” Ucapnya di siang itu.
Aku hanya bisa menunduk mendengarkan kata-kata dosen pengujiku. Dengan mata yang berkaca-kaca dan sambil mengangguk pasrah aku berlalu meninggalkannya.
“baik, perimisi Pak.” Pamitku.
Adzan magrib pun berkumandang. Kusucikan diriku dengan penuh khidmat. Ada ketenangan yang kurasakan di sisi hatiku, setelah semuanya kubasuh. Ah… memang benar kata hadist dengan wudhu hati kita akan jauh lebih tenang.
Kubentangkan sajadah abu-abuku. Kupakai mukenahku dan bersiap untuk menghadap kepada Sang Maha Pencipta.
“Allahuakbar….” Takbir pertama telah kulantukan, pertanda shalat pun dimulai.
Sesekali pikiranku melayang tak tentu. Yang terbayang dipelupuk mataku adalah wajah-wajah kecoklatan dosen PS dan para dosen pengujiku. Perlahan air mata meleleh membasahi kelopak mata. Dan terus mengalir bak sungai membasahi pipiku. Sesenggukan aku dalam isak tangis dan meningglakan sisa-sisa air mata di mukenah hijauku. Mengadu dan terus mengadu serta memohon petunjuk kepada Allah agar dimudahkan segala urusan.
Dzikir, do’a, dilanjutkan dengan shalat sunnah ba’diyah. Setelah itu disambung dengan melantukan ayat mushaf-Nya. Diiringi dengan air mata yang terus jatuh tanpa kenal kompromi.
Setelah selesai semuanya, kusandarkan tubuhku di bilik yang hanya terbuat dari kayu. Merenungkan kembali keputusan apa yang akan kuambil. Kuraih ponsel Nokiaku dan kucoba mengirimkan sebuah pesan ke nomor ponsel Abdullah El-Khais. Awalnya tak ada balasan. Kukirimkan pesan untuk yang kedua kalinya. Akhirnya dia membalasnya.
Kuceritakan kegundahanku malam ini. Dan berharap dia mampu memberikan solusi, memotivasi, atau sekedar mendengarkan apa yang ingin kusampaikan. Karena berkomunikasi dengannya sudah cukup membuat hati ini tenang. Tapi ternyata dia tak bergeming. Tak ada balasan lagi, dan hanya membiarkan 3 SMS terakhirku tanpa balasan. Miris…..
Sebenarnya aku hanya ingin bercerita. Hanya ingin meluahkan segala kekesalan yang aku hadapi seharian tadi. Ingin bercerita pada ibu, tapi aku takut beliau malah khawatir dengan ini semua. Bercerita ke sahabat, mereka sedang jauh. Kubiarkan air mataku mengalir sambil meng-update status di facebook. Hanya untuk sekedar melepas kekesalan…..
Selasa malam, 8 februari 2011, pkl.21:30
Malam perenungan untuk mengambil sebuah keputusan.
CATATAN FEBRUARI
Oleh: Niswah Adz-Dzikriyah
Pencarian Pertama
RS. Haji, 17 Februari 2011
Jam sudah menunjukkan angka 15.30 WIB. Pertanda perkuliahan Fisika Sekolah akan segera berakhir. Dila—teman dekatku dikampus—berbisik ditelingaku.
“Mi, gak ada niat ke RS. Haji? Biar aku temani,” tawarnya lembut.
Spontan aku terbelalak.
“Ngapaen ke RS. Haji?” tanyaku penasaran.
“loo… katanya mau nengok Abdullah El-Khais, ayo aku kawani,” jawabnya tulus.
“Hmmm…bolehlah, tapi janji jangan ngomong ama siapa-siapa ya. Termasuk ke temen kita 3 lagi itu,” pintaku memelas.
“siiip lah.” ucapnya meyakinkanku.
Kamipun menuju RS. Haji dengan mengendarai angkot 121.
Tak lama kami pun tiba disana. Suasana sudah agak sepi. tidak banyak orang yang berkeliaran disana. Pencarianpun dimulai. Kami menyusuri semua lorong yang ada di rumah sakit itu. Yang kami tuju pertama adalah Kamar Bedah. Karena informasi yang aku dapat Abdullah El-Khais berada pada stase bedah. Dan hasilnya nihil.
Hanya tinggal beberapa dokter muda saja yang masih ada disana. Dan yang mendominasinya adalah perempuan. Tapi kami belum juga menyerah. Penelusuran pun kami jalankan hingga sampai keruangan yang pojok. Bahkan kami ada 3 kali keluar masuk rumah sakit itu.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Kami sudah cukup lelah mencarinya. Dan kelihatannya mereka sudah pulang semua.
“SMS aja mia,” saran temanku padaku.
“Aku takut, nanti dia curiga kalo aku tanya dia lagi dimana,” jawabku pelan.
“Jangan tanya dia dimana lah, bilang aja dia udah pulang apa belum?” sarannya lagi.
Upsss… bener juga saran temanku itu. Akhirnya aku mulai mengetik pesan singkat ke nomornya.
“Assalamualaikum. Udah pulang, Abdullah?” satu SMS telah melayang.
Tak lama pun berita terkirim telah disampaikan. Sambil menunggu balasan SMS darinya, kami duduk di trotoar RS. Haji itu. Setelah lama kami menunggu, balasan pesan darinya tidak juga datang. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Dan usaha pertama masih belum berhasil.
Pencarian Kedua
RS. Haji, 18 Februari 2011
“Tadi Pak Purwanto SMS indah, katanya hari ini bapak itu tidak masuk dan bapak itu minta ganti hari lain aja.” Indah meng-info-kan berita ini padaku.
Akupun bersorak riang dalam hati. Akhirnya aku bisa melanjutkan pencarianku yang kedua.
Kembali aku ajak dila. Setelah diskusi Fisika Kuantum dan Manajemen Pengelolaan Laboratorium selesai, kami langsung cabut ke RS. Haji. Semoga kali ini berhasil, doaku dalam hati.
Jalan yang kami susuri pertama adalah mesjid. Karena hari ini adalah hari Jumat. Dan semua dokter pasti melaksananakan shalat jumat disana.
Aku dan Dila berdiri di trotoar dekat mesjid. Satu persatu jama’ah shalat jumat keluar meninggalkan mesjid. Dengan jeli ku pandangi satu per satu jema’ah yang keluar. Berharap dia adalah salah satu dari mereka. Sampai tinggal beberapa orang saja yang ada dimesjid tidak juga ku menemukan dirinya.
“gak ada dil,” ucapku pada sahabatku.
“ya udah, kita cari di tempat yang lain aja.” Usulnya.
Setelah selesai shalat dhuhur dimesjid, kami melanjutkan melakukan pencarian ke seluruh ruangan. Ke lorong-lorong yang paling sudut sekalipun. Dengan satu harapan masih bisa menemuinya. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaannya disana. Bahkan teman-temannnya sekalipun tidak terlihat batang hidungnya. Yang ada hanyalah para dokter muda berkacamata yang aku yakin betul itu bukanlah dirinya.
Sudah 3 jam kami disini. Bolak-balik seperti ‘strikaan’ pakaian, demi menemukan sosok Abdullah El-Khais yang mebuatku penasaran selama ini. Lelah, letih, capek, dan kecewa mulai merasuk dalam jiwaku. Tidak ada pilihan lain kecuali dengan menikmatinya. Dalam hati ini diriku terus berdoa.
“Ya Allah…pertemukanlah hamba dengannya atau perlihatkanlah sedikit saja sosoknya karena hamba hanya ingin melihatnya bukan menemuinya. Hamba hanya ingin melihat dirinya dengan nyata. Hamba tidak akan menegurnya, apa lagi menyapanya. Ya Allah… hamba hanya ingin melihatnya”.
Waktu terus berlalu. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB.
“Kita pulang aja yuk,” pintaku memecah kesunyian. Karena tampak jelas rasa letih di wajah dila.
“Yakin mi, gak nyesel? Kalo gak telp aja dulu atau SMS,” sarannya padaku.
Aku menggelengkan kepala.
“Gak dil,,, udah 3 jam kita disini. Lagian kita juga gak ada tampak tanda-tanda keberadaannya.” Lirihku pelan.
“Oh…ya udah kalo gitu, semoga dirimu akan dipertemukan di waktu yang lebih indah.” Timpalnya.
“Amin….”
Kami pun berjalan keluar meninggalkan RS. Haji. Mungkin Allah memang belum mengijinkan untuk bertemu.
Bulan ini adalah bulan kepenatanku. Bagaiaman tidak, banyak hal yang harus aku hadapi dan aku jalani, semuanya menuntut pikiran yang extra untuk bisa diselesaikan kedua-duanya. Dalam bidang akademisku aku harus menjalani Program Pengajaran Lapangan (PPL) selama 4 bulan yang berketepatan ditempatkan di kampong kelahiranku yaitu Sei Rampah. Disisi lain, hubungan asmaraku mulai tak jelas dengan seorang lelaki yang usianya 5 tahun di atasku. Hubungan kami akhir-akhir ini mulai tak jelas, mungkin karena aku yang terlalu banyak menuntut kepadanya…ya sudahlah, mungkin memang belum jodoh dan Allah ingin menunjukkan rahasianya di balik semua ini. Aku yakin itu.
Dalam keadaan yang membuatku cukup tertekan, tetes air mata yang sering meleleh di pipi membuat agak sedikit mengganggu aktivitas PPL-ku. Entah kenapa hari-hari yang kualami merasa begitu sepi walaupun aku berada disekeliling keramaian. Senyum yang ku tebar juga merupakan senyum palsu yang ingin menyembunyikan remuk redam di dadaku. Mungkin karena ini adalah hal pertama yang pernah aku alami dalam gagalnya hubungan asmaraku sehingga aku merasa benar-benar tak berdaya dan mungkin juga karena selama ini aku sangat menyayanginya sehingga belum sanggup jika harus kehilangan dia. Entahlah…tapi aku akan terus berusaha semampuku untuk menghapus kesedihanku ini.
“Masa sih aku jadi lemah hanya karena masalah cinta, ihh…gak banget!” kalimat inilah yang menjadi motivasi untuk aku bisa bangkit kembali.
Awal Mula Perkenalan
Masih dalam suasana kegundahanku, kucoba membuka akun facebookku sebelum menjelang tidur malam. Perlahan ku baca status-status yang ada didalam akun facebook tersebut, tiba-tiba terngiang dibenakku sosok bang Anwar Utama—tentor kimia waktu aku Aliyah dulu.
Kubuka profilnya dan kubaca info dalam akunnya, Alhamdulillah…beliau telah menikah dengan seorang akhwat yang cantik nan anggun. Senyum tipis pun mengembang di bibirku teringat akan masa-masa les dulu. Kubuka juga friends list yang ada di akun facebook-nya, dan aku iseng untuk meng-add beberapa teman yang ada di-facebook-nya, bukan bermaksud apa-apa, aku hanya ingin menambah relasi, tidak labih. Dan salah satu nama facebooker yang aku add adalah Abdullah El-Khais yang aku sendiri tidak tahu siapa dia sebenarnya.
Beberapa hari setelahnya aku membuka kembali akun fb-ku dan terlihat beberapa notification disana, salah satunya adalah berita konfirmasi dari Abdullah El-Khais. Aku kirim pesan ke facebook-nya dan kuucapkan terimakasih atas kesediannya untuk mengkonfirmasi diriku menjadi temannya. Tak lama dia membalas pesanku dan mengucapkan salam kenal kepadaku, aku juga kembali membalas salam kenal untuknya.
Hari berganti hari, sejak saat itu kami sering berbalas pesan melalui akun facebook. Kami bertanya banyak hal tentang identitas diri kami masing-masing dari mulai kuliah, aktivitas, sampai daerah asal orang tua kami. Entah mengapa, sejak kehadirannya itu aku merasa sedikit terhibur dan aku jadi bisa melupakan mantan kekasihku secara perlahan.
Seiring berkirim dan berbalas pesan di facebook, aku malah ingin mengenalnya lebih dekat. Tapi aku tak tahu dengan cara apa aku bisa mengetahui banyak hal tentangnya. Aku begitu segan untuk meminta nomor ponselnya. Pikiran ini mengacak-acak otakku, hingga sampai akhirnya aku menemukan ide untuk meninggalkan saja nomor ponselku di pesan facebook-nya, mau dihubungi atau tidak itu urusan belakangan yang penting aku sudah berusaha.
“Assalamualaikum, Bu guru…” upzz…satu pesan masuk di ponsel Nokia yang bernomor As. Nomor pengirimnya tak dikenal tapi kartu yang digunakannya adalah Xl.
Aku membalasnya dari ponselku yang satu lagi dengan nomor Xl juga.
“Wa’alaikumsalam, ini siapa ya? By: islamiani.s.”
Tak lama hp ku berdering kembali.
Kubuka pesan yang kuterima, “coba tebak dong…”
Sepontan otakku berpikir ini pasti Abdullah El-Khais, teman facebook-ku.
Lalu aku balas SMS-nya.
“Ini Abdullah El-Khais ya?” tanyaku padanya.
Dia pun membalas kembali sms dariku.
“iya….” Jawabnya singkat.
Aku sangat senang mendengarnya. Sejak saat itu pula kami sering SMS-an dan aku mulai menemukan kembali semangat hidupku.
Bulan Ramadhan
Hampir setiap hari SMS terus berlanjut. Ada rona senyum ketika menerima SMS darinya. Dan tanpa kusadari diam-diam aku selalu menantikan SMS darinya.
Tiba-tiba guru SD-ku dulu menelponku. Beliau menanyakan keseriusanku dengan tawaran temannya yang katanya ada hati denganku. Namanya Mario—seorang guru PNS di SD—yang tinggal disebelah kampungku. Dari awal kenal, dia sudah ada hati denganku. Bahkan mau menungguku sampai aku selesai kuliah. Tapi yang namanya hati tetaplah tak bisa dipaksakan, sedikitpun aku tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapanya. Dan akupun tak hendak memberi harapan apapun padanya.
Diwaktu yang bersamaan, Dicky—anak medan—juga mendesakku untuk mau menemukannya dengan orang tuaku. Dia mengajakku untuk menikah. Owh…sempat pusing juga aku saat itu. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi aku takut kalau nanti ku tolak jodohku akan menjauh.
Entahlah… akhirnya aku tuliskan saja keluh kesahku itu di status facebook-ku. Pada saat itu pula Abdullah El-Khais mengomentari statusku.
Malam harinya dia mengirim SMS untukku dan menanyakan tentang tulisan di akun facebook-ku tadi pagi. Awalnya aku tak mau cerita, tapi dia terus memaksa dan akhirnya aku bocorkan juga isi statusku itu. Dia pun bertanya mengapa aku menolaknya? Aku hanya menjawab karena kedua lelaki itu bukan criteria lelaki yang aku inginkan. Abdullah El-Khais terus bertanya siapa sebenarnya yang sedang aku inginkan untuk datang dan seperti apa kriterianya? aku hanya menjawab “Ada deh….”
Pertanyaannya itu sempat membuat aku hampir hilang control. Bagaimana tidak, yang aku inginkan saat ini adalah dia dan criteria lelaki yang kuinginkan adalah seperti dia. Ya Allah…ternyata diluar kesadaranku aku sudah jatuh cinta padanya, pada seorang lelaki yang belum pernah kulihat wajahnya. Bahkan mendengar suaranya juga belum pernah.
Ingin sekali aku mendengar suaranya. Kucoba menelponnya namun tetap saja dia tidak mau mengangkat panggilan telp dariku. Dia hanya mengirimkan pesan singkat.
“Ada apa miscalled?” tanyanya disuatu siang.
“Mengapa tidak diangkat?” balik aku bertanya.
dia malah menjawab bahwa dia tidak mau ditelpon. Aneh sekali pikirku. Mengapa dia tidak mau ditelp? Aku semakin penasaran atas sikapnya yang seperti itu.
Kupelajari kembali tentang dia melalui akun facebook-nya. Oh… ternyata dia adalah seorang ikhwan yang sangat menjunjung tinggi agama. Subhanallah…lelaki seperti ini yang selama ini kucari.
Jantungku berdetak hebat. Bulu-bulu kudukku spontan berdiri. Dalam hati aku hanya bisa berbisik pelan, “ya Allah…jika memang ia adalah jodoh yang kau kirimkan untukku, maka dekatkanlah.”
September Bahagia
Teman akrabku yang kuliah di bandung pulang kerumah. Kami berencana untuk mengadakan reuni dengan teman-teman SD satu genk. Dan akhirnya rencana itu pun terlaksana.
Kami mengadakan reuni di rumah teman kami Eli. Tentu saja dalam suasana seperti ini aku sibuk dengan mereka. Berbagi cerita, pengalaman, dan sharing tentang banyak hal yang membuat aku melalaikan sebentar ponselku.
Tanpa kusadari ada pesan multimedia yang masuk ke ponselku. Ternyata satu pesan dari Abdullah El-Khais. Dia mengirimkan foto dengan memakai kemeja kuning yang dipadukan pada senyumnya yang sangat tipis itu. Dag dig dug…jantungku berdetak hebat. Perasaan apa ini? sampai-sampai hatiku bergetar seperti ini.
Foto itu kupindahkan di laptopku. Kujaga baik-baik disana dengan harapan aku bisa melihatnya ketika aku begitu merindukannya. Aneh memang…belum pernah berjumpa tapi perasaan ini terus membuncah bak riak ombak yang tiada pernah berhenti.
Malam itu dimana masih dalam suasana lebaran, aku dan Abdullah El-Khais masih SMS-an. Dia memintaku untuk mengiirim foto lagi. Dan saat itu juga aku kirim dengan minta bantuan ibuku untuk mengambilkan fotonya.
Setelah selesai kukirim ada satu sms yang isinya begitu sangat membuatku terkejut.
“Fitri, bolehkah aku memanggil fitri dengan panggilan ‘Umi’?”
Mataku terbelalak membacanya. Apa maksud dari SMS-nya itu?
Kemudian aku membalas SMS-nya, “apa maksud dari panggilan itu?”
Tak lama diapun membalas sms dariku.
“Maaf…udah lupakan aja SMS tadi ya?” pintanya.
Aku semakin bingung dengan tingkah lakunya pada malam itu.
Aku mengirim SMS lagi kepadanya tapi dia tidak membalas lagi SMS yang aku kirim.
Kulihat jam ditanganku. Jarum jam sudah menunjukkan angka 10. Mungkin dia sudah tidur. Ya sudahlah….
Oktober Penuh Do’a
Hubungan kami terus berlanjut. Walau hanya lewat SMS itu sudah cukup membuatku merasa nyaman. Bahkan jika dalam 2 hari saja tidak ada SMS darinya aku merasa sangat kehilangan. Aku tidak tahu apakah ini yang namanya ‘cinta’?
Doa-doa tulus dan suci selalu mengiringi di akhir shalatku. Terkadang tanpa kusadari air mata juga menetes dipipi. Dada bergetar. Panas dingin menyelimuti sekujur tubuhku. Entah mengapa semua ini terjadi begitu saja disaat aku memanjatkan doa khusus itu. Konsentrasipun menguat tanpa di suruh. Membawaku pada imajinasi yang kurasakan sangat mirip dengan kenyataan. Semuanya tergambar begitu jelas. Dengan penuh pengharapan aku terus memohon, meminta, dan memelas pada yang kuasa tentang jawaban dari perasaan ini. Tapi bagaimanapun aku harus tetap pasrah dengan apapun hasil yang akan Allah berikan untukku dan aku yakin itu semua yang terbaik itu hidupku.
“ya Allah, hamba sangat mencintainya. Hamba merasa dialah yang pantas untuk hamba. Namun hanya Engkaulah yang Maha Tahu. Hanya Engkaulah yang paham atas hamba-Mu. Wahai Sang Pemilik hati… jika memang dia adalah terbaik untukku maka dekatkanlah hati kami. Satukanlah jiwa kami dalam ikatan yang penuh cinta. Ikatan tali pernikahan yang suci nan abadi. Ya Allah… jika memang dia adalah pendamping yang akan kau kirim untukku, maka tumbuhkanlah rasa cinta dan kasih sayang dihati kami. Peliharalah perasaan ini hingga sampai pada waktunya tiba. Kerahkanlah seluruh keberaniannya untuk mngungkapkannya padaku. Ya Allah... ya Rabbi… jadikanlah aku yang halal untuknya. Jadikanlah aku ibu dari anak-anaknya. Jadikanlah aku pendamping hidupnya dikala suka maupun dukanya. Di dunia dan di akhirat. Ya Allah… hamba menyadari banyaknya kekurangan dalam diri hamba. Hamba tak memiliki kekuatan apapun untuk bisa memikatnya. Namun aku tahu Engkau adalah segala-galanya. Hanya dengan izin-Mu kami dapat bertemu. Hanya dengan Keridhoan-Mu kami dapat bersatu. Amin ya robbal’alamin.”
Doa inilah yang selalu kupanjatkan dissetiap shalatku. Maafkan aku yang begitu ingin memilikimu.
Malam itu aku dan temanku pergi ke rental untuk menge-print RPP yang harus diserahkan ke guru pamong pada esok hari.
Dalam perjalanan itu pula aku ber-SMS ria dengan Abdullah El-Khais. Aku bertanya padanya tentang beasiswa S2. Dia pun menjelaskannya hingga detail. Ternyata kami mempunyai keinginan yang sama untuk melanjutkan studi kami di Jawa. Tapi aku ingin melanjutkan ke ITB sedangkan dia ingin melanjutkan ke UNAIR Surabaya. Kami sama-sama mendukung dengan keinginan kami ini. Dan tiba-tiba saja dia meminta izin untuk memanggilku ‘sayang’. Upss… sempat jantungan juga aku mendengarnya. Dan langsung aku setujui panggilan itu, karena aku juga begitu sangat menyayanginya.
November di Medan
Tak habis-habisnya rasa sayang ini padanya. Hanya kerinduan dan kerinduan yang bisa aku rasakan. Ini adalah hari terakhirku di Sei Rampah dan akan kembali ke Medan karena masa PPL telah selesai. Harapanku saat ini adalah bisa menemuimu di Medan nanti. Tapi semua terserah kehendak yang Maha Kuasa.
Hari-hariku disini pun begitu bersemangat. Banyak perubahan yang terjadi dikota ini. Mungkin karena sudah 4 bulan aku meninggalkan kota ini. Terutama jalan simpang Unimed. Ternyata sudah ada lampu merahnya disitu. Berarti gak perlu saling berebut lagi dong….
Hari berganti hari. Waktu berganti waktu. Walau SMS kami terus berjalan namun semua ini hanya sebatas tulisan saja. Aku belum bisa mempercayai 100% isi dari SMS-SMS itu. Tapi aku yakin kalau itu semua adalah ketikan yang tertuang dari hasil pemikirannya.
Entah kenapa aku ingin sekali bertemu dengannya tapi aku tak punya keberanian yang extra untuk mengutarakan keinginanku ini padanya. Mungkin karena aku pernah berkata demikian padanya tapi hanya ditanggapi dengan begitu dingin. Atau karena dulu aku pernah mencoba ingin menelponnya tapi dia tidak mau menerimanya. Akhirnya aku beranggapan begini, “bicara lewat telfon aja gak mau apalagi ketemu?”
Semua ini aku nikmati saja. Sampai Allah sendiri yang akan mempertemukannya dengan jalan rahasianya. Enjoy aja dech…
Desember Berjuta Harapan
Tinggal beberapa hari saja usiaku akan genap menjadi 22 tahun. Sudah cukup umur nich untuk melangkah ke jenjang pernikahan hehehe….tapi calonnya mana?
Di bulan ini aku menginginkan banyak harapan yang bisa aku capai. Dan semua itu sudah aku rencanakan dengan jelas di buku harianku. Rencana-rencana itu tidak begitu muluk-muluk tapi sangat berpengaruh dalam kehidupanku. Mulai dari mentraining adik kelas, seminar proposal, dan menemuinya di RS. Adam Malik. Tapi dari ketiga target ini tidak ada satu target pun yang bisa kucapai pada bulan ini.
Mentraining adik kelas gagal karena tiba-tiba aku disuruh menyelesaikan proposal skripsiku dalam minggu ini oleh dosen pembimbingku. Padahal waktu dan tempat untuk mentraining sudah ditentukan oleh guru di sekolah itu.
Seminar proposal gagal karena banyaknya minggu libur pada bulan desember ini. Selain itu juga peserta yang akan seminar sudah penuh dan melebihi kapasitas sehingga seminarku terpaksa diundur hingga bulan Januari mendatang.
Nah untuk yang satu ini aku belum punya nyali untuk menemuinya disana karena ada banyak hal yang aku pertimbangkan sebelum aku nekat untuk menemuinya. Aku takut dia tidak mengenaliku, aku takut dia tidak mau menemuiku, dan aku takut bila kelakuanku ini malah membuatnya malu. Ya begitulah….
“Assalamualaikum dek, Barakillahu laka fi miladik, semoga diberi umur, ilmu dan harta yang berkah amin,” sebuah pesan dari Abdullah El-Khais di hari ulang tahunku akhirnya datang juga.
Bahagia ini tak bisa terlukiskan lagi. Ucapan darinyalah yang dari tadi sangat aku tunggu-tunggu. Terimakasih ya Rabb… kau telah kabulkan keinginanku. Tapi ucapannya itu sempat membuat aku bingung juga. Darimana dia tahu hari kelahiranku. Bukankah facebook-nya sudah lama di deactiv-kannya? Hal ini masih menjadi misteri bagiku dan aku harus mengungkapnya dalam beberapa hari ini.
Masih di hari Rabu. Tepatnya tanggal 8 desember 2010 yaitu hari ulang tahunku. Usai magrib aku mencoba mengirimkan SMS untuknya. Dan beruntung sekali SMS-ku dibalasnya. Memang sudah aku rencanakan sehari sebelumnya bahwa dihari ulang tahunku ini aku ingin mengisinya dengan sesuatu yang membuatku bahagia. Dan saat ini yang membuatku bahagia adalah dengan ber-SMS ria bersama Abdullah El-Khais.
Banyak hal yang kami ceritakan disini terutama tentang ceritaku yang menganggapnya sebagai inspirasiku. Aku juga tak habis pikir mengapa aku menganggapnya demikian. Tapi memang inilah yang kurasakan pada diriku setelah kurang lebih selama 4 bulan aku mengenalnya. Dia bisa membuatku kembali bersemangat dalam belajar dan ibadah bahkan aku sendiri mulai merasa banyak perubahan yang dulunya aku masih doyan memakai celana panjang keluar rumah, kini aku nerusaha untuk selalu memakai rok kemana-kemana. Jilbabku pun sedikit demi sedikit mulai kupanjangkan walaupun belum seperti para akhwat. Mungkin aku masih takut untuk berubah total seperti itu karena belum ada pendukung dan penguatku.
Kami bercerita lagi tentang pernikahan. Ketika dia bertanya kepadaku kapan siap menikah, aku menjawab masih menunggu pangeran yang dikirim Allah untukku. Aku kembali menanyakan hal yang sama padanya. Jawabannya, ternyata dia masih ingin mengejar cita-cita sampai ia sukses terlebih dahulu. Jawaban itu bagaikan petir ditelingaku. Ya Allah… masih begitu jauhkah pemikirannya tentang pernikahan atau jangan-jangan dia telah memiliki calon pasangan yang pastinya bukan diriku? Mendadak tanganku lemas tak berdaya. Air mataku pun terasa ingin jatuh saja. Namun aku mencoba untuk rileks dalam menghadapi ini semua. Aku hanya mengirimkan SMS terakhirku untuknya malam itu.
“Dahulukan yang sunnah.” Ucapku.
Esok harinya aku barubah pikiran. Aku tak bergairah lagi untuk menikah dalam dua tahu ini. Sepertinya target yang sudah aku pajang dikamarku mesti aku ralat lagi. Yaitu dengan memindahkan waktu menikah ditahun berikutnya.
Aku menggantikan rencana dalam dua tahun ini dengan rencana melanjutkan S2 ke UI atau ke ITB. Mungkin ini adalah satu-satunya cara untuk bisa aku bertahan menunggunya sampai sukses dahulu. Sebenarnya ini adalah sebuah tindakan yang sangat menyiksa bagiku. Tapi bukankah ini pula yang terbaik yang dapat aku lakukan? Aku sadar bahwa apa yang aku pikirkan belum tentu ia pikirkan juga. Dan apa yang aku rasakan belum tentu dia dapat rasakan juga. Aku mengharap dialah pendamping hidupku. Tapi belum tentu juga dia memiliki harapan yang sama seperti aku.
Inilah cintaku. Aku ingin menunggunya sampai kapanpun. Kalaupun kami tidak berjodoh, aku hanya ingin menikah setelah dia menikah dengan orang lain. Aku ingin tunjukkan pada dunia dan seisi alam bahwa aku sanggup menjaga rasa ini.
Hari ini aku menemani sahabatku nge-print di rental. Sambil menunggunya hingga selesai, aku sempatkan sebentar untuk online.
Ku buka facebook-ku. Kubaca kembali ucapan-ucapan ultah di dinding akunku.
Met milady a dek, barakillah. Ucapan ini tak asing lagi. Dan ucapan ini sama persis dengan ucapan Abdullah El-Khais yang dikirimnya melalui SMS tadi. Mengapa aku bisa menduga seperti itu? Karena kesalahan penulisannya sama. Seharusnya ‘barakallahu fiki’ bukan ‘barakillah fika’. Ini yang aku tahu selama aku belajar bahasa arab di pesantren.
Dengan penuh penasaran ku buka inbox FB-ku. Kubaca kembali pesan yang masuk dari Abdullah El-Khais dulu. Dan ternyata benar, akunnya telah berganti nama menjadi La Tahzan. Masyaallah… aku menjadi malu dengan diriku sendiri. Aku malu jika selama ini ia membaca status-statusku yang 25%-nya adalah mengenai dirinya. oh my god mimpi apa aku kemarin.
Mulai saat itu aku sangat berhati-hati dengan statusku. Aku tak lagi berkoak seenaknya di facebook. Aku merasa malu dan sangat malu sekali.
Setelah kejadian itu entah kenapa dia begitu sangat breubah kepadaku. Tak ada lagi kata-kata mesra yang ia kirmkan kepadaku. Bahkan panggilan ‘sayang’ atau ‘Humairoh’ tak pernah ku dengar lagi. Perlahan aku menerka-nerka. Mungkinkah dia mulai tak memiliki rasa sayang itu lagi? Setelah banyak aku renungkan kembali, jiwaku tersentak oleh pikiran sadarku. Sambil tersenyum sendiri aku bergumam “Aku yang terlalu banyak mengharap dan bermimpi.”
Awal Tahun yang Tertunda, 2011
Harusnya awal tahun ini aku sudah bisa menatapnya dengan kedua bola mataku. Karena dia akan berdiri didepanku, di acara seminar ini.
Seminggu yang lalu kutawarkan sebuah seminar Parade Cinta dan Bedah Buku bersama Salim A Fillah. Ia merespon begitu hangat untuk mengikuti acara itu. Sepontan bahagiaku melanda. Karena aku akan bisa bertemu dengannya. Dan mungkin akan bisa mendengar suaranya. Tapi Allah berkehendak lain saat ini, karena tiba-tiba saja acara tersebut diundurkan hingga bulan februari mendatang. Tentu saja rencanaku kali ini batal. Sedih juga rasanya. Karena kesempatan itu hilang secara tiba-tiba.
Akhirnya aku mengikuti acara motivatour bersama pak Qodrisyah. Ya Allah… begitu payahnyakah untuk bisa bertemu dengannya?? Tapi aku tak ingin putus asa. Suatu saat nanti aku pasti bisa bertemu denganya. Dengan orang yang begitu mempengaruhi hidupku.
Kerinduan ini semakin membuncah. Sayang ini juga semakin bertambah-tambah. Walaupun komunikasi itu sudah jarang terjalin.
Masih ku ingat peristiwa siang itu. Dikala aku iseng untuk menelponnya. Tujuannya adalah hanya ingin mendengar suaranya. Ku setting-an pada ponselku. Agar panggilan yang diterimanya nanti terlihat privat number dilayar hpnya. Pertama tidak diangkat. Tapi untuk yang kedua kalinya diangkat.
“halo…” ucapnya dari kejauhan sana.
Aku tidak menjawab apa-apa. Aku hanya mendengarkan suaranya yang lembut.
Kututup telpon itu. Aku tidak ingin dia curiga dengan hal ini. Langsung saja dadaku bergemuruh. Nafasku tidak beraturan. Jantungku berdetak sangat hebat. Subhanallah… belum pernah aku merasakan sesuatu yang begitu dahsyat seperti ini. Dengan hanya mendengar suaranya saja sudah membuat aku terhipnosis.
Tanpa terasa sudah hamper 6 bulan aku mengenalnya. Selama ini pula aku belum pernah berjumpa dengannya. Padahal kami masih tinggal 1 kota. Aku mulai menyusun rencanaku dan aku berjanji dalam diriku sendiri bahwa dalam dua bulan ini aku akan memberikan hadiah yang istimewa untuk hatiku. Yaitu dengan menemuinya. Sabar ya sang hati… karena aku akan menyusun rencana untukmu. Untuk kebahagiaanmu dan untuk kisah cintamu yang selanjutnya. Jangan pernah lelah mencintainya karena mencintainya adalah hal yang terindah…..
Januari, Dalam Revisi
Masing-masing merasa kuat dengan argumennya masing-masing. Saling bertentangan dan tanpa kesepakatan. Dua penguji dengan pendapat yang sangat bertolak belakang. Yang satu memberikan pengarahan seperti ini dan yang lain memberi pengarahan yang berbeda. Yakni, antara perubahan judul dan pertahan judul. Akhirnya satu kalimat yang cocok diucapkan yaitu gak nemu.
Semua ini berdampak pada diriku yang sampai saat ini belum juga kelar melakukan revisi proposal penelitianku. Padahal dalam bulan ini aku harus penelitian ke lapangan. Ini adalah hal yang sulit bagiku untuk mengambil sebuah keputusan.
“Malam ini Bapak beri kamu waktu untuk merenungkan mana yang akan kamu ikuti.” Ucapnya di siang itu.
Aku hanya bisa menunduk mendengarkan kata-kata dosen pengujiku. Dengan mata yang berkaca-kaca dan sambil mengangguk pasrah aku berlalu meninggalkannya.
“baik, perimisi Pak.” Pamitku.
Adzan magrib pun berkumandang. Kusucikan diriku dengan penuh khidmat. Ada ketenangan yang kurasakan di sisi hatiku, setelah semuanya kubasuh. Ah… memang benar kata hadist dengan wudhu hati kita akan jauh lebih tenang.
Kubentangkan sajadah abu-abuku. Kupakai mukenahku dan bersiap untuk menghadap kepada Sang Maha Pencipta.
“Allahuakbar….” Takbir pertama telah kulantukan, pertanda shalat pun dimulai.
Sesekali pikiranku melayang tak tentu. Yang terbayang dipelupuk mataku adalah wajah-wajah kecoklatan dosen PS dan para dosen pengujiku. Perlahan air mata meleleh membasahi kelopak mata. Dan terus mengalir bak sungai membasahi pipiku. Sesenggukan aku dalam isak tangis dan meningglakan sisa-sisa air mata di mukenah hijauku. Mengadu dan terus mengadu serta memohon petunjuk kepada Allah agar dimudahkan segala urusan.
Dzikir, do’a, dilanjutkan dengan shalat sunnah ba’diyah. Setelah itu disambung dengan melantukan ayat mushaf-Nya. Diiringi dengan air mata yang terus jatuh tanpa kenal kompromi.
Setelah selesai semuanya, kusandarkan tubuhku di bilik yang hanya terbuat dari kayu. Merenungkan kembali keputusan apa yang akan kuambil. Kuraih ponsel Nokiaku dan kucoba mengirimkan sebuah pesan ke nomor ponsel Abdullah El-Khais. Awalnya tak ada balasan. Kukirimkan pesan untuk yang kedua kalinya. Akhirnya dia membalasnya.
Kuceritakan kegundahanku malam ini. Dan berharap dia mampu memberikan solusi, memotivasi, atau sekedar mendengarkan apa yang ingin kusampaikan. Karena berkomunikasi dengannya sudah cukup membuat hati ini tenang. Tapi ternyata dia tak bergeming. Tak ada balasan lagi, dan hanya membiarkan 3 SMS terakhirku tanpa balasan. Miris…..
Sebenarnya aku hanya ingin bercerita. Hanya ingin meluahkan segala kekesalan yang aku hadapi seharian tadi. Ingin bercerita pada ibu, tapi aku takut beliau malah khawatir dengan ini semua. Bercerita ke sahabat, mereka sedang jauh. Kubiarkan air mataku mengalir sambil meng-update status di facebook. Hanya untuk sekedar melepas kekesalan…..
Selasa malam, 8 februari 2011, pkl.21:30
Malam perenungan untuk mengambil sebuah keputusan.
CATATAN FEBRUARI
Oleh: Niswah Adz-Dzikriyah
Pencarian Pertama
RS. Haji, 17 Februari 2011
Jam sudah menunjukkan angka 15.30 WIB. Pertanda perkuliahan Fisika Sekolah akan segera berakhir. Dila—teman dekatku dikampus—berbisik ditelingaku.
“Mi, gak ada niat ke RS. Haji? Biar aku temani,” tawarnya lembut.
Spontan aku terbelalak.
“Ngapaen ke RS. Haji?” tanyaku penasaran.
“loo… katanya mau nengok Abdullah El-Khais, ayo aku kawani,” jawabnya tulus.
“Hmmm…bolehlah, tapi janji jangan ngomong ama siapa-siapa ya. Termasuk ke temen kita 3 lagi itu,” pintaku memelas.
“siiip lah.” ucapnya meyakinkanku.
Kamipun menuju RS. Haji dengan mengendarai angkot 121.
Tak lama kami pun tiba disana. Suasana sudah agak sepi. tidak banyak orang yang berkeliaran disana. Pencarianpun dimulai. Kami menyusuri semua lorong yang ada di rumah sakit itu. Yang kami tuju pertama adalah Kamar Bedah. Karena informasi yang aku dapat Abdullah El-Khais berada pada stase bedah. Dan hasilnya nihil.
Hanya tinggal beberapa dokter muda saja yang masih ada disana. Dan yang mendominasinya adalah perempuan. Tapi kami belum juga menyerah. Penelusuran pun kami jalankan hingga sampai keruangan yang pojok. Bahkan kami ada 3 kali keluar masuk rumah sakit itu.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Kami sudah cukup lelah mencarinya. Dan kelihatannya mereka sudah pulang semua.
“SMS aja mia,” saran temanku padaku.
“Aku takut, nanti dia curiga kalo aku tanya dia lagi dimana,” jawabku pelan.
“Jangan tanya dia dimana lah, bilang aja dia udah pulang apa belum?” sarannya lagi.
Upsss… bener juga saran temanku itu. Akhirnya aku mulai mengetik pesan singkat ke nomornya.
“Assalamualaikum. Udah pulang, Abdullah?” satu SMS telah melayang.
Tak lama pun berita terkirim telah disampaikan. Sambil menunggu balasan SMS darinya, kami duduk di trotoar RS. Haji itu. Setelah lama kami menunggu, balasan pesan darinya tidak juga datang. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Dan usaha pertama masih belum berhasil.
Pencarian Kedua
RS. Haji, 18 Februari 2011
“Tadi Pak Purwanto SMS indah, katanya hari ini bapak itu tidak masuk dan bapak itu minta ganti hari lain aja.” Indah meng-info-kan berita ini padaku.
Akupun bersorak riang dalam hati. Akhirnya aku bisa melanjutkan pencarianku yang kedua.
Kembali aku ajak dila. Setelah diskusi Fisika Kuantum dan Manajemen Pengelolaan Laboratorium selesai, kami langsung cabut ke RS. Haji. Semoga kali ini berhasil, doaku dalam hati.
Jalan yang kami susuri pertama adalah mesjid. Karena hari ini adalah hari Jumat. Dan semua dokter pasti melaksananakan shalat jumat disana.
Aku dan Dila berdiri di trotoar dekat mesjid. Satu persatu jama’ah shalat jumat keluar meninggalkan mesjid. Dengan jeli ku pandangi satu per satu jema’ah yang keluar. Berharap dia adalah salah satu dari mereka. Sampai tinggal beberapa orang saja yang ada dimesjid tidak juga ku menemukan dirinya.
“gak ada dil,” ucapku pada sahabatku.
“ya udah, kita cari di tempat yang lain aja.” Usulnya.
Setelah selesai shalat dhuhur dimesjid, kami melanjutkan melakukan pencarian ke seluruh ruangan. Ke lorong-lorong yang paling sudut sekalipun. Dengan satu harapan masih bisa menemuinya. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaannya disana. Bahkan teman-temannnya sekalipun tidak terlihat batang hidungnya. Yang ada hanyalah para dokter muda berkacamata yang aku yakin betul itu bukanlah dirinya.
Sudah 3 jam kami disini. Bolak-balik seperti ‘strikaan’ pakaian, demi menemukan sosok Abdullah El-Khais yang mebuatku penasaran selama ini. Lelah, letih, capek, dan kecewa mulai merasuk dalam jiwaku. Tidak ada pilihan lain kecuali dengan menikmatinya. Dalam hati ini diriku terus berdoa.
“Ya Allah…pertemukanlah hamba dengannya atau perlihatkanlah sedikit saja sosoknya karena hamba hanya ingin melihatnya bukan menemuinya. Hamba hanya ingin melihat dirinya dengan nyata. Hamba tidak akan menegurnya, apa lagi menyapanya. Ya Allah… hamba hanya ingin melihatnya”.
Waktu terus berlalu. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB.
“Kita pulang aja yuk,” pintaku memecah kesunyian. Karena tampak jelas rasa letih di wajah dila.
“Yakin mi, gak nyesel? Kalo gak telp aja dulu atau SMS,” sarannya padaku.
Aku menggelengkan kepala.
“Gak dil,,, udah 3 jam kita disini. Lagian kita juga gak ada tampak tanda-tanda keberadaannya.” Lirihku pelan.
“Oh…ya udah kalo gitu, semoga dirimu akan dipertemukan di waktu yang lebih indah.” Timpalnya.
“Amin….”
Kami pun berjalan keluar meninggalkan RS. Haji. Mungkin Allah memang belum mengijinkan untuk bertemu.
Senin, 14 Maret 2011
SAYATAN TERPERIH
Oleh: Islamiani Safitri
Lembaran itu terus ku bolak-balik. Masih tak juga menemukan titik temu. Ternyata cukup susah juga mencari referensi untuk menyusun skripsiku. Perlahan kupandangi tulisan news roman dengan teliti sambil ku telaah makna dari setiap kata yang tertuang, namun hasilnya malah jauh dari harapan. Mataku remang, pikiran pun melayang, dan aku kembali terlarut dalam lamunan.
Mereka menjulukiku ‘Wanita Tangguh’. Entah apa sebabnya. Mungkin memang karena ketangguhanku atau mungkin karena kisah hidupku yang bagai sebuah drama di panggung sadiwara. Tapi itu semua bukanlah masalah bagiku, karena menurutku kata-kata itu adalah do’a. Terima kasih kepada segenap para sahabat karena secara tidak langsung telah mendoakanku untuk menjadi wanita yang tangguh.
*****
Semester Tiga
“Cari jurnal tentang upaya peningkatan pendidikan di Indonesia ya, kemudian kritik isi dari jurnal tersebut. Minggu depan kita bahas bersama-sama.” Pak Mujib menutup perkuliahan.
“Baik, Pak.” Respon para mahasiswa serentak.
Setelah memasukkan buku-buku ke tasnya, Pak Mujib segera keluar meninggalkan kelas.
“Mau kemana, Cha?” tanya sahabatku waktu itu.
“Maaf, aku harus mengejar Pak Mujib. Sebentar ya.” Jawabku tergesa-tergesa sambil menyusul langkah Pak Mujib.
Dengan mempercepat langkahku, akhirnya dapat kukejar juga jalannya.
“Permisi, Pak.” sapaku agak gugup.
“O iya, ada apa. Cha?” Pak Mujib menhentikan langkahnya dan berbalik ke arahku.
“Maaf, Pak. Echa mau memberikan ini.” Kuulurkan sebuah amplop putih dari tanganku.
“Apa ini, Cha?” tanyanya heran.
Aku hanya menunduk mengalihkan tatapan matanya dengan wajahku yang memerah. Sepertinya beliau memperhatikan gerak-gerik dan wajahku.
“Hmmm… lebih baik konsentrasi dulu aja dengan kuliahnya. Maaf, bapak harus mengajar ke kelas bawah. Jadi bapak duluan ya.” Pak Mujib beranjak pergi meninggalkan diriku yang masih terus berdiri terpaku.
Sejak saat itu aku tidak pernah lagi berbicara dengan Pak Mujib. Aku merasa kecewa, malu, lancang, dan kurang ajar karena berani sekali mengungkapkan perasaan cinta kepada seorang dosen yang sangat terkenal dengan kebijaksanaannya itu. Aku di tolak. Katanya aku masih terlalu dini untuk menyatakan hal yang demikian. Maaf, Cha. Bapak merasa Echa masih terlalu dini dan masih banyak lagi cita-cita yang harus Echa kejar. Fokuskanlah pada kuliah dulu. Jodoh, Allah sudah mengaturnya. Begitulah balasan yang aku terima dari Pak Mujib yang ia kirimkan lewat emailku.
*****
“Gimana Cha, kamu maukan menerima lamaran Mas Arya?” kembali mamaku menanyakan hal itu lagi.
Bukan aku menolak. Tapi memang aku tidak pernah mencintai Mas Arya, anak teman almarhum papaku. Sedangkan aku memang dari awal kuliah sudah menyimpan rasa dengan salah satu dosenku yaitu Pak Mujib.
“Orangnya sudah mapan. Mama yakin dia bisa mengayomimu. Agamanya juga tidak diragukan lagi kan?” jelas mamaku yang mungkin sudah tidak sabar lagi dengan sikapku yang terus diam.
“Ma, tapi Echa kan masih mau kuliah, Ma?” aku mulai angkat bicara.
“Mama kan tidak menyuruhmu untuk berhenti kuliah. Malah Mas Arya mendukung dengan segala aktivitasmu.” Sambung mamaku.
“Tapi Echa belum siap, Ma?” alasan itupun meluncur dari bibirku.
“Cha… dengerin mama ya, Nak. Kalau sampai menunggu siap, kamu nggak akan pernah siap. Bukankah dengan menikah kamu akan lebih dewasa?” terang mamaku. Kali ini agak sedikit ngotot.
“Sudahlah, Nak. Mas Arya itu lelaki baik-baik… dia sangat cocok untukmu, Nak. Mama akan sangat bahagia jika kamu mau menikah dengannya. Mama sangat bahagia…” butiran air mata itu tampak mengalir di pipi mamaku.
Astagfirullahal’adzhim… durhakanya diriku karena sudah membuat mama menangis. Hatiku miris, tak kuasa melihat wajah mama yang memelas penuh harap seperti itu. Aku hanya tertunduk sambil menyembunyikan amarahku.
*****
“Kalau itu permintaan orang tua Echa, penuhilah. Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya. Semua ini beliau lakukan pasti demi kebahagiaan Echa. Percayalah… cepat atau lambat cinta itu pasti akan tumbuh. Apa lagi dia itu lelaki baik-baik kan?” ternyata semua orang di sekelilingku membela mamaku.
Tak ada pilihan lain. Setelah aku pertimbangkan, akhirnya aku mengikuti permintaan mamaku.
*****
Akad nikah kami pun tiba. Walau tidak didasari dengan rasa cinta, aku berusaha untuk tetap menyunggingkan senyum yang paling manis untuk semua manusia yang hadir diresepsi pernikahanku.
“Barakallahu lakuma wa Baraka alaikuma wajama’a bainakuma fil khair.” Ucap para sahabatku yang hadir pada saat itu.
“Terimakasih.” Jawabku singkat.
Semoga saja aku bisa menjalani hidupku yang baru ini tanpa beban.
*****
Benar-benar sangat tersisksa menikah dengan orang yang tidak dicintai. Semuanya menjadi beban dan jauh dari ketulusan. Seringkali kali kecanggungan terjadi di antara kami. Bahkan aku lebih sering mencari-cari alasan untuk bisa jauh darinya atau pulang ke rumah dengan alasan kangen mamaku.
“Mas, Echa hari ini pulangnya sore. Jadwal kuliah padat.” Izinku pada suami.
“Ya sudah nggak apa-apa. Jam berapa nanti Mas jemput?” tanyanya padaku.
“Oh… Gak usah dijemput, Mas. Biar Echa pulang sama Ria aja ketepatan hari ini dia sendirian katanya. Mas di rumah aja,” aku selalu dengan alasan yang sama.
“Ya sudah, hati-hati ya, Dik. Mas Berangkat kerja dulu.” Ucapnya lembut.
Kecupan mesranya pun mendarat di keningku. Walau agak risih tapi aku berusaha untuk tetap terlihat biasa. Kucium tangan kanannya. Ia pun berlalu meninggalkan rumah.
Untuk kesekian kalinya aku berbohong. Hari ini hanya ada satu mata kuliah. Dan aku lebih senang menghabiskan waktuku di perpustakaan kampus daripada berduaan dengan Mas Arya di rumah. Sungguh miris.
Semester Empat
Perutku mual dan kepalaku pusing tidak karu-karuan. Sebentar-sebentar aku harus ke kamar mandi untuk menyalurkan hasratku yang ingin muntah.
“Kita ke dokter aja, Dik. Mas gak tega melihatnya,” ucap Mas Arya penuh khawatir.
“Gak usah, Mas,” sanggahku bandal.
“Kali ini jangan membantah ya, ini demi keselamatan adik.”
Tanpa meminta persetujuanku, Mas Arya langsung membawaku ke dokter. Aku pun diperiksa.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Mas Arya gugup.
Dokter itu hanya tersenyum tipis.
“Selamat, Pak. Istri bapak hamil.”
“o ya? Terimaksih pak.”
Tampak jelas rona kebahagiaan muncul di wajah Mas Arya. Dia menggenggam tanganku erat-erat. Alhamdulillah ya Rabb, telah Kau jawab doa-doaku. Kalimat tahmid itu tak henti-hentinya mengalir dari bibir suamiku. Dan aku hanya menyunggingkan sedikit senyum sebagai penghargaan atas kebahagiannya. Berdosakah aku?
Tujuh Bulan Kehamilanku
Semakin hari aku semakin merasakan kasih sayang yang tulus dari Mas Arya. Aku seperti mutiara indah yang senantiasa ia jaga dan ia rawat. Bahkan sedikitpun Mas Arya tidak rela melihat ada tanda-tanda lelah di wajahku. Adik gak boleh capek, adik harus jaga kesehatan dan kehamilan adik. Selalu begitu katanya. Dan perlahan aku sudah bisa menerimanya disisiku.
Cahaya matahari membangunkanku dari lelap tidurku semalaman. Sinarnya hangat menyelimuti wajahku. Dengan payah kucoba membuka kedua kelopak mataku. Astagfirullahal’adzim… sudah jam 08.00 pagi rupanya. Aku menoleh kesebelahku dan tidak kudapati lagi sosok suamiku disana. Aku turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar. Upsss… lantai yang kupijak terasa sangat dingin sekali. Ternyata lantai ini masih basah, seperti habis dipel.
“Mas… “ panggilku dengan suara yang masih serak.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah suara kericuhan di dapur. Dengan penuh penasaran aku langsung menuju ke asal suara tersebut. Dan semua lantai di setiap ruangan masih dalam kondisi basah.
“Mas… “ panggilku lagi.
Tetap tidak ada jawaban. Aku pun ke dapur. Subhanallah… sarapan sudah tersedia di atas meja makan. Dua piring nasi goreng dan dua gelas susu sudah bertandang di atas meja. Sejak kapan ada pembantu baru? Pikirku dalam hati. Kulirik semua sudut di dapur ini, semua sudah tertata rapi dan bersih. Padahal, semalam ada setumpuk piring kotor yang belum dicuci. Semua jendela juga sudah dibuka. Aroma-aroma wewangian menyebar disetiap sudut ruangan. Nyaman sekali.
“Eh… istri tercintaku sudah bangun. Selamat pagi sayang,” sapanya lembut.
Dia keluar dari sebuah kamar mandi.
Masih dengan dahiku yang berkerut karena penuh heran, aku segera ke kamar mandi yang baru saja dmasuki oleh suamiku itu. Semuanya bersih, rapi, dan harum.
“Kenapa, Dik? Mas nyapa kok gak dijawab?” tanyanya tersenyum.
“Mas cari pembantu ya? Kok gak bilang-bilang sih,” hardikku.
“Siapa yang cari pembantu. Daripada uangnya untuk gaji pembantu, lebih baik ditabung untuk biaya persalinan anak kita nanti.” Jelasnya santai.
“lalu, ini semua… “ belum sempat aku habiskan kata-kataku, Mas Arya meletakkan jari telunjuknya ke bibirku.
“Hussstt… Ibu hamil pagi-pagi gak boleh cerewet. Nanti anak yang di dalam perut nangis loh. Karena dia kira ibunya marah sama dia.” Bisiknya ditelingaku.
Aku tersenyum. Mataku mulai berkaca-kaca menahan haru.
“Kita sarapan yuk, Mas udah lapar.” Ajaknya padaku.
“Terimakasih ya, Mas. Sering-sering aja begini.” bisikku ditelinganya.
“Mulai nakal ya… “ balasnya sambil mencubit hidungku.
Akupun tertawa lepas dengan penuh bahagia. Sarapan pagi itu benar-benar menggambarkan dua manusia yang saling memadu kasih. Mas Arya menyuapiku dan aku pun menyuapinya. Sumpah, selama menikah baru kali ini aku bisa tertawa lepas dan bermesraan seperti ini dengan Mas Arya. Inilah kasih sayang yang iya tunjukkan untuk kesekian kalinya.
******
Ayunan bayi sudah bertengger di kamar kami. Masih dibungkus plastic. Warnanya hijau muda, tepat warna kesukaanku. Sekali lagi aku mendapat kejutan dari Mas Arya.
“Ayunan dari mana, Mas?” tanyaku bingung.
“Ya beli dong, masa mencuri.” Jawabnya santai.
Masih ada bungkusan besar lagi yang ia bawa ke kamar. Ternyata pakaian bayi isinya. Aku semakin bingung.
“Mas beli barang sebanyak ini uang darimana?” tanyaku lagi.
“Maaf ya, Dik. Selama ini Mas sisakan sedikit gaji untuk ditabung. Nah hari ini Mas belikan sebagian untuk perlengkapan bayi. Sisanya masih ada di tabungan. Simpan aja buku tabungan ini ya.” Ucapnya sambil memberikan buku tabungan itu ke tanganku.
Selama ini Mas Arya tidak pernah cerita tentang semua ini. Ya Allah… baru kusadari ternyata aku mendapatkan seorang suami yang sangat baik di dunia ini. Benih-benih cinta itu mulai hadir di hatiku.
Sembilan Bulan Kehamilanku
Ternyata begitu indah hidup dengan orang yang kita cintai. Dapat melayaninya penuh cinta, bergurau penuh cinta, bicara penuh cinta, dan beraktivitas penuh cinta. Rasanya ingin kuulang lagi pernikahan kami agar semua kuawali dengan penuh cinta. Tapi aku tetap bersyukur karena Allah menumbuhkan rasa cinta itu di usia tujuh bulan kehamilanku.
Banyak hal baru yang kurasakan setelah cinta itu tumbuh. Aku merasa ingin selalu dekat disisi Mas Arya. Bahkan aku rela bolos dari kuliahku demi berduaan dengan Mas Arya di rumah. Ketepatan setiap hari jumat dan sabtu beliau libur. Indah sekali rasanya….
*****
Pagi itu aku merasakan sakit yang menggila. Rasa sakit ini tidak bisa terkatakan lagi. Keringatku mengucur deras membasahi tubuh karena menahan rasa sakit. Dunia juga sudah tidak mampu aku pandang, seperti hendak dicabut saja nyawa ini. Inikah rasanya sakit ketika akan melahirkan seorang bayi? Pantas saja kematian seorang ibu ketika melahirkan itu dianggap mati syahid, karena memang proses rasa sakit yang dirasakan itu begitu dahsyat.
Entah bagaimana prosesnya, aku juga tidak sadar. Dan sekarang aku sudah berada diruangan yang bercat serba putih ini. Ternyata rumah sakit. Aku didampingi oleh suami dan dua orang berseragam putih. Nafasku masih tersengal-sengal, suara eranganku pun membahana terdengar diruangan ini. Kugenggam kuat-kuat tangan suamiku, terkadang kuremas kulitnya sekuat tenagaku sebagai lampiasan untuk rasa sakit yang kurasakan. Aku tau, suamiku juga pasti merasakan sakit karena remasanku itu dan aku tidak perduli. Antara hidup dan mati. Itulah yang aku rasakan saat itu.
Setelah berjuang beberapa jam, akhirnya tangisan bayiku memecahkan susanana. Mendengar tangisan itu, rasa sakitku hilang seketika. Senyum pun merekah dari rona wajahku. Itulah suara cinta kami yang menjelma menjadi seorang bayi yang rupawan. Dialah putra, saksi cinta yang selama ini kami rajut bersama.
Mas Arya mengumandangkan adzan ditelinga bayi kami. Merdu nian suaranya. Hatiku terus berdzikir memuja kebesaran-Nya, terimakasih ya Rabb.
“Terima kasih Umi, telah melahirkan anak kita dengan selamat,” bisiknya pelan ditelingaku.
Itulah hari pertama Mas Arya memanggilku ‘Umi’. Dengan agak terbata-bata akupun membalas ucapannya, “Sama-sama Abi.” Senyumku mengembang.
Mas Arya mengecup keningku.
*****
Hari kedua anakku berada di dunia.
“Yang sabar ya, Nak,” ucap mamaku seketika sambil terisak-isak dalam tangisnya.
“Ada apa, Ma?” tanyaku penuh heran.
Bingung dan tak karu-karuan. Ada apa gerangan dengan mamaku, mengapa ia menangis, mana suami dan anakku?
Tanpa penjelasan, aku dituntun oleh suster dan mamaku untuk duduk di atas kursi roda. Perlahan suster mendorong kursi rodaku dan keluar dari ruangan.
“Mau kemana kita, Ma. Apa yang terjadi?” tanyaku penasaran disepanjang jalan.
Mama masih tetap diam. Dan hanya melanjutkan isak tangisnya. Pasti ada sesuatu, kataku dalam hati.
Tak lama kami memasuki ruangan. Sudah ada banyak orang disana. Terutama kedua mertuaku, dan semuanya berlinangan air mata. Aku masih bingung. Jatungku berdebar tidak karuan. Mamaku mendorongku untuk mendekat ke sebuah ranjang mungil di ruangan itu. Dan… otakku tiba-tiba saja berhenti berpikir, bibirku terkatup tak sanggup berkata-kata. Nafasku seperti hanya sampai ditenggorokan saja. Dunia seakan berhenti berputar. Jiwaku goncang, air mataku menetes tanpa perintah. Suamiku terbujur kaku disana. Semua tidak dapat terlukiskan lagi. Pandanganku gelap saat itu. Wajahku memucat seperti kapas. Tenagaku perlahan meluruh melihat jasadnya yang sudah dingin membeku. Remang…. Akupun ambruk tak sadar.
Kecelakaan itu merenggut nyawa suamiku. Sungguh ini merupakan sayatan terperih dalam sejarah hidupku. Sanggupkah aku terbang hanya dengan satu sayap, membesarkan buah hati hanya sendirian, dan menyandang status janda di dunia ini? oh… tidak, tapi inilah suratan hidupku dan aku harus sanggup menghadapinya.
*****
“Hei… melamun aja,” sapa Ria—sahabatku—membuyarkan lamunanku.
Aku terkejut dengan tepukan tangannya di pundakku. Cepat-cepat kuhapus air mata yang meleleh tanpa sadar di pipiku.
“Eh… kamu, ada apa?” tanyaku gugup.
Dia tersenyum menatapku. Tapi tak bisa dipungkiri, terpancar rasa iba di wajahnya.
“Rajin banget… tapi ini baca apa melamun?” sanggahnya tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku tersenyum.
“Yang lalu biarlah berlalu, biarkan dia menjadi kenangan yang berharga dalam hidup.” Sambungnya pelan.
Aku mulai paham dengan apa yang ada dipikirannya. Supaya tidak terlarut dalam suasana, aku mengalihkannya dengan mengajaknya pergi.
“Eh, belum makan siangkan? Kita ke kantin yuk…” ajakku.
Kutarik tangannya. Dan kamipun beranjak pergi meninggalkan perpustakaan tercinta.
Sampai saat ini aku belum hendak untuk menikah lagi. Cinta ini masih kujaga utuh di lubuk hati yang terdalam. Untuk mengalihkan kesedihanku ini, aku lebih senang menghabiskannya ke perpustakaan. Di perpustakaan inilah kulayangkan curahan hati dan tangisan perih jiwaku.
Lembaran itu terus ku bolak-balik. Masih tak juga menemukan titik temu. Ternyata cukup susah juga mencari referensi untuk menyusun skripsiku. Perlahan kupandangi tulisan news roman dengan teliti sambil ku telaah makna dari setiap kata yang tertuang, namun hasilnya malah jauh dari harapan. Mataku remang, pikiran pun melayang, dan aku kembali terlarut dalam lamunan.
Mereka menjulukiku ‘Wanita Tangguh’. Entah apa sebabnya. Mungkin memang karena ketangguhanku atau mungkin karena kisah hidupku yang bagai sebuah drama di panggung sadiwara. Tapi itu semua bukanlah masalah bagiku, karena menurutku kata-kata itu adalah do’a. Terima kasih kepada segenap para sahabat karena secara tidak langsung telah mendoakanku untuk menjadi wanita yang tangguh.
*****
Semester Tiga
“Cari jurnal tentang upaya peningkatan pendidikan di Indonesia ya, kemudian kritik isi dari jurnal tersebut. Minggu depan kita bahas bersama-sama.” Pak Mujib menutup perkuliahan.
“Baik, Pak.” Respon para mahasiswa serentak.
Setelah memasukkan buku-buku ke tasnya, Pak Mujib segera keluar meninggalkan kelas.
“Mau kemana, Cha?” tanya sahabatku waktu itu.
“Maaf, aku harus mengejar Pak Mujib. Sebentar ya.” Jawabku tergesa-tergesa sambil menyusul langkah Pak Mujib.
Dengan mempercepat langkahku, akhirnya dapat kukejar juga jalannya.
“Permisi, Pak.” sapaku agak gugup.
“O iya, ada apa. Cha?” Pak Mujib menhentikan langkahnya dan berbalik ke arahku.
“Maaf, Pak. Echa mau memberikan ini.” Kuulurkan sebuah amplop putih dari tanganku.
“Apa ini, Cha?” tanyanya heran.
Aku hanya menunduk mengalihkan tatapan matanya dengan wajahku yang memerah. Sepertinya beliau memperhatikan gerak-gerik dan wajahku.
“Hmmm… lebih baik konsentrasi dulu aja dengan kuliahnya. Maaf, bapak harus mengajar ke kelas bawah. Jadi bapak duluan ya.” Pak Mujib beranjak pergi meninggalkan diriku yang masih terus berdiri terpaku.
Sejak saat itu aku tidak pernah lagi berbicara dengan Pak Mujib. Aku merasa kecewa, malu, lancang, dan kurang ajar karena berani sekali mengungkapkan perasaan cinta kepada seorang dosen yang sangat terkenal dengan kebijaksanaannya itu. Aku di tolak. Katanya aku masih terlalu dini untuk menyatakan hal yang demikian. Maaf, Cha. Bapak merasa Echa masih terlalu dini dan masih banyak lagi cita-cita yang harus Echa kejar. Fokuskanlah pada kuliah dulu. Jodoh, Allah sudah mengaturnya. Begitulah balasan yang aku terima dari Pak Mujib yang ia kirimkan lewat emailku.
*****
“Gimana Cha, kamu maukan menerima lamaran Mas Arya?” kembali mamaku menanyakan hal itu lagi.
Bukan aku menolak. Tapi memang aku tidak pernah mencintai Mas Arya, anak teman almarhum papaku. Sedangkan aku memang dari awal kuliah sudah menyimpan rasa dengan salah satu dosenku yaitu Pak Mujib.
“Orangnya sudah mapan. Mama yakin dia bisa mengayomimu. Agamanya juga tidak diragukan lagi kan?” jelas mamaku yang mungkin sudah tidak sabar lagi dengan sikapku yang terus diam.
“Ma, tapi Echa kan masih mau kuliah, Ma?” aku mulai angkat bicara.
“Mama kan tidak menyuruhmu untuk berhenti kuliah. Malah Mas Arya mendukung dengan segala aktivitasmu.” Sambung mamaku.
“Tapi Echa belum siap, Ma?” alasan itupun meluncur dari bibirku.
“Cha… dengerin mama ya, Nak. Kalau sampai menunggu siap, kamu nggak akan pernah siap. Bukankah dengan menikah kamu akan lebih dewasa?” terang mamaku. Kali ini agak sedikit ngotot.
“Sudahlah, Nak. Mas Arya itu lelaki baik-baik… dia sangat cocok untukmu, Nak. Mama akan sangat bahagia jika kamu mau menikah dengannya. Mama sangat bahagia…” butiran air mata itu tampak mengalir di pipi mamaku.
Astagfirullahal’adzhim… durhakanya diriku karena sudah membuat mama menangis. Hatiku miris, tak kuasa melihat wajah mama yang memelas penuh harap seperti itu. Aku hanya tertunduk sambil menyembunyikan amarahku.
*****
“Kalau itu permintaan orang tua Echa, penuhilah. Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya. Semua ini beliau lakukan pasti demi kebahagiaan Echa. Percayalah… cepat atau lambat cinta itu pasti akan tumbuh. Apa lagi dia itu lelaki baik-baik kan?” ternyata semua orang di sekelilingku membela mamaku.
Tak ada pilihan lain. Setelah aku pertimbangkan, akhirnya aku mengikuti permintaan mamaku.
*****
Akad nikah kami pun tiba. Walau tidak didasari dengan rasa cinta, aku berusaha untuk tetap menyunggingkan senyum yang paling manis untuk semua manusia yang hadir diresepsi pernikahanku.
“Barakallahu lakuma wa Baraka alaikuma wajama’a bainakuma fil khair.” Ucap para sahabatku yang hadir pada saat itu.
“Terimakasih.” Jawabku singkat.
Semoga saja aku bisa menjalani hidupku yang baru ini tanpa beban.
*****
Benar-benar sangat tersisksa menikah dengan orang yang tidak dicintai. Semuanya menjadi beban dan jauh dari ketulusan. Seringkali kali kecanggungan terjadi di antara kami. Bahkan aku lebih sering mencari-cari alasan untuk bisa jauh darinya atau pulang ke rumah dengan alasan kangen mamaku.
“Mas, Echa hari ini pulangnya sore. Jadwal kuliah padat.” Izinku pada suami.
“Ya sudah nggak apa-apa. Jam berapa nanti Mas jemput?” tanyanya padaku.
“Oh… Gak usah dijemput, Mas. Biar Echa pulang sama Ria aja ketepatan hari ini dia sendirian katanya. Mas di rumah aja,” aku selalu dengan alasan yang sama.
“Ya sudah, hati-hati ya, Dik. Mas Berangkat kerja dulu.” Ucapnya lembut.
Kecupan mesranya pun mendarat di keningku. Walau agak risih tapi aku berusaha untuk tetap terlihat biasa. Kucium tangan kanannya. Ia pun berlalu meninggalkan rumah.
Untuk kesekian kalinya aku berbohong. Hari ini hanya ada satu mata kuliah. Dan aku lebih senang menghabiskan waktuku di perpustakaan kampus daripada berduaan dengan Mas Arya di rumah. Sungguh miris.
Semester Empat
Perutku mual dan kepalaku pusing tidak karu-karuan. Sebentar-sebentar aku harus ke kamar mandi untuk menyalurkan hasratku yang ingin muntah.
“Kita ke dokter aja, Dik. Mas gak tega melihatnya,” ucap Mas Arya penuh khawatir.
“Gak usah, Mas,” sanggahku bandal.
“Kali ini jangan membantah ya, ini demi keselamatan adik.”
Tanpa meminta persetujuanku, Mas Arya langsung membawaku ke dokter. Aku pun diperiksa.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Mas Arya gugup.
Dokter itu hanya tersenyum tipis.
“Selamat, Pak. Istri bapak hamil.”
“o ya? Terimaksih pak.”
Tampak jelas rona kebahagiaan muncul di wajah Mas Arya. Dia menggenggam tanganku erat-erat. Alhamdulillah ya Rabb, telah Kau jawab doa-doaku. Kalimat tahmid itu tak henti-hentinya mengalir dari bibir suamiku. Dan aku hanya menyunggingkan sedikit senyum sebagai penghargaan atas kebahagiannya. Berdosakah aku?
Tujuh Bulan Kehamilanku
Semakin hari aku semakin merasakan kasih sayang yang tulus dari Mas Arya. Aku seperti mutiara indah yang senantiasa ia jaga dan ia rawat. Bahkan sedikitpun Mas Arya tidak rela melihat ada tanda-tanda lelah di wajahku. Adik gak boleh capek, adik harus jaga kesehatan dan kehamilan adik. Selalu begitu katanya. Dan perlahan aku sudah bisa menerimanya disisiku.
Cahaya matahari membangunkanku dari lelap tidurku semalaman. Sinarnya hangat menyelimuti wajahku. Dengan payah kucoba membuka kedua kelopak mataku. Astagfirullahal’adzim… sudah jam 08.00 pagi rupanya. Aku menoleh kesebelahku dan tidak kudapati lagi sosok suamiku disana. Aku turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar. Upsss… lantai yang kupijak terasa sangat dingin sekali. Ternyata lantai ini masih basah, seperti habis dipel.
“Mas… “ panggilku dengan suara yang masih serak.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah suara kericuhan di dapur. Dengan penuh penasaran aku langsung menuju ke asal suara tersebut. Dan semua lantai di setiap ruangan masih dalam kondisi basah.
“Mas… “ panggilku lagi.
Tetap tidak ada jawaban. Aku pun ke dapur. Subhanallah… sarapan sudah tersedia di atas meja makan. Dua piring nasi goreng dan dua gelas susu sudah bertandang di atas meja. Sejak kapan ada pembantu baru? Pikirku dalam hati. Kulirik semua sudut di dapur ini, semua sudah tertata rapi dan bersih. Padahal, semalam ada setumpuk piring kotor yang belum dicuci. Semua jendela juga sudah dibuka. Aroma-aroma wewangian menyebar disetiap sudut ruangan. Nyaman sekali.
“Eh… istri tercintaku sudah bangun. Selamat pagi sayang,” sapanya lembut.
Dia keluar dari sebuah kamar mandi.
Masih dengan dahiku yang berkerut karena penuh heran, aku segera ke kamar mandi yang baru saja dmasuki oleh suamiku itu. Semuanya bersih, rapi, dan harum.
“Kenapa, Dik? Mas nyapa kok gak dijawab?” tanyanya tersenyum.
“Mas cari pembantu ya? Kok gak bilang-bilang sih,” hardikku.
“Siapa yang cari pembantu. Daripada uangnya untuk gaji pembantu, lebih baik ditabung untuk biaya persalinan anak kita nanti.” Jelasnya santai.
“lalu, ini semua… “ belum sempat aku habiskan kata-kataku, Mas Arya meletakkan jari telunjuknya ke bibirku.
“Hussstt… Ibu hamil pagi-pagi gak boleh cerewet. Nanti anak yang di dalam perut nangis loh. Karena dia kira ibunya marah sama dia.” Bisiknya ditelingaku.
Aku tersenyum. Mataku mulai berkaca-kaca menahan haru.
“Kita sarapan yuk, Mas udah lapar.” Ajaknya padaku.
“Terimakasih ya, Mas. Sering-sering aja begini.” bisikku ditelinganya.
“Mulai nakal ya… “ balasnya sambil mencubit hidungku.
Akupun tertawa lepas dengan penuh bahagia. Sarapan pagi itu benar-benar menggambarkan dua manusia yang saling memadu kasih. Mas Arya menyuapiku dan aku pun menyuapinya. Sumpah, selama menikah baru kali ini aku bisa tertawa lepas dan bermesraan seperti ini dengan Mas Arya. Inilah kasih sayang yang iya tunjukkan untuk kesekian kalinya.
******
Ayunan bayi sudah bertengger di kamar kami. Masih dibungkus plastic. Warnanya hijau muda, tepat warna kesukaanku. Sekali lagi aku mendapat kejutan dari Mas Arya.
“Ayunan dari mana, Mas?” tanyaku bingung.
“Ya beli dong, masa mencuri.” Jawabnya santai.
Masih ada bungkusan besar lagi yang ia bawa ke kamar. Ternyata pakaian bayi isinya. Aku semakin bingung.
“Mas beli barang sebanyak ini uang darimana?” tanyaku lagi.
“Maaf ya, Dik. Selama ini Mas sisakan sedikit gaji untuk ditabung. Nah hari ini Mas belikan sebagian untuk perlengkapan bayi. Sisanya masih ada di tabungan. Simpan aja buku tabungan ini ya.” Ucapnya sambil memberikan buku tabungan itu ke tanganku.
Selama ini Mas Arya tidak pernah cerita tentang semua ini. Ya Allah… baru kusadari ternyata aku mendapatkan seorang suami yang sangat baik di dunia ini. Benih-benih cinta itu mulai hadir di hatiku.
Sembilan Bulan Kehamilanku
Ternyata begitu indah hidup dengan orang yang kita cintai. Dapat melayaninya penuh cinta, bergurau penuh cinta, bicara penuh cinta, dan beraktivitas penuh cinta. Rasanya ingin kuulang lagi pernikahan kami agar semua kuawali dengan penuh cinta. Tapi aku tetap bersyukur karena Allah menumbuhkan rasa cinta itu di usia tujuh bulan kehamilanku.
Banyak hal baru yang kurasakan setelah cinta itu tumbuh. Aku merasa ingin selalu dekat disisi Mas Arya. Bahkan aku rela bolos dari kuliahku demi berduaan dengan Mas Arya di rumah. Ketepatan setiap hari jumat dan sabtu beliau libur. Indah sekali rasanya….
*****
Pagi itu aku merasakan sakit yang menggila. Rasa sakit ini tidak bisa terkatakan lagi. Keringatku mengucur deras membasahi tubuh karena menahan rasa sakit. Dunia juga sudah tidak mampu aku pandang, seperti hendak dicabut saja nyawa ini. Inikah rasanya sakit ketika akan melahirkan seorang bayi? Pantas saja kematian seorang ibu ketika melahirkan itu dianggap mati syahid, karena memang proses rasa sakit yang dirasakan itu begitu dahsyat.
Entah bagaimana prosesnya, aku juga tidak sadar. Dan sekarang aku sudah berada diruangan yang bercat serba putih ini. Ternyata rumah sakit. Aku didampingi oleh suami dan dua orang berseragam putih. Nafasku masih tersengal-sengal, suara eranganku pun membahana terdengar diruangan ini. Kugenggam kuat-kuat tangan suamiku, terkadang kuremas kulitnya sekuat tenagaku sebagai lampiasan untuk rasa sakit yang kurasakan. Aku tau, suamiku juga pasti merasakan sakit karena remasanku itu dan aku tidak perduli. Antara hidup dan mati. Itulah yang aku rasakan saat itu.
Setelah berjuang beberapa jam, akhirnya tangisan bayiku memecahkan susanana. Mendengar tangisan itu, rasa sakitku hilang seketika. Senyum pun merekah dari rona wajahku. Itulah suara cinta kami yang menjelma menjadi seorang bayi yang rupawan. Dialah putra, saksi cinta yang selama ini kami rajut bersama.
Mas Arya mengumandangkan adzan ditelinga bayi kami. Merdu nian suaranya. Hatiku terus berdzikir memuja kebesaran-Nya, terimakasih ya Rabb.
“Terima kasih Umi, telah melahirkan anak kita dengan selamat,” bisiknya pelan ditelingaku.
Itulah hari pertama Mas Arya memanggilku ‘Umi’. Dengan agak terbata-bata akupun membalas ucapannya, “Sama-sama Abi.” Senyumku mengembang.
Mas Arya mengecup keningku.
*****
Hari kedua anakku berada di dunia.
“Yang sabar ya, Nak,” ucap mamaku seketika sambil terisak-isak dalam tangisnya.
“Ada apa, Ma?” tanyaku penuh heran.
Bingung dan tak karu-karuan. Ada apa gerangan dengan mamaku, mengapa ia menangis, mana suami dan anakku?
Tanpa penjelasan, aku dituntun oleh suster dan mamaku untuk duduk di atas kursi roda. Perlahan suster mendorong kursi rodaku dan keluar dari ruangan.
“Mau kemana kita, Ma. Apa yang terjadi?” tanyaku penasaran disepanjang jalan.
Mama masih tetap diam. Dan hanya melanjutkan isak tangisnya. Pasti ada sesuatu, kataku dalam hati.
Tak lama kami memasuki ruangan. Sudah ada banyak orang disana. Terutama kedua mertuaku, dan semuanya berlinangan air mata. Aku masih bingung. Jatungku berdebar tidak karuan. Mamaku mendorongku untuk mendekat ke sebuah ranjang mungil di ruangan itu. Dan… otakku tiba-tiba saja berhenti berpikir, bibirku terkatup tak sanggup berkata-kata. Nafasku seperti hanya sampai ditenggorokan saja. Dunia seakan berhenti berputar. Jiwaku goncang, air mataku menetes tanpa perintah. Suamiku terbujur kaku disana. Semua tidak dapat terlukiskan lagi. Pandanganku gelap saat itu. Wajahku memucat seperti kapas. Tenagaku perlahan meluruh melihat jasadnya yang sudah dingin membeku. Remang…. Akupun ambruk tak sadar.
Kecelakaan itu merenggut nyawa suamiku. Sungguh ini merupakan sayatan terperih dalam sejarah hidupku. Sanggupkah aku terbang hanya dengan satu sayap, membesarkan buah hati hanya sendirian, dan menyandang status janda di dunia ini? oh… tidak, tapi inilah suratan hidupku dan aku harus sanggup menghadapinya.
*****
“Hei… melamun aja,” sapa Ria—sahabatku—membuyarkan lamunanku.
Aku terkejut dengan tepukan tangannya di pundakku. Cepat-cepat kuhapus air mata yang meleleh tanpa sadar di pipiku.
“Eh… kamu, ada apa?” tanyaku gugup.
Dia tersenyum menatapku. Tapi tak bisa dipungkiri, terpancar rasa iba di wajahnya.
“Rajin banget… tapi ini baca apa melamun?” sanggahnya tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku tersenyum.
“Yang lalu biarlah berlalu, biarkan dia menjadi kenangan yang berharga dalam hidup.” Sambungnya pelan.
Aku mulai paham dengan apa yang ada dipikirannya. Supaya tidak terlarut dalam suasana, aku mengalihkannya dengan mengajaknya pergi.
“Eh, belum makan siangkan? Kita ke kantin yuk…” ajakku.
Kutarik tangannya. Dan kamipun beranjak pergi meninggalkan perpustakaan tercinta.
Sampai saat ini aku belum hendak untuk menikah lagi. Cinta ini masih kujaga utuh di lubuk hati yang terdalam. Untuk mengalihkan kesedihanku ini, aku lebih senang menghabiskannya ke perpustakaan. Di perpustakaan inilah kulayangkan curahan hati dan tangisan perih jiwaku.
Langganan:
Postingan (Atom)
PEJUANG GARIS 2: Operasi Kista Endometriosis
Setelah 4 dokter Obgyn memvonis ada kista endometriosis di sebelah kanan dan kiri, maka berbagai usaha dan upaya saya lakukan. Beberapa bula...
-
1. PENDAHULUAN Pembelajaran di Indonesia selama ini masih banyak menggunakan metode konvensional, yaitu metode pembelajaran yang b...
-
Jika anda mengalami kesulitan mempelajari fisika, ada kemungkinan itu tidak mutlak merupakan “kesalahan” anda. Sistem pengajaran fisika kita...