Senin, 14 Maret 2011

SAYATAN TERPERIH

Oleh: Islamiani Safitri

Lembaran itu terus ku bolak-balik. Masih tak juga menemukan titik temu. Ternyata cukup susah juga mencari referensi untuk menyusun skripsiku. Perlahan kupandangi tulisan news roman dengan teliti sambil ku telaah makna dari setiap kata yang tertuang, namun hasilnya malah jauh dari harapan. Mataku remang, pikiran pun melayang, dan aku kembali terlarut dalam lamunan.
Mereka menjulukiku ‘Wanita Tangguh’. Entah apa sebabnya. Mungkin memang karena ketangguhanku atau mungkin karena kisah hidupku yang bagai sebuah drama di panggung sadiwara. Tapi itu semua bukanlah masalah bagiku, karena menurutku kata-kata itu adalah do’a. Terima kasih kepada segenap para sahabat karena secara tidak langsung telah mendoakanku untuk menjadi wanita yang tangguh.

*****
Semester Tiga
“Cari jurnal tentang upaya peningkatan pendidikan di Indonesia ya, kemudian kritik isi dari jurnal tersebut. Minggu depan kita bahas bersama-sama.” Pak Mujib menutup perkuliahan.
“Baik, Pak.” Respon para mahasiswa serentak.
Setelah memasukkan buku-buku ke tasnya, Pak Mujib segera keluar meninggalkan kelas.
“Mau kemana, Cha?” tanya sahabatku waktu itu.
“Maaf, aku harus mengejar Pak Mujib. Sebentar ya.” Jawabku tergesa-tergesa sambil menyusul langkah Pak Mujib.
Dengan mempercepat langkahku, akhirnya dapat kukejar juga jalannya.
“Permisi, Pak.” sapaku agak gugup.
“O iya, ada apa. Cha?” Pak Mujib menhentikan langkahnya dan berbalik ke arahku.
“Maaf, Pak. Echa mau memberikan ini.” Kuulurkan sebuah amplop putih dari tanganku.
“Apa ini, Cha?” tanyanya heran.
Aku hanya menunduk mengalihkan tatapan matanya dengan wajahku yang memerah. Sepertinya beliau memperhatikan gerak-gerik dan wajahku.
“Hmmm… lebih baik konsentrasi dulu aja dengan kuliahnya. Maaf, bapak harus mengajar ke kelas bawah. Jadi bapak duluan ya.” Pak Mujib beranjak pergi meninggalkan diriku yang masih terus berdiri terpaku.
Sejak saat itu aku tidak pernah lagi berbicara dengan Pak Mujib. Aku merasa kecewa, malu, lancang, dan kurang ajar karena berani sekali mengungkapkan perasaan cinta kepada seorang dosen yang sangat terkenal dengan kebijaksanaannya itu. Aku di tolak. Katanya aku masih terlalu dini untuk menyatakan hal yang demikian. Maaf, Cha. Bapak merasa Echa masih terlalu dini dan masih banyak lagi cita-cita yang harus Echa kejar. Fokuskanlah pada kuliah dulu. Jodoh, Allah sudah mengaturnya. Begitulah balasan yang aku terima dari Pak Mujib yang ia kirimkan lewat emailku.

*****
“Gimana Cha, kamu maukan menerima lamaran Mas Arya?” kembali mamaku menanyakan hal itu lagi.
Bukan aku menolak. Tapi memang aku tidak pernah mencintai Mas Arya, anak teman almarhum papaku. Sedangkan aku memang dari awal kuliah sudah menyimpan rasa dengan salah satu dosenku yaitu Pak Mujib.
“Orangnya sudah mapan. Mama yakin dia bisa mengayomimu. Agamanya juga tidak diragukan lagi kan?” jelas mamaku yang mungkin sudah tidak sabar lagi dengan sikapku yang terus diam.
“Ma, tapi Echa kan masih mau kuliah, Ma?” aku mulai angkat bicara.
“Mama kan tidak menyuruhmu untuk berhenti kuliah. Malah Mas Arya mendukung dengan segala aktivitasmu.” Sambung mamaku.
“Tapi Echa belum siap, Ma?” alasan itupun meluncur dari bibirku.
“Cha… dengerin mama ya, Nak. Kalau sampai menunggu siap, kamu nggak akan pernah siap. Bukankah dengan menikah kamu akan lebih dewasa?” terang mamaku. Kali ini agak sedikit ngotot.
“Sudahlah, Nak. Mas Arya itu lelaki baik-baik… dia sangat cocok untukmu, Nak. Mama akan sangat bahagia jika kamu mau menikah dengannya. Mama sangat bahagia…” butiran air mata itu tampak mengalir di pipi mamaku.
Astagfirullahal’adzhim… durhakanya diriku karena sudah membuat mama menangis. Hatiku miris, tak kuasa melihat wajah mama yang memelas penuh harap seperti itu. Aku hanya tertunduk sambil menyembunyikan amarahku.

*****
“Kalau itu permintaan orang tua Echa, penuhilah. Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya. Semua ini beliau lakukan pasti demi kebahagiaan Echa. Percayalah… cepat atau lambat cinta itu pasti akan tumbuh. Apa lagi dia itu lelaki baik-baik kan?” ternyata semua orang di sekelilingku membela mamaku.
Tak ada pilihan lain. Setelah aku pertimbangkan, akhirnya aku mengikuti permintaan mamaku.

*****
Akad nikah kami pun tiba. Walau tidak didasari dengan rasa cinta, aku berusaha untuk tetap menyunggingkan senyum yang paling manis untuk semua manusia yang hadir diresepsi pernikahanku.
“Barakallahu lakuma wa Baraka alaikuma wajama’a bainakuma fil khair.” Ucap para sahabatku yang hadir pada saat itu.
“Terimakasih.” Jawabku singkat.
Semoga saja aku bisa menjalani hidupku yang baru ini tanpa beban.

*****
Benar-benar sangat tersisksa menikah dengan orang yang tidak dicintai. Semuanya menjadi beban dan jauh dari ketulusan. Seringkali kali kecanggungan terjadi di antara kami. Bahkan aku lebih sering mencari-cari alasan untuk bisa jauh darinya atau pulang ke rumah dengan alasan kangen mamaku.
“Mas, Echa hari ini pulangnya sore. Jadwal kuliah padat.” Izinku pada suami.
“Ya sudah nggak apa-apa. Jam berapa nanti Mas jemput?” tanyanya padaku.
“Oh… Gak usah dijemput, Mas. Biar Echa pulang sama Ria aja ketepatan hari ini dia sendirian katanya. Mas di rumah aja,” aku selalu dengan alasan yang sama.
“Ya sudah, hati-hati ya, Dik. Mas Berangkat kerja dulu.” Ucapnya lembut.
Kecupan mesranya pun mendarat di keningku. Walau agak risih tapi aku berusaha untuk tetap terlihat biasa. Kucium tangan kanannya. Ia pun berlalu meninggalkan rumah.
Untuk kesekian kalinya aku berbohong. Hari ini hanya ada satu mata kuliah. Dan aku lebih senang menghabiskan waktuku di perpustakaan kampus daripada berduaan dengan Mas Arya di rumah. Sungguh miris.

Semester Empat
Perutku mual dan kepalaku pusing tidak karu-karuan. Sebentar-sebentar aku harus ke kamar mandi untuk menyalurkan hasratku yang ingin muntah.
“Kita ke dokter aja, Dik. Mas gak tega melihatnya,” ucap Mas Arya penuh khawatir.
“Gak usah, Mas,” sanggahku bandal.
“Kali ini jangan membantah ya, ini demi keselamatan adik.”
Tanpa meminta persetujuanku, Mas Arya langsung membawaku ke dokter. Aku pun diperiksa.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Mas Arya gugup.
Dokter itu hanya tersenyum tipis.
“Selamat, Pak. Istri bapak hamil.”
“o ya? Terimaksih pak.”
Tampak jelas rona kebahagiaan muncul di wajah Mas Arya. Dia menggenggam tanganku erat-erat. Alhamdulillah ya Rabb, telah Kau jawab doa-doaku. Kalimat tahmid itu tak henti-hentinya mengalir dari bibir suamiku. Dan aku hanya menyunggingkan sedikit senyum sebagai penghargaan atas kebahagiannya. Berdosakah aku?

Tujuh Bulan Kehamilanku
Semakin hari aku semakin merasakan kasih sayang yang tulus dari Mas Arya. Aku seperti mutiara indah yang senantiasa ia jaga dan ia rawat. Bahkan sedikitpun Mas Arya tidak rela melihat ada tanda-tanda lelah di wajahku. Adik gak boleh capek, adik harus jaga kesehatan dan kehamilan adik. Selalu begitu katanya. Dan perlahan aku sudah bisa menerimanya disisiku.
Cahaya matahari membangunkanku dari lelap tidurku semalaman. Sinarnya hangat menyelimuti wajahku. Dengan payah kucoba membuka kedua kelopak mataku. Astagfirullahal’adzim… sudah jam 08.00 pagi rupanya. Aku menoleh kesebelahku dan tidak kudapati lagi sosok suamiku disana. Aku turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar. Upsss… lantai yang kupijak terasa sangat dingin sekali. Ternyata lantai ini masih basah, seperti habis dipel.
“Mas… “ panggilku dengan suara yang masih serak.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah suara kericuhan di dapur. Dengan penuh penasaran aku langsung menuju ke asal suara tersebut. Dan semua lantai di setiap ruangan masih dalam kondisi basah.
“Mas… “ panggilku lagi.
Tetap tidak ada jawaban. Aku pun ke dapur. Subhanallah… sarapan sudah tersedia di atas meja makan. Dua piring nasi goreng dan dua gelas susu sudah bertandang di atas meja. Sejak kapan ada pembantu baru? Pikirku dalam hati. Kulirik semua sudut di dapur ini, semua sudah tertata rapi dan bersih. Padahal, semalam ada setumpuk piring kotor yang belum dicuci. Semua jendela juga sudah dibuka. Aroma-aroma wewangian menyebar disetiap sudut ruangan. Nyaman sekali.
“Eh… istri tercintaku sudah bangun. Selamat pagi sayang,” sapanya lembut.
Dia keluar dari sebuah kamar mandi.
Masih dengan dahiku yang berkerut karena penuh heran, aku segera ke kamar mandi yang baru saja dmasuki oleh suamiku itu. Semuanya bersih, rapi, dan harum.
“Kenapa, Dik? Mas nyapa kok gak dijawab?” tanyanya tersenyum.
“Mas cari pembantu ya? Kok gak bilang-bilang sih,” hardikku.
“Siapa yang cari pembantu. Daripada uangnya untuk gaji pembantu, lebih baik ditabung untuk biaya persalinan anak kita nanti.” Jelasnya santai.
“lalu, ini semua… “ belum sempat aku habiskan kata-kataku, Mas Arya meletakkan jari telunjuknya ke bibirku.
“Hussstt… Ibu hamil pagi-pagi gak boleh cerewet. Nanti anak yang di dalam perut nangis loh. Karena dia kira ibunya marah sama dia.” Bisiknya ditelingaku.
Aku tersenyum. Mataku mulai berkaca-kaca menahan haru.
“Kita sarapan yuk, Mas udah lapar.” Ajaknya padaku.
“Terimakasih ya, Mas. Sering-sering aja begini.” bisikku ditelinganya.
“Mulai nakal ya… “ balasnya sambil mencubit hidungku.
Akupun tertawa lepas dengan penuh bahagia. Sarapan pagi itu benar-benar menggambarkan dua manusia yang saling memadu kasih. Mas Arya menyuapiku dan aku pun menyuapinya. Sumpah, selama menikah baru kali ini aku bisa tertawa lepas dan bermesraan seperti ini dengan Mas Arya. Inilah kasih sayang yang iya tunjukkan untuk kesekian kalinya.

******
Ayunan bayi sudah bertengger di kamar kami. Masih dibungkus plastic. Warnanya hijau muda, tepat warna kesukaanku. Sekali lagi aku mendapat kejutan dari Mas Arya.
“Ayunan dari mana, Mas?” tanyaku bingung.
“Ya beli dong, masa mencuri.” Jawabnya santai.
Masih ada bungkusan besar lagi yang ia bawa ke kamar. Ternyata pakaian bayi isinya. Aku semakin bingung.
“Mas beli barang sebanyak ini uang darimana?” tanyaku lagi.
“Maaf ya, Dik. Selama ini Mas sisakan sedikit gaji untuk ditabung. Nah hari ini Mas belikan sebagian untuk perlengkapan bayi. Sisanya masih ada di tabungan. Simpan aja buku tabungan ini ya.” Ucapnya sambil memberikan buku tabungan itu ke tanganku.
Selama ini Mas Arya tidak pernah cerita tentang semua ini. Ya Allah… baru kusadari ternyata aku mendapatkan seorang suami yang sangat baik di dunia ini. Benih-benih cinta itu mulai hadir di hatiku.

Sembilan Bulan Kehamilanku
Ternyata begitu indah hidup dengan orang yang kita cintai. Dapat melayaninya penuh cinta, bergurau penuh cinta, bicara penuh cinta, dan beraktivitas penuh cinta. Rasanya ingin kuulang lagi pernikahan kami agar semua kuawali dengan penuh cinta. Tapi aku tetap bersyukur karena Allah menumbuhkan rasa cinta itu di usia tujuh bulan kehamilanku.
Banyak hal baru yang kurasakan setelah cinta itu tumbuh. Aku merasa ingin selalu dekat disisi Mas Arya. Bahkan aku rela bolos dari kuliahku demi berduaan dengan Mas Arya di rumah. Ketepatan setiap hari jumat dan sabtu beliau libur. Indah sekali rasanya….

*****
Pagi itu aku merasakan sakit yang menggila. Rasa sakit ini tidak bisa terkatakan lagi. Keringatku mengucur deras membasahi tubuh karena menahan rasa sakit. Dunia juga sudah tidak mampu aku pandang, seperti hendak dicabut saja nyawa ini. Inikah rasanya sakit ketika akan melahirkan seorang bayi? Pantas saja kematian seorang ibu ketika melahirkan itu dianggap mati syahid, karena memang proses rasa sakit yang dirasakan itu begitu dahsyat.
Entah bagaimana prosesnya, aku juga tidak sadar. Dan sekarang aku sudah berada diruangan yang bercat serba putih ini. Ternyata rumah sakit. Aku didampingi oleh suami dan dua orang berseragam putih. Nafasku masih tersengal-sengal, suara eranganku pun membahana terdengar diruangan ini. Kugenggam kuat-kuat tangan suamiku, terkadang kuremas kulitnya sekuat tenagaku sebagai lampiasan untuk rasa sakit yang kurasakan. Aku tau, suamiku juga pasti merasakan sakit karena remasanku itu dan aku tidak perduli. Antara hidup dan mati. Itulah yang aku rasakan saat itu.
Setelah berjuang beberapa jam, akhirnya tangisan bayiku memecahkan susanana. Mendengar tangisan itu, rasa sakitku hilang seketika. Senyum pun merekah dari rona wajahku. Itulah suara cinta kami yang menjelma menjadi seorang bayi yang rupawan. Dialah putra, saksi cinta yang selama ini kami rajut bersama.
Mas Arya mengumandangkan adzan ditelinga bayi kami. Merdu nian suaranya. Hatiku terus berdzikir memuja kebesaran-Nya, terimakasih ya Rabb.
“Terima kasih Umi, telah melahirkan anak kita dengan selamat,” bisiknya pelan ditelingaku.
Itulah hari pertama Mas Arya memanggilku ‘Umi’. Dengan agak terbata-bata akupun membalas ucapannya, “Sama-sama Abi.” Senyumku mengembang.
Mas Arya mengecup keningku.

*****
Hari kedua anakku berada di dunia.
“Yang sabar ya, Nak,” ucap mamaku seketika sambil terisak-isak dalam tangisnya.
“Ada apa, Ma?” tanyaku penuh heran.
Bingung dan tak karu-karuan. Ada apa gerangan dengan mamaku, mengapa ia menangis, mana suami dan anakku?
Tanpa penjelasan, aku dituntun oleh suster dan mamaku untuk duduk di atas kursi roda. Perlahan suster mendorong kursi rodaku dan keluar dari ruangan.
“Mau kemana kita, Ma. Apa yang terjadi?” tanyaku penasaran disepanjang jalan.
Mama masih tetap diam. Dan hanya melanjutkan isak tangisnya. Pasti ada sesuatu, kataku dalam hati.
Tak lama kami memasuki ruangan. Sudah ada banyak orang disana. Terutama kedua mertuaku, dan semuanya berlinangan air mata. Aku masih bingung. Jatungku berdebar tidak karuan. Mamaku mendorongku untuk mendekat ke sebuah ranjang mungil di ruangan itu. Dan… otakku tiba-tiba saja berhenti berpikir, bibirku terkatup tak sanggup berkata-kata. Nafasku seperti hanya sampai ditenggorokan saja. Dunia seakan berhenti berputar. Jiwaku goncang, air mataku menetes tanpa perintah. Suamiku terbujur kaku disana. Semua tidak dapat terlukiskan lagi. Pandanganku gelap saat itu. Wajahku memucat seperti kapas. Tenagaku perlahan meluruh melihat jasadnya yang sudah dingin membeku. Remang…. Akupun ambruk tak sadar.
Kecelakaan itu merenggut nyawa suamiku. Sungguh ini merupakan sayatan terperih dalam sejarah hidupku. Sanggupkah aku terbang hanya dengan satu sayap, membesarkan buah hati hanya sendirian, dan menyandang status janda di dunia ini? oh… tidak, tapi inilah suratan hidupku dan aku harus sanggup menghadapinya.

*****
“Hei… melamun aja,” sapa Ria—sahabatku—membuyarkan lamunanku.
Aku terkejut dengan tepukan tangannya di pundakku. Cepat-cepat kuhapus air mata yang meleleh tanpa sadar di pipiku.
“Eh… kamu, ada apa?” tanyaku gugup.
Dia tersenyum menatapku. Tapi tak bisa dipungkiri, terpancar rasa iba di wajahnya.
“Rajin banget… tapi ini baca apa melamun?” sanggahnya tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku tersenyum.
“Yang lalu biarlah berlalu, biarkan dia menjadi kenangan yang berharga dalam hidup.” Sambungnya pelan.
Aku mulai paham dengan apa yang ada dipikirannya. Supaya tidak terlarut dalam suasana, aku mengalihkannya dengan mengajaknya pergi.
“Eh, belum makan siangkan? Kita ke kantin yuk…” ajakku.
Kutarik tangannya. Dan kamipun beranjak pergi meninggalkan perpustakaan tercinta.
Sampai saat ini aku belum hendak untuk menikah lagi. Cinta ini masih kujaga utuh di lubuk hati yang terdalam. Untuk mengalihkan kesedihanku ini, aku lebih senang menghabiskannya ke perpustakaan. Di perpustakaan inilah kulayangkan curahan hati dan tangisan perih jiwaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEJUANG GARIS 2: Operasi Kista Endometriosis

Setelah 4 dokter Obgyn memvonis ada kista endometriosis di sebelah kanan dan kiri, maka berbagai usaha dan upaya saya lakukan. Beberapa bula...