Rabu, 19 Desember 2012

Contoh Literatur Rivew: MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA DENGAN METODE EKSPERIMEN





1.   PENDAHULUAN
Pembelajaran di Indonesia selama ini masih banyak menggunakan metode konvensional, yaitu metode pembelajaran yang berupa ceramah (teacher centered),  dimana pendidik berperan aktif sedangkan peserta didik cenderung pasif (Nugroho, 2010). Begitu juga dalam pembelajaran fisika, kebanyakan guru menyampaikan materi dominan bersifat kuantitatif serta tanpa melibatkan siswa untuk aktif selama proses pembelajaran. Akibatnya, siswa menjadi bosan karena menganggap fisika hanya kumpulan rumus yang aplikasinya tidak jelas.

Laboratorium  sekolah juga jarang digunakan. Padahal, peralatannya mulai merata  hampir ke seluruh pelosok daerah. Karena guru sudah merasa nyaman dengan metode  konvensionalnya, menyebabkan banyaknya peralatan yang tidak dimanfaatkan sehingga siswa kurang mengenal alat-alat praktikum fisika.

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu di beberapa sekolah (Yogyakarta, Surakarta, Riau dan Lampung), pembelajaran fisika juga belum bersumber pada upaya melibatkan siswa dengan gejala alam yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari, sehingga siswa tidak memahami konsep karena tidak ada bukti yang konkret dan berakibat pada rendahnya nilai rata-rata fisika.
Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang kian maju, pembelajaran sains sangat berperan dalam menunjang perkembangannya. Karena ilmu sains merupakan pondasi dasar untuk menciptakan inovasi baru dalam dunia teknologi. Konsep yang baik dan benar adalah salah satu cara untuk merangsang  kreativitas siswa. Hal ini hanya akan tercapai jika pembelajaran fisika di sekolah berjalan secara ideal.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu dikembangkan suatu tindakan yang mampu meningkatkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan metode eksperimen. Dengan metode ini, interaksi siswa dan guru akan semakin aktif karena siswa dilibatkan dalam praktikum tentang materi yang tengah diajarkan. Lewat eksperimen yang dilakukan, siswa akan lebih mengenal fakta serta pemahaman yang lebih utuh sehingga dapat merangsang peningkatan ketrampilan, kreativitas dan semangat dalam belajar.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar fisika siswa dengan menggunakan metode eksperimen.



2.   METODE
2.1 Metode Eksperimen dalam Pembelajaran
Makna empiris dari konsep menjadi perhatian yang sangat penting. Beberapa konsep dan hukum dalam fisika hendaknya dibuktikan untuk lebih meyakinkan kebenarannya. Eksperimen merupakan wadah dalam pembuktian fenomena fisika dari teori dan konsep yang sudah ada (Hanson, 1958).
Dalam ranah pendidikan, metode eksperimen merupakan suatu metode mengajar dimana siswa melakukan percobaan tentang suatu hal yaitu dengan merancang suatu eksperimen, melakukan eksperimen serta menuliskan hasil pengamatannya. Dari hasil pengamatan yang dilakukan, siswa akan memperoleh data serta temuan baru yang harus dianalisa dan disusun dalam bentuk laporan (Anggraini, 2010).
Dalam penerapannya, guru berperan sebagai fasilitator yang menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS) serta mendampingi siswa pada saat proses kegiatan eksperimen. Guru memantau dan meluruskan jika ada kesalahan atau penyimpangan prosedur pada saat praktikum. Dengan demikian, proses pembelajaran ini akan sangat terorganisir dan komunikatif.
Tujuan metode eksperimen dalam pembelajaran antara lain : (1) membandingkan teori dan kenyataan, (2) menguji kebenaran hukum fisika, (3) visualisasi fenomena fisika, (4) membangun common sense fisika, (5) mendapatkan rasa fisika, (6) mereplikasi ketetapan-ketetapan fisika (Slameto, 1995).
2.2 Sikap Ilmiah
Beberapa sikap ilmiah yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah dan ditemukan pada proses pembelajaran yang menggunakan metode eksperimen, antara lain:
1)    Sikap ingin tahu : apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya,maka ia beruasaha mengetahuinya, senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiwa, kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah, memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
2)    Sikap kritis : Tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti – bukti pada waktu menarik kesimpulan, tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh orang lain dan bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan buktibukti yang kuat.
3)    Sikap obyektif : Melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri. Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek.
4)    Sikap ingin menemukan : Selalu memberikan saransaran untuk eksprimen baru, kebiasaan menggunakan eksprimeneksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif, serta memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya.
5)    Sikap menghargai karya orang lain: Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya serta menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
6)    Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan, tidak akan berhenti melakukan kegiatankegiatan apabila belum selesai, dan terhadap halhal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
7)    Sikap terbuka: Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang diketahuinya serta terbuka menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapatnya (Brotowidjoyo, 1985).

2.3   Cara Pengambilan Data dari Beberapa Penelitian
Ada beberapa data yang akan dikemukakan dalam paper ini. Data ini diambil dari tiga peneliti terdahulu yang langsung menerapkan metode pembelajaran eksperimen di sekolah. Adapun cara pengambilan data dari masing-masing peneliti adalah sebagai berikut:
2.3.1      Penelitian I
Data penelitian pertama yang  ditulis pada paper ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmadi Ruslan Hani. Penelitian ini dilakukan di SMA Pembangunan III Ponjong Gunung Kidul Yogyakarta pada Tahun Ajaran 2009/2010. Materi fisika yang diajarkan pada saat penerapan metode eksperimen adalah tentang gerak, gaya dan energi pada kelas X.
Dalam proses pengambilan datanya, peneliti mengambil dua kelas yang berbeda untuk dibandingkan. Pemilihan kelas ini dilakukan secara acak. Kelas A diberi perlakuan pembelajaran fisika berbasis eksperimen, sedangkan kelas B diberi perlakuan pembelajaran dengan metode konvensional. Pada kelas A anggotanya dibagi menjadi kelompok-kelompok (terdiri tiga sampai empat siswa). Masing-masing kelompok menempuh delapan judul eksperimen yang terdiri dari materi gerak, gaya, dan energi. Sedangkan pada kelas B diberi perlakuan pembelajaran dengan metode konvensional dengan materi yang sama. Setelah semua kegiatan belajar mengajar selesai dilakukan, selanjutnya dilakukan tes dengan soal yang sama. Tes ini dimaksudkan untuk memperoleh data pemahaman konsep siswa.
Penelitian ini ada tiga variabel, yaitu : (1) variabel terikat : pemahaman konsep, (2) variable bebas : metode pembelajaran, (3) variabel penguat : (a) kemampuan berhitung, dan (b) kemampuan mekanik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes penalaran tentang konsep-konsep gerak, gaya dan energi, yang terdiri dari 25 soal. Tipe soal pilihan ganda dengan empat alternatif jawaban yang disertai dengan soal isian alasan terhadap jawaban yang dipilih.
2.3.2  Penelitian II
Data kedua yang  ditulis pada paper ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Nuril Maulida Fauziah. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010 di MAN Tlogo Blitar. Penelitian ini dilaksanakan selama selama 6 bulan yaitu dari bulan Januari 2010 hingga bulan Juni 2010. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas Xb dan Xg yang berjumlah 80 orang. Teknik dan instrument pengumpulan data ini diambil dengan menggunakan kuesioner dan wawancara kepada siswa mengenai kegiatan pembelajaran fisika dengan metode eksperimen yang telah dilakukan. Analisis data yang dilakukan bersifat deskriptif dan kuantatif.
2.3.3  Penelitian III
Data penelitian terakhir yang  digunakan dalam paper ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Damriani di kelas XII IPA-5 SMA Negeri 3, Bandar Lampung pada bahasan pokok Listrik-magent. Penelitian ini berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 3 siklus. Pengambilan data ini dilakukan pada setiap akhir dari masing-masing siklus. Adapun rincian data yang diambil pada setiap siklus adalah: (1) Data refleksi, diambil dengan menggunakan catatan observasi pada saat pembelajaran dengan ketrampilan proses. (2) Data aktivitas siswa, diambil pada saat siswa melakukan kegiatan praktikum berdasarkan LKS. Data aktivitas dimunculkan dengan on task (kegiatan siswa yang sesuai dengan pembelajaran) dan off task (kegiatan siswa yang tidak sesuai dengan pembelajaran). (3) Data hasil belajar siswa, dilakukan dengan uji blok sebanyak 3 kali sesuai dengan jumlah siklus yang dilaksanakan.



2.4 Data dan Hasil Penelitian
Di bawah ini adalah tabel data dan hasil penelitian yang diperoleh dari beberapa peneliti di atas.  Masing-masing peneliti memiliki fokus dan tujuan yang berbeda-beda dalam menerapkan metode pembelajaran eksperimen sehingga memiliki hasil akhir yang berlainan. Adapun data dan hasil penelitiannya adalah sebagai berikut:
2.4.1 Penelitian I
Tabel 1. Rekapitulasi data hasil uji deskriptif
No
Metode Pembelajaran yang Digunakan
Nilai Rata-rata Kelas
Berhitung
Mekanik
Konsep
1
Metode Konvensional
53,66
57,69
15,48
2
Metode Eksperimen
54,86
53,28
28,48
 Sumber: Hani, 2011
Table 1. di atas menunjukkan bahwa perbedaan skor kemampuan berhitung dan kemampuan mekanik antara kelas A (metode eksperimen) dengan kelas B (metode konvensional) tidak terlalu tinggi, namun pada skor rata-rata pemahaman konsep kelas A  jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas B. Dari hasil tersebut dapat diperoleh informasi bahwa peningkatan pemahaman konsep fisika yang dicapai siswa dapat diprediksikan akibat perlakuan yang diberikan, yaitu karena penerapan metode pembelajaran eksperimen.
2.4.2 Penelitian II
Table 2. Data Perilaku Berkarakter Siswa
No
Karakter bersifat ilmiah
Jumlah persentase jawaban
1
Bersikap kritis
69%
2
Bersikap tabah dan ulet
73,2%
3
Sangat menghargai waktu
60%
4
Sikap sadar lingkungan
77, 5%
 Sumber: Fauziah, 2010
Table 2. di atas menunjukkan beberapa karakter yang muncul setelah diterapkannya metode pembelajaran eksperimen. Mengacu dari teori sebelumnya mengenai sikap ilmiah,  maka pada hasil penelitian ini terdapat beberapa indicator sikap ilmiah yaitu sikap sadar lingkungan, sikap tabah dan ulet, sikap kritis, dan sikap sangat menghargai waktu. Indikator tersebut merupakan sikap ilmiah yang muncul pada siswa ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran fisika dengan metode eksperimen.


2.4.3 Penelitian III
Table 3. Data Rata-rata Nilai dan Aktivitas Siswa
Siklus dalam penelitian
Persentase Aktivitas Siswa
Rata-rata nilai siswa
Off task
On task
Siklus 1
61%
43,3%
56,82
Siklus 2
3,7%
55,8%
68,77
Siklus 3
1,2%
68,3%
74,40
   Sumber: Damriani, 2008
Pada Table 3. di atas menunjukkan bahwa ada peningkatan pada aktivitas on task dan nilai rata-rata siswa pada setiap siklus, sedangkan untuk aktivitas off task selalu mengalami penurunan. Hal ini memberikan informasi bahwa penerapan metode pembelajaran eksperimen dapat memicu semangat dan motivasi siswa sehingga terjadi peningkatan aktivitas dan nilai rata-rata fisika siswa.

3.   PEMBAHASAN
Dari seluruh data hasil penelitian yang telah dipaparkan, terlihat bahwa ada peningkatan dalam segala aspek belajar ketika menerapkan metode pembelajaran eksperimen. Pada table 1, pemahaman konsep pada kelas A (menggunakan metode eksperimen) lebih baik dari kelas B (menggunakan metode konvensional), yaitu 28,48. Dengan melihat konsep dari hukum dan definisi fisika yang kemudian dibuktikan lewat praktikum, siswa dapat mencari hubungan serta factor-faktor yang mempengaruhi dari materi fisika yang sedang dipraktikumkan. Oleh karena itu, pemahaman konsep siswa semakin baik dan pembelajaran menjadi hal yang sangat menyenangkan.
Pada table 2 terlihat munculnya beberapa sikap ilmiah rata-rata di atas 60%. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter sikap ilmiah dapat dilakukan dengan menerapkan metode eksperimen dalam proses pembelajaran.
Pada table 3 terjadi kenaikan aktivitas on task di setiap siklusnya. Di sini interaksi antara guru dan siswa semakin komunikatif. Guru berperan sebagai fasilitator dan mediator sehingga siswa lebih leluasa bertanya ketika ada ketidakpahaman dalam prosedur dan mekanisme praktikum. Siswa menjadi lebih mandiri dalam menggali segala pengetahuan serta kreativitasnya, sebab mereka diberikan kebebasan dalam mengapresiasikan kemampuan dan daya pikirnya dalam mengembangkan pengetahuan terkait materi fisika yang tengah dipraktikumkan. Maka dari itu  nilai ketuntasan (KKM) fisika dapat tercapai dengan nilai rata-rata akhir di atas 70.
 Dalam penerapannya, metode pembelajaran eksperimen ini dilaksanakan di dalam laboratorium sehingga siswa menjadi terbiasa menggunakan dan mengoperasikan peralatan yang ada. Oleh karena itu pemanfaatan laboratorium sudah dapat dimaksimalkan.
Berdasarkan pemaparan di atas, diketahui bahwa metode eksperimen memang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Oleh karenanya, metode pembelajaran eksperimen perlu dikembangkan.
4.   KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan metode eksperimen dalam pembelajaran fisika dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa serta pemanfaatan laboratorium sehingga siswa dapat menggunakan peralatan. 

Persiapan Praktikum Fisika


1.       PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. karena lewat pembelajaran seseorang dapat mengetahui serta memahami ilmu yang menjadi pondasi untuk prospek kehidupan di masa mendatang sehingga peserta didik siap dan mampu dalam mengimbangi persaingan ilmu dan teknologi yang kontemporer.
Dalam hal ini kontribusi para pendidik menjadi sangat berperan. Guru harus mampu menyampaikan pembelajaran dengan baik agar dapat diterima oleh siswa dengan mudah dan melekat dalam ingatannya. Tak hanya itu, hendaknya pembelajaran juga mampu menggali dan mengembangkan bakat para siswa sehingga menjadi pelajar yang kreatif dan inovatif. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan praktikum.
Praktikum merupakan wadah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Khususnya ilmu sains. Melalui praktikum, siswa dapat membuktikan konsep dan teori sains serta menemukan fenomena-fenomena yang dapat menarik minat belajarnya. Bakat dan kreativitas akan tergali sehingga memunculkan pelajar-pelajar yang penuh inovasi. Oleh karena itu, persiapan praktikum mutlak diperlukan untuk menjamin kelancaran pada saat prkatikum dilaksanakan.
Ada beberapa persiapan yang menunjang kelancaran pada saat praktikum. Persiapan ini akan lebih baik jika ada komunikasi antara laboran, guru, dan praktikan. Setiap mereka mempunyai tugas dan persiapan masing-masing. Persiapan-persiapan itulah yang akan dibahas pada makalah kali ini.

1.2    Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk memahami persiapan praktikum fisika yang baik dan dapat diaplikasikan sehingga mempermudah proses pembelajaran.

[Ingin makalah lengkap??? hubungi islamiani.safitri@gmail.com atau miah_81288@yahoo.com (facebook) atau @islamiani (twitter)]

Sabtu, 15 Desember 2012

FENOMENA TEKANAN UDARA PADA PERMUKAAN ZAT CAIR DI DALAM GELAS


PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Udara atau yang sering kita sebut atmosfer merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kita. Atmosfer ini menjaga kita dari seluruh kemungkinan yang dapat merusak bumi yang kita cintai ini. Misalnya, meteor-meteor yang jatuh ke bumi akan akan hangus terbakar oleh lapisan atmosfer, atau radiasi ultraviolet yang sangat berbahaya bagi manusia diserap oleh atmosfer sehingga kadarnya jadi bermanfaat bagi manusia. Dengan kata lain, atmosfer atau udara ini diciptakan khusus untuk kebaikan manusia.
Atmosfer juga memiliki tekanan seperti halnya dengan zat cair. Tekanan udara sangat mempengaruhi cuaca. Terjadinya angin merupakan salah satu hal yang disebabkan oleh perbedaan tekanan atmosfer di dua daerah yang berdekatan. Angin bersifat meratakan tekanan udara. semakin besar perbedaan tekanan udaranya, semakin kencang angin berhembus sehingga terjadi keseimbangan tekanan. Daerah bertekanan rendah memiliki massa atmosfer yang lebih sedikit. Sedangkan daerah bertekanan tinggi memiliki massa atmosfer yang lebih besar.
Tekanan udara dapat menyebabkan gejala-gejala alam tertentu, contohnya adalah terjadinya angin siklon.  Selain itu, tekanan udara juga dapat memperkirakan cuaca yang akan terjadi. Jika tekanan udara lebih rendah dari biasanya maka diperkirakan akan terjadi hujan, sedangkan jika tekanan udara lebih tinggi dari biasanya maka diperkirakan cuaca akan cerah.
Selain gejala alam akibat tekanan udara, ada juga pemanfaatan dari peristiwa tekanan udara yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya peristiwa menghisap minuman dengan sedotan dan alat suntik. Keduanya menggunakan konsep perubahan tekanan udara sehingga kita dapat menghisap minuman dengan sedotan dan memasukkan obat kedalam tabung suntik.
Berdasarkan pemaparan di atas, ternyata banyak sekali fenomena tekanan udara yang ada di sekeliling kita. Dalam hal ini, penulis akan mengungkap fenomena tekanan udara pada permukaan air di dalam gelas yang ditutupi kertas. Ketika gelas tersebut dibalik, apa yang terjadi dengan air tersebut?

1.2  Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah:
a.       Untuk mengetahui peristiwa yang terjadi pada air di dalam gelas ketika posisi gelas dibalik.
b.      Untuk mengetahui fenomena tekanan udara yang terjadi pada peristiwa tersebut.

(Bagi yang ingin mendapatkan makallah full, silahkan hubungi penulis)

Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dengan Metode Hypnoteching


PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT
TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI
POKOK BUNYI DI KELAS VIII SMP
NEGERI 1 SIMPANG KANAN
 T.A. 2010/2011

Islamiani Safitri (NIM : 071244210059)

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT terhadap hasil belajar siswa semester genap pada materi pokok Bunyi di SMP Negeri 1 Simpang Kanan T.A. 2010/2011 dan aktivitas belajar siswa saat model pembelajaran tersebut digunakan.
 Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen. Populasi dalam penelitian  adalah seluruh siswa kelas VIII Semester Genap SMP Negeri 1 Simpang Kanan yang terdiri dari 3 kelas dengan berjumlah 97 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara cluster random sampling dengan mengambil 2 kelas dari 3 kelas secara acak yaitu kelas VIII-1 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-2 sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen berjumlah 28 orang dan kelas kontrol berjumlah 34 orang. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa adalah tes hasil belajar dalam bentuk pilihan berganda berjumlah 20 soal dan lembar observasi aktivitas siswa.
Dari hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata pretes kelas eksperimen 31,78 dengan standar deviasi 8,83 dan nilai rata-rata kelas kontrol 30,58 dengan standar deviasi 8,60. Berdasarkan hasil uji normalitas dan uji homogenitas pada data hasil tes kedua kelompok tersebut diperoleh bahwa data kedua sampel normal dan homogen. Setelah pembelajaran selesai diberikan, diperoleh nilai rata-rata postes pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT sebesar 78,00 dengan standar deviasi 10,05 dan pada kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional sebesar 67,06 dengan standar deviasi 10,16. Selanjutnya, berdasarkan analisis  uji-t dua pihak diperoleh thitung = 4,24 sedangkan untuk ttabel = 2,00 sehingga thitung > ttabel. Oleh karena itu Ha diterima dan Ho ditolak. Hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dalam penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered  Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok Bunyi di kelas VIII semester genap SMP Negeri 1 Simpang Kanan T.A. 2010/2011.

Jumat, 14 Desember 2012

STUDI AWAL INTERFERENSI GELOMBANG BUNYI DENGAN MENGGUNAKAN LAPTOP, SPEAKER, DAN MIKROFON


STUDI AWAL INTERFERENSI GELOMBANG BUNYI DENGAN MENGGUNAKAN LAPTOP, SPEAKER, DAN MIKROFON

Islamiani Safitri*, Sparisoma Viridi, dan Nurul Khotimah
Diterima xx Juni 2012, direvisi xx Juli 2012, diterbitkan xx Agustus 2012

Abstrak
Percobaan untuk menentukan laju rambat gelombang bunyi telah dilakukan. Yaitu dengan mengamati hasil interferensi yang dilakukan dengan menggunakan peralatan sederhana seperti laptop yang dilengkapi dengan soundcard, speaker, dan mikrofon. Laptop berperan sebagai pembangkit sumber bunyi (menggunakan piranti lunak Tone Generator) dan sekaligus sebagai penerima dan penganalisanya (menggunakan piranti lunak Praat). Dengan melakukan variasi frekuensi bunyi dapat diperoleh profil intensitas hasil interferensi sebagai fungi dari frekuensi sumber bunyi. Sayangnya rumus untuk interferensi destruktif dan konstruktif tidak dapat memberikan laju rambat gelombang bunyi yang secara fisis dapat diterima oleh temperature ruang. Hal ini diduga karena banyaknya obyek yang dapat menjadi reflector sumber bunyi pada ruang percobaan.

Kata-kata kunci: interferensi, laju gelombang bunyi, percobaan sederhana

Pendahuluan

Pengajaran fisika dalam dunia pendidikan kebanyakan masih bersifat konvensional yang hanya menekankan pada pengerjaan soal-soal kuantitatif (perhitungan matematis) dan mengabaikan persoalan fisika yang bersifat kualitatif (pemahaman perilaku alam). Dalam pembelajaran fisika hendaknya memfokuskan pada penggunaan konsep dan pemberian pengalaman langsung dengan memanfaatkan sekaligus menerapkan konsep, prinsip, serta fakta melalui alat peraga. Misalnya saja pada Interferensi gelombang bunyi. Hendaknya siswa mengetahui bagaimana interferensi itu terjadi sehingga siswa tidak hanya  mengetahui melalui teori. Siswa perlu dilatih untuk berpikir dan bereksperimen agar ketrampilan ilmiahnya bisa berkembang. Sehingga siswa mahir dalam menganalisa suatu gejala, menggunakan alat dan bahan, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesa, merencanakan, melaksanakan, menyimpulkan hasil praktikum, dan mengkomunikasikan beberapa temuan baru.
Namun, seringkali yang menjadi keluhan bagi kebanyakan lembaga pendidikan adalah laboratorium yang tidak lengkap. Padahal banyak barang yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan suatu percobaan. Hanya saja dibutuhkan inovasi baru dan kreatif untuk melakukannya. Contohnya pada penentuan laju gelombang bunyi dengan menggunakan laptop, speaker, dan mikrofon. Oleh sebab itu, penulis mencoba melakukan praktikum interferensi gelombang yang diberi judul “Studi Awal Interferensi Gelombang Bunyi dengan Menggunakan Peralatan Sederhana.”


Kesimpulan

Dalam percobaan ini diduga terjadi interferensi konstruktif dan destruktif namun kurang sesuai dengan yang diharapkan. Hal inidikarenakan kedua speaker yang digunakan tidak sepenuhnya identik, kurang sesuainya dengan teori untuk posisi konstruktif dan destruktif yang dihasilkan, dan banyaknya reflector gelombang pada ruangan laboratorium sehingga suara yang ditangkap mikrofon tidak lagi original. Oleh sebab itu laju gelombang bunyi yang dihasilkan berbeda dengan laju gelombang udara pada temperatur ruang..

(Ingin makalah lengkap silahkan hubungi ke islamiani.safitri@gmail.com)

PENJELASAN KONSEP FISIKA PADA ATRAKSI PERMAIANAN TONG SETAN


PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Wahana hiburan sekarang ini kian menjamur diseluruh penjuru daerah. Tidak hanya di kota-kota besar, wahana ini pun kian marak hingga ke pelosok-pelosok desa. Biasanya wahana hiburan di pelosok daerah lebih murah di bandingkan dengan yang di kota. Hal ini terjadi karena fasilitas permainan di kota lebih lengkap dan canggih.
Pasar malam adalah wahana hiburan yang sering diadakan di pelosok desa. Di dalamnya terdapat berbagai macam permainan yang dapat dinikmati oleh anak-anak dan orang dewasa. Salah satunya adalah pertunjukkan yang cukup ekstrim yaitu Tong Setan. Pertunjukan ini merupakan pertunjukan yang paling banyak diminati oleh orang dewasa, terutama para lelaki.  
Tong setan merupakan pertunjukan yang menampilkan seseorang mengendarai sepeda motor di atas dinding silinder yang besar. Biasanya dindingnya terbuat dari kayu yang disusun secara vertical. Uniknya, Pengendara sepeda motor tersebut tidak terjatuh meski posisinya tegak lurus terhadap gravitasi bumi. Hal ini lah yang menjadi salah satu pemikat para penonton yang membuat mereka penasaran. Sebagian orang awam mengatakan bahwa peristiwa ini dianggap bagian dari sulap. Padahal secara ilmiah, terjadinya peristiwa ini dapat dijelaskan dengan beberapa konsep fisika. Lalu, konsep fisika apa sajakah yang bekerja pada peristiwa tong setan?

1.2  Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui konsep-konsep fisika yang bekerja pada permainan tong setan.


(Jika ingin makalah lengkapnya, silahkan hubungi saya di islamiani.safitri@gmail.com)

























PEJUANG GARIS 2: Operasi Kista Endometriosis

Setelah 4 dokter Obgyn memvonis ada kista endometriosis di sebelah kanan dan kiri, maka berbagai usaha dan upaya saya lakukan. Beberapa bula...