“Pulang jam berapa nis, kelihatannya banyak sekali bawa buku?” tanya tia yang masih santai di atas kasur sambil membaca buku fiksi yang sangat digemarinya itu. “Iya tia, kemungkinan sampai jam 5 sore, soalnya hari ini ada 3 mata kuliah dan masing-masing 3 SKS, ane berangkat dulu ya udah telat nih” niswah meraih ransel abu-abunya dan bergegas melangkah meninggalkan kamar tapi sebelum menutup pintu kamar, ia menghadapkan kembali wajahnya ke arah tia, “Oya, kalau ada perlu nanti sms aja ya gak usah ditelpon soalnya dosennya killer nih” tia mengangguk diiringi dengan senyum simetrisnya.
Niswah dan Tia adalah mahasiswi semester 6 jurusan Fisika di salah satu universitas negeri di kota Medan. Mereka bertemu pada saat pendaftaran ulang sebagai mahasiswa Fisika di fakultas tersebut. Karena sama-sama belum menemukan kos-kosan, akhirnya mereka memutuskan untuk kos bersama dan hal itu berlanjut hingga sekarang. Bermacam kegiatan juga mereka ikuti, mulai dari organisasi kemahasiswaan, kepenulisan, tim penelitian, dan juga aktif di dalam salah satu Lembaga Dakwah Kampus (LDK).
Gubrakkkkk…..suara keras itu terdengar sangat dahsyat di panasnya terik matahari yang menggelegar. Jalan raya pun dilanda macet seketika, orang-orang berlarian ingin segera menyaksikan peristiwa apa yang tengah terjadi, suasan menjadi riuh gemuruh, sebagian wanita ada yang menjerit histeris dan sebagian yang lain hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat karena takut, “Ayo kita bawa ke rumah sakit terdekat” teriak salah satu lelaki separuh baya yang berusaha membopong tubuh mungil gadis yang sudah berlumuran darah itu, ada juga yang membawakan tas ransel gadis itu yang sempat terpelanting jauh dari pemiliknya. Sepeda motor supra pun siap menghantarkan gadis itu ke rumah sakit. Sementara itu, supir truk yang menabraknya segera diamankan, walau ada juga luka-luka di sekujur tubuhnya tapi masih beruntung karena kondisinya masih dalam keadaan sadar.
“Namanya Tia Pak, saya tau namanya dari KTP ini” ucap salah satu lelaki yang menyelamatkan tas gadis itu, “segera hubungi keluarganya” sambung pak jamal, lelaki yang membawa tia ke rumah sakit. Tiba-tiba seorang dokter keluar dari kamar UGD, “Maaf, apakah bapak saudaranya?” tanya dokter itu pada pak jamal, “Iya pak” aku pak jamal karena tidak mau memberikan penjelasan yang panjang, “Gadis itu sangat kekurangan darah pak, sedangkan stok darah di rumah sakit ini habis. Maaf, apakah golongan darah bapak ada yang A?” mata mereka saling bertatapan, dengan penuh sesal mereka serentak menggelengkan kepala. “Kalau begitu, coba hubungi segera kerabat yang golongan darahnya A, karena ini menyangkut keselamatannya. Dia hanya akan bisa bertahan selama 4 jam jika tidak ada darah yang disalurkan” ucap pak dokter dengan penuh rasa khawatir, “Baik pak akan kami usahakan” jawab lelaki itu sambil mengotak-atik handphone gadis itu.
Di tengah perkuliahan tiba-tiba ponsel niswah berdering. Dengan penuh kepanikan karna takut sang dosen melihat aksinya, niswah melihat layar ponsel nokianya. Ah…dasar Tia, kan udah dibilang tadi sms ja…gumam niswah dalam hati, dengan sigap niswah men-silent-kan ponselnya. Tapi terus-terusan panggilang itu bordering hingga membuat niswah merasa sangat tidak nyaman. Akhirnya dia mengirimkan sebuah pesan ke nomor hp ti, “Kan tadi udah dibilang SMS aja kalo ada perlu, ane lagi kuliah” satu pesan pun dikirim, karena niswah merasa terganggu dengan serta merta ia non-aktifkan ponselnya itu.
Jam sudah menunjukkan angka 5 perkuliahan pun segera berakhir, sambil berdesakkkan keluar dari kelas niswah mengaktifkan kembali ponsel yang tadi sempat dimatikannya. Belum ada 3 menit, beberapa sms masuk bertubi-tubi dan semuanya dari Tia. Ada apa dengan Tia? Dengan penuh penasaran ia membuka pesan-pesan yang masuk ke kotak masuknya itu. “Assalamualaikum, kok gak diangkat mbak? Benarkah ini temannya Tia? Tia sekarang di Rumah Sakit Haji, dia kecelakaan, kondisinya sangat kritis” bagaikan disambar petir niswah membaca SMS – SMS itu, jantungnya berdegup sangat kencang, kemudian niswah membuka kembali sms yang kedua, “kok malah di nonaktifkan mbak? Tia sangat butuh darah, stok di RS.Haji habis…golongan darahnya A, apakah golongan darah mbak juga A? mohon segera dating kesini demi keselamatannya” suasana semakin mencekam, tak peduli lagi ada berapa sms di bawahnya, niswah terus berlari ingin segera menuju RS. Haji, jalanan seolah hanya miliknya, orang-orang yang berlalu-lalang terus ditabraknya, tak perduli siapapun itu, yang ada dipikirannya hanya Tia, ia ingin segera menyelamatkan temannya itu karena golongan darah mereka ketepatan sama.
Gubrakkk…niswah membuka pintu kamar dengan kerasnya, nafasnya masih tersengal-sengal karena memburu waktu, sejenak ia terdiam karena melihat sudah banyak para kerabat dan temannya disana. Sorotan matanya tak berkedip melihat tubuh mungil yang sudah terbujur kaku di atas bilik kamar itu. Matanya berkaca-kaca, darahnya mengalir dan berdesir meluruh, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas tak berdaya dan perlahan hilang keseimbangan untuk tetap bisa berdiri dengan kokoh di ruangan itu. Air matapun mulai menetes di pipinya yang putih, tak percaya dengan peristiwa yang ada dihadapannya…niswah merasa sangat bersalah, merasa sangat berdosa, karena tidak bisa menolong sahabatnya itu. Seandainya saja dia tidak me-reject telponnya, seandainya saja dia tidak mematikan hpnya…berbagai wacana yang menyudutkannya terlintas dikepalanya.... tubuhnyapun ambruk di atas lantai kilat yang putih tak tahan melihat sahabatnya yang begitu cepat meninggalkannya…
Kamis, 10 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
PEJUANG GARIS 2: Operasi Kista Endometriosis
Setelah 4 dokter Obgyn memvonis ada kista endometriosis di sebelah kanan dan kiri, maka berbagai usaha dan upaya saya lakukan. Beberapa bula...
-
1. PENDAHULUAN Pembelajaran di Indonesia selama ini masih banyak menggunakan metode konvensional, yaitu metode pembelajaran yang b...
-
Jika anda mengalami kesulitan mempelajari fisika, ada kemungkinan itu tidak mutlak merupakan “kesalahan” anda. Sistem pengajaran fisika kita...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar