Jumat, 15 Februari 2013

Nasib Kampungku Menjelang PILKADA SUMUT


Menilik judul di atas, sungguh menggelitik. Betapa tidak, sebuah desa yg memang bukan tanah kelahiranku menjadi terasing tanpa peduli. Hanya segelintir orang yang bisa benar-benar memahami dan mengakui keberadaannya. Terpencil memang, bahkan tertinggal.

Tulisan ini rilis saat percakapanku dengan kedua orang tuaku, kemarin. Aku, sebagai simpatisan (belum berani mengaku kader karena belum paham benar tentang partai) ingin mengajak mereka memilih salah satu calon Gubsu menjelang pilkada maret esok. Namun, mirissss… aku tak bisa berkata-berkata  lagi mendengar jawaban polos mereka tanpa rekayasa.

“Pak, mak,… pilkada bulan depan coblos nomor 5 ya…” tawarku.

“Siapa calon no. 5?” Tanya bapakku tak mengerti.

“Itu loh… pak Gatot..” jawabku antusias.

“Ooo, Memangnya dikasih apa kamu sama Pak Gatot kok disuruh coblos no. 5?” jawab bapak sekenanya.

“Gak ada, kan kita insyaallah pilih yang terbaik.” Lanjutku.

“Gimana mau pilih, bantuan sedikitpun tak ada yang mengalir.” Jawabnya ketus.

“Lo.. itulah uniknya PKS, mereka gak mau sogok menyogok.. berharap rakyat memilih berdasarkan hati nurani.” Belaku.

“Tapi, di Sukaramai-Sei Rampah, mereka dapat bantuan untuk renovasi masjid senilai 200 juta dari pasangan cagub tersebut.” Jawab emak tak mau kalah.

Aku terdiam. Ya.. aku paham, mereka mendapatkan bantuan mungkin karena ada Tengku Erry disana.

“Coba deh, kamu berani gak ngajukan bantuan juga untuk masjid kita yg hampir 2 tahun gak jadi-jadi karena kehabisan biaya?” bapakku menantang.

“Sebentar lagi pemilu, tapi kampung kita masih sepi. Tak ada yg mensosialisasikan para cagub dan cawagub, sebagian besar masyarakat pasti tidak mengenal bobot-bibit cagub maupun cawagubnya. Jangan-jangan orang sini pada golput semua pas pemilu nanti.” Ibuku juga menimpali.

Itulah sepenggal percakapanku dengan kedua orang tuaku yang membuatku tersadar dan membuka mata lebar-lebar. Yang mereka katakan adalah benar. Kampung kami sepi dari kegiatan kampanye kecuali kampanye pemilihan bupati atau kepala desa saja, itupun kebanyakan hanya mengumbar janji tanpa disertai bukti. Maka jangan salahkan mereka, jika golput atau menerka-nerka menjadi sebuah pilihan akhir. Sesungguhnya mereka tidak pernah tau bobot-bibit cagub atau cawagub yang bakalan memimpin mereka. Mengapa semua ini terjadi???

Hanya ada 2 alasan mengapa mereka bersikap demikian. Alasan yang pertama adalah ‘kurang sosialisasi’. Selama ini saya tahu kerja keras para kader menjelang pemilu adalah Direct Selling. Menjajaki rumah ke rumah untuk menawarkan cagub dan cawagub yang mereka usung lengkap dengan cerita segudang prestasi dan keunggulannya. Tapi, kampung kami tak terjamah, anda tau???  Padahal ada DPC PKS Labusel disana dan ada hampir seribu penduduk untuk diajak pada kebaikan, sangat disayangkan, bukan?  Alasan kedua adalah ‘bantuan dan pembangunan’ yang tidak pernah mereka rasakan. Benar sekali, karena keluarga saya pun tinggal disana. Kampung kami memang berada di perbatasan antara Sumut dengan Riau, dan anda tau? Perbedaan yg sangat dramatis terlihat jelas disana. Jalanan Riau mulus tak berlubang, jalanan Sumut jangankan berlubang bahkan di aspal pun belum. Di Riau ada banyak sekolah negeri maupun swasta, di kampung kami, hanya ada 1 SMP Negeri dan belum ada sekolah untuk SMA, sehingga anak-anak yg lulus SMP hanya bisa melanjutkan sekolahnya ke kampung sebelah atau ke kota yang membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Di Riau, ada beberapa masjid besar dan megah yang dibangun oleh pemda, Rumah sakit dan klinik, pos polisi dan lain sebagainya, sedangkan di kampung kami, merenovasi masjid satu saja tidak kelar-kelar dan puskesmas juga gak jalan. Sungguh tragis bukan??

Kampung kami dan kampung sebelah sama-sama terletak diperbatasan, kampungku di tanah Sumut dan kampung sebelah di tanah Riau, lantas mengapa perbedaan itu begitu mencolok?? Yang lebih parah, warga kampung kami pun tak percaya lagi dengan kesejahteraan yang ditawarkan sumut. Ini terbukti dengan para orang tua yang selalu mengarahkan anak-anaknya untuk bekerja di Propinsi Riau bukan Sumut, padahal rata-rata mereka menyekolahkan anaknya di Kota Medan. Ini juga yang pernah kualami sebelum aku melanjutkan studiku ke Bandung, dan berhasil, ke tiga abangku mengabdi di Riau bukan di Sumut. Melihat semua fenomena ini, kadang aku sering menghirup nafas dalam-dalam ketika melewati kampung sebelah. Lantas apakah yang salah?

Maaf, bukan hendak membanding-bandingkan. Ini bicara fakta, dan ini adalah tugas untuk siapapun yang menang pada pilgubsu periode tahun ini. Aku juga tidak tau, apakah hal yang sama dialami oleh beberapa kampung atau hanya di kampungku saja yang bernasib demikian. Kami hanya ingin kampung kami sedikit diperhatikan dan dianggap ada!!!

Wassalam,
Mewakili warga Desa Pinang Damai, Kec. Torgamba, kab. Labuhan batu selatan - SUMUT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEJUANG GARIS 2: Operasi Kista Endometriosis

Setelah 4 dokter Obgyn memvonis ada kista endometriosis di sebelah kanan dan kiri, maka berbagai usaha dan upaya saya lakukan. Beberapa bula...