Jumat, 17 Desember 2010

guru yang penuh inspirasi

Terkadang kita sangat menyepelekan peran seorang guru, sering kali kita masuk kelas hanya untuk memenuhi kewajiban, memberikan materi, memriksa soal, dan setelah itu berlalu tanpa merasa ada tanggung jawab sedikitpun kepada anak didik. Tahukah Anda?? Sebenarnya mereka begitu sangat membutuhkan kita, membutuhkan perhatian, motivasi serta dorongan untuk menjadikannya manusia-manusia yang cerdas, ‘arif, dan bijaksana. Ya itulah anak didik yang masih begitu labil dalam menyikapi dirinya.
Jadi teringat akan peran guruku saat itu, dimana beliau adalah guru karya ilmiah kami di kelas 3 Aliyah. Untuk sekolah di ma’had, mata pelajaran ini memang penting karena salah satu syarat untuk lulus dari ma’had adalah membuat karya ilmiah megenai agama islam, baik dalam masalah fiqih, tauhid, maupun masalah-masalah agama yang lain.
Pagi itu diumumkan ada perlombaan dalam perayaan hardiknas di SMA Al-Azhar Medan. Banyak perlombaan yang diikutsertakan mulai dari tari daerah, pidato, membaca berita, penulisan karya ilmiah, dan masih banyak lagi. Waktu itu aku dipilih untuk ikut lomba karya tulis ilmiah (LKTI) dengan membaca berita. Wah… tantangan baru nih, biasanya jika ada perlombaan seperti ini aku di pilih untuk ikut lomba pidato bahasa Indonesia atau Arab dan lomba cerdas cermat saja, tapi kali ini aku diamanahkan oleh sekolah untuk mengikuti lomba yang belum pernah aku ikuti sebelum-sebelumnya. Ada perasaan takut dan kurang yakin juga, apa lagi lawan aku kali ini adalah dari SMA sekota Medan, wow….gak ada harapan deh..!!! sampai pada akhirnya guru KTI ku menyuport aku, membimbing aku, dan memberi perhatian tentang perkembangan tulisanku. Setiap kali berpapasan dengan beliau, pasti beliau menanyakan tentang perkembangan penulisanku dan terus menyemangati, “Islamiani pasti bisa…” itu yang sering kudengar dari bibir beliau. Setiap kali aku mendengar hal itu, semangat dan keyakinanku semakin membuncah. Aku merasa diperhatikan, aku merasa sangat dipedulikan, sangat dimotivasi, dan sangat berarti untuk sekolah hingga diluar dugaan aku memiliki energy yang luar biasa untuk bisa menang dalam ajang perlombaan ini.
Detik-detik perlombaan pun tiba dan KTI ku menjadi nominasi 3 besar yang akan diuji langsung oleh para pakar pendidikan saat itu. Aku sangat bersyukur ternyata dari sekian banyaknya KTI yang di kumpulkan dari beberapa sekolah, KTI ku masuk dalam nominasinya. Aku tak punya banyak persiapan waktu itu, bahkan tak memiliki media untuk mempresentasekannya. Maklumlah…di ma’had gak pernah tau OHP, Infocus, atau yang lainnya. Aku hanya bermodalkan diri dan otakku saja.
Beberapa pertanyaan telah diajukan oleh para penguji. Guru-guru juga menyaksikan perjalanan ini, dan Alhamdulillah pertanyaan mampu kujawab walau tidak begitu memuaskan para juri. Saat pemenang diumumkan, aku meraih juara 3. Aku sangat bahagia, bahkan bersyukur atas kemengan ini, walau belum jadi yang pertama tapi aku akan berusaha untuk lebih baik di hari-hari selanjutnya. “selamat ya mia, dapat juara 3…wajar dia dapat juara 1 soalnya dia udah biasa ikut lomba kayak gini dan selalu menang. Sedangkan yang juara 2 itu sangat wajar, dia kan tuan rumah” kata salah satu sahabatku yang juga juara 3 dalam perlombaan baca berita. Aku hanya tersenyum bangga karena setidaknya bisa membawa nama baik sekolah.
Itulah pengalamanku. Dan ini semua bisa terwujud tentu saja karena Allah lewat perantara guruku yang paling smart. Yang selalu memotivasi dan mendukungku. Jadi, kita sebagai calon guru hendaknya juga terus memotivasi anak didik dan lihatlah apa yang akan terjadi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEJUANG GARIS 2: Operasi Kista Endometriosis

Setelah 4 dokter Obgyn memvonis ada kista endometriosis di sebelah kanan dan kiri, maka berbagai usaha dan upaya saya lakukan. Beberapa bula...