By: Anis Matta
Sepasang aktivis itu datang menemui
saya dengan mata berbinar. Binar cinta yang bersemi di mushalla kampus
dan dibangku kuliah dan di arak-arakan jalanan demonstrasi untuk
reformasi. Ditengah badai politik itu cinta mereka bersemi.
Tapi
cinta gadis keturunan Arab dengan pemuda Jawa itu kandas. Kasih mereka
tak sampai ke pelaminan. Restu orang tua sang gadis tak berkenan
meneruskan riwayat asmara putih mereka. Tragis. Tragis sekali. Karena
dihati siapapun cinta yang tulus seperti itu singgah, kita seharusnya
mengasihi pemilik hati itu. Sebab itu perasaan yang luhur. Sebab
perasaan yang luhur begitu adalah gejolak kemanusiaan yang direstui
disisi Allah. Sebab karena direstui itulah Rasulullah saw lantas
bersabda, “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh
cinta kecuali pernikahan.”
Islam memang begitu. Sebab ia agama
kemanusiaan. Sebab itu pula nilai-nilainya selalu ramah dan apresiatif
terhadap semua gejolak jiwa manusia. Dan sebab cinta adalah perasaan
kemanusiaan yang paling luhur, mengertilah kita mengapa ia mendapat
ruang sangat luas dalam tata nilai Islam.
Itu karena Islam
memahami betapa dahsyatnya goncangan jiwa yang dirasakan orang-orang
yang sedang jatuh cinta. Tak ada tidur. Tak ada aral. Tak ada lelah. Tak
ada takut. Tak ada jarak. Yang ada hanya hasrat, hanya tekad, hanya
rindu, hanya puisi, hanya keindahan. Puisi adalah busur yang mengirimkan
panah-panah asmara kejantung hati sang kekasih. Rembulan adalah utusan
hati yang membawa pesan kerinduan yang tak pernah lelah melawan waktu.
Dua
jiwa yang sudah terpaut cinta akan tampak menyatu bagaikan api dengan
panasnya, salju dengan dinginnya, laut dengan pantainya, rembulan dengan
cahaya. Mungkin berlebihan atau mungkin memang begitu, tapi siapapun
yang melantunkan bait ini agaknya ia memang mewakili perasaan banyak
arjuna yang sedang jatuh cinta: separoh nafasku terbang/bersama dirimu.
Bisakah
kita membayangkan betapa sakitnya sepasang jiwa yang dipautkan cinta
lantas dipisah tradisi atau apa saja? Tragedi Zaenudin dan Hayati dalam
Tenggelamnya Kapal Vanderwijck, atau Qais dan Laila dalam Majnun Laila,
terlalu miris. Sakit. Terlalu sakit. Karena didalam jiwa seharusnya itu
mustahil. Tragedi cinta selamanya merupakan tragedi kemanusiaan. Sebab
itu memisahkan pasangan suami istri yang saling mencintai adalah misi
terbesar syetan. Sebab itu menjodohkan sepasang kekasih yang saling
mencintai adalah tradisi kenabian.
Suatu saat, Khalifah Al Mahdi
singgah beristirahat dalam perjalanan haji ke Makkah. Tiba-tiba seorang
pemuda berteriak, “Aku sedang jatuh cinta”. Maka Al Mahdi pun
memanggilnya, “Apa masalahmu?” “Aku mecintai puteri pamanku dan ingin
menikahinya. Tapi ia menolak karena ibuku bukan Arab. Sebab itu aib
dalam tradisi kami”.
Al Mahdi pun memanggil pamannya dan berkata
padanya, “Kamu lihat putera-puteri Bani Abbasiyah? Ibu-ibu mereka juga
banyak yang bukan Arab. Lantas apa salah mereka? Sekarang nikahkanlah
lelaki ini dengan puterimu dan terimalah 20 ribu dirham ini: 10 ribu
untuk aib dan 10 ribu untuk mahar.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
PEJUANG GARIS 2: Operasi Kista Endometriosis
Setelah 4 dokter Obgyn memvonis ada kista endometriosis di sebelah kanan dan kiri, maka berbagai usaha dan upaya saya lakukan. Beberapa bula...
-
1. PENDAHULUAN Pembelajaran di Indonesia selama ini masih banyak menggunakan metode konvensional, yaitu metode pembelajaran yang b...
-
Jika anda mengalami kesulitan mempelajari fisika, ada kemungkinan itu tidak mutlak merupakan “kesalahan” anda. Sistem pengajaran fisika kita...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar