Wajahnya murung tanpa sumringah. Lusuh. Tak rapi. Selalu menundukkan wajahnya jika orang-orang lalu-lalang dihadapannya. Mungkin malu atau menyembunyikan guratan dekil di raut mukanya. Agar mereka tak risih dengan keberadaannya.
Diam-diam perhatianku tertuju padanya. Sebab, pagi-pagi buta dia sudah duduk dengan menenteng kantong plastiknya. Terkadang sekarung sampah juga berjejer disebelahnya. Dia terus mengibas-ngibas celana kumuhnya, dengan jemari yang kotor dan kasar tentunya. Masih duduk hingga senja menyapa.
Kali ini ada yang beda dalam pandanganku. Dia tak hanya mengutip sampah-sampah berserakan. Tapi, ada selembar brosur yang menengadah lewat tangan-tangannya yang mungil itu. sorotan matanya begitu tajam, seolah ingin menerkam lembaran yang dibacanya. Tiba-tiba matanya sayu dan memelas. Dapat kupahami, ia ingin seperti kami. Ya.. dia ingin juga belajar mengenyam pendidikan negeri ini. negeri yang mungkin baginya menyuguhkan kekejaman. Sebab, tak diizinkan ia mengecap kenikmatan. Sedikit saja. Pilu.
Dia pemulung remaja berjaket merah. Tubuhnya ringkih, namun berkulit putih. Tetap saja terlihat jelas wajahnya. Walau topi selalu bertengger di atas kepalanya. Ahh… aku mulai iba. Mungkinkah dia bisa mencapai apa yang dicitakannya? Doaku akan selalu tersisa untukmu, Dik…
*Pemulung berjaket merah di sudut Jalan Ganesa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
PEJUANG GARIS 2: Operasi Kista Endometriosis
Setelah 4 dokter Obgyn memvonis ada kista endometriosis di sebelah kanan dan kiri, maka berbagai usaha dan upaya saya lakukan. Beberapa bula...
-
1. PENDAHULUAN Pembelajaran di Indonesia selama ini masih banyak menggunakan metode konvensional, yaitu metode pembelajaran yang b...
-
Jika anda mengalami kesulitan mempelajari fisika, ada kemungkinan itu tidak mutlak merupakan “kesalahan” anda. Sistem pengajaran fisika kita...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar